“Ini—” “Telepon seluler. Kamu bisa membawanya kemana pun dan menghubungi siapa pun yang kamu mau dari mana pun.” “E-eh?” Dara melongok apa yang ada di dalam bungkusan itu. Sebuah telepon tanpa kabel yang jelas hanya dirinya lihat di iklan-iklan, sama sekali tidak membayangkan akan melihatnya secara langsung. Bagaimana pun, benda itu jelas benda yang mahal, yang hanya dimiliki orang-orang seperti Tuan Park dan yang juga selevel dengannya. “Gunakan itu sebanyak yang kamu mau untuk menghubungi keluargamu di Indonesia, kamu pasti akan lebih banyak butuh teman bicara karena di sini kamu hanya seorang diri.” Dara menunduk, menggenggam apa yang diterimanya itu lebih erat. “Ya, terima kasih, Tuan.” Ucap Dara, gadis itu tersenyum tanpa dirinya sendiri sadari. Hatinya rasanya hangat mendengar

