Chapter 8

1159 Kata
“Aku pada akhirnya sudah menyetujuinya setelah perdebatan panjang kita selama kurang dari setahun belakangan, tapi kamu bahkan belum mengatakannya pada Dara mengenai seluruh rencanamu ini? Yeobo, kamu benar-benar sudah hilang akal sehat atau—” “Tidak, Yeobo. Aku masih waras, tentu saja aku masih waras.” “Lalu apa maksudmu kamu menyetujuinya sementara Dara bahkan belum tahu soal hal ini?!” Miran menggaruk dahinya, memiringkan posisi duduknya agak lebih condong ke arah Taehyun. “Yeobo, dengar. Aku memang berencana membujuk kamu terlebih dulu sebelum membujuk Dara nanti, karena menurutku membujuk kamu jelas lebih sulit dibandingkan siapa pun. Lihat, bahkan setelah semua yang aku lakukan kamu baru menyetujui untuk melakukan hal ini setelah hampir setahun kita memperdebatkannya, kan? Kalau soal Dara—” “Maksudmu, Dara lebih mudah untuk menerima ide tidak masuk akal ini? Padahal dia jelas-jelas orang luar yang tidak tahu menahu mengenai masalah rumah tangga kita.” “Yeobo…” Miran mencoba membuat suaminya itu mengerti. Sebenarnya posisi Miran juga serba-salah, sebab dari semua wanita, Taehyun justru setuju melakukannya dengan wanita yang sama sekali belum Miran persiapkan. Menurut Miran, mendapatkan persetujuan dari keduanya tentu sulit, namun lebih sulit suaminya karena pria itu sudah lama selalu menolak rencana ini, sementara membujuk Dara? Entahlah, Miran hanya berbekal firasat bahwa gadis itu akan menerima tawarannya karena ada hal besar yang Miran tawarkan dan Dara mungkin memiliki kecenderungan berat jika menolaknya. Sebab menurut Miran, apa yang ditawarkannya itu bisa jadi menjadi salah satu tujuan besar yang ingin Dara capai. “Dara itu ingin melanjutkan dan menyelesaikan kuliahnya, Yeobo. Dia juga memiliki banyak tanggungan di Indonesia. Panti asuhan tempatnya tumbuh diambil alih secara tidak adil oleh sekelompok orang, dan dia bercita-cita untuk mendirikan satu tempat baru untuk anak-anak sepertinya dan adik-adiknya yang dititipkan ke beberapa panti lain.” Taehyun terdiam. Setelah sejak tadi emosinya naik, mendengarkan penjelasan Miran membuatnya sedikit takjub. Takjub dengan cerita yang didengarnya, takjub juga dengan kenyataan bahwa istrinya sudah mencari tahu sejauh itu. “Kamu benar-benar…” “Mencari tahu mengenai Dara sampai ke akar-akarnya. Aku tahu itu konyol, tapi aku harus melakukan itu untuk memastikan kita tidak memilih wanita yang salah untuk mengandung anak kita.” Yah, itu bisa dibenarkan, sebab Miran juga melakukan hal sama dengan para calon ibu pengganti yang lain. “Lalu, bagaimana caranya kamu membujuk Dara? Dan bagaimana juga kamu yakin dia akan menerimanya?” “I-itu urusanku, Yeobo. Biar aku urus semua dan akan aku kabari kalau memang semuanya sudah beres.” Taehyun sebenarnya tidak puas dengan jawaban Miran, tapi untuk saat ini mendebatnya pun rasanya percuma, sebab Miran jelas belum memiliki jawabannya. Pada akhirnya Taehyun menyerah—setidaknya untuk saat ini, mencoba untuk mempercayai sang istri dan menyerahkan soal itu pada Miran. Toh yang bersikeras melakukan semuanya sendiri juga Miran, kan? Ingin membantu pun Taehyun tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan, dan mungkin itu hanya akan memperumit pikiran Miran saja. Mobil yang Taehyun kemudikan kembali berjalan di jalan raya, seperti yang mereka sepakati pergi ke restoran di mana mereka bisa makan dengan santai dan menikmati semuanya tanpa harus ada beban pikiran yang selama ini mereka pikul. “Ngomong-ngomong, apa aku boleh tanya satu hal?” Miran kembali bersuara, menatap suaminya yang tengah mengemudi. “Apa?” “Apa… kalau aku gagal membujuk Dara, kamu akan membatalkan kesediaanmu juga? Maksudku, kamu sungguh tidak ingin mencoba untuk mengenal wanita-wanita lain yang profilnya sudah aku serahkan padamu? Maksudku—tidak harus Dara, kan? Kenapa rasanya kamu hanya bersedia jika Dara yang melakukannya?” Itu bukan satu pertanyaan, melainkan banyak sekali pertanyaan meski topiknya memang satu. Miran menunggu suaminya yang tidak langsung menjawab, terdapat jeda hingga akhirnya pria itu bicara. “Aku hanya ingin membungkam sebanyak mungkin mulut yang kemungkinan menyebarkan hal ini ke publik.” “Eh?” “Dia itu orang asing, Miran. Keberadaannya di negara ini tidak selamanya. Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi dan dia berusaha untuk mengungkap yang sebenarnya, tidak akan ada yang berpihak padanya karena orang-orang negara ini jelas akan lebih berpihak pada kita. Semuanya akan lebih aman, dibanding kita memilih seseorang yang juga dari negera ini. Meski kita bisa membungkam mereka sekalipun akan ada saja orang-orang yang mencoba memperjuangkan apa yang sebenarnya terjadi.” Taehyun sebenarnya bukan berniat buruk. Pria itu hanya benar-benar ingin mencari aman, mencari ketenangan dalam hidupnya bukan hanya saat ini, tapi juga untuk ke depannya, untuk bertahun-tahun yang akan datang. “Yeobo…” Miran tampak berkaca-kaca, wanita itu sepertinya terharu. “Aku tidak tahu kamu bahkan sudah berpikir sejauh itu.” Taehyun menarik napas kemudian menghembuskannya pelan. “Dan aku sebenarnya juga menjaga perasaanmu, Miran. Aku pikir potensimu untuk cemburu pada wanita-wanita pilihanmu itu lebih besar karena mereka jelas cantik-cantik dan satu ras dengan kita. Sementara Dara? Yah, Dara juga cantik, pintar, berprilaku baik maka dari itu kamu setuju untuk memilihnya, kan? Tapi entah kenapa aku merasa dengan memilih dia rasa cemburumu akan jauh lebih kecil atau bahkan mungkin tidak ada. Alasannya kenapa, silakan tanya pada dirimu sendiri. Karena aku mengukurnya hanya berdasarkan firasat.” “Yeobo…” “Maka dari itu kalau kamu tanya apa aku akan menerima jika itu bukan Dara, bisa saja. Tapi kamu pun harus memastikan bahwa resiko yang kita terima sama atau bahkan lebih rendah dibandingkan jika kita memilih Dara.” Sampai di situ Miran merasa tidak perlu memerlukan penjelasan lagi dari suaminya. Dia sudah puas dengan jawaban Taehyun. Sekarang, yang perlu Miran lakukan hanya perlu meyakinkan Dara untuk membantu mereka. *** “Dara akan kirimkan uang yang Dara miliki sekarang, Bu. Asal Ibu berobat dan harus tetap sehat. Ada beberapa adik yang masih bergantung pada Ibu, kan? Ibu harus tetap sehat sampai Dara bisa pulang. Maaf karena Dara tidak ada di sisi Ibu sekarang. Padahal seharusnya Dara yang menjaga Ibu di saat seperti ini.” “Tidak, Nak… Jangan bicara seperti itu. Ibu minta maaf karena adik-adik malah mengabarimu. Kamu pasti sedang sibuk dengan perkuliahan dan skripsimu, kan? Tapi karena masalah Ibu kamu malah jadi pusing.” “Apa maksud Ibu masalah Ibu? Ibu sakit jelas masalah untuk kami semua. Pokoknya Dara akan kirim uang sekarang, dan begitu uangnya sampai, Ibu harus ke rumah sakit! Dara akan cek ke adik-adik nanti apa Ibu benar-benar berobat atau tidak.” “Dara…” “Dara tidak bisa bicara lama-lama dengan Ibu, karena ini panggilan internasional, dan—” Dara tidak bisa meneruskannya, mengatakan bahwa dirinya menelepon menggunakan telepon tempatnya bekerja. Tidak. Dara tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sedang bekerja dan cuti kuliah karena beasiswanya dicabut. Dara sungguh tidak bisa mengatakannya. “Maaf, Bu. Dara benar-benar harus menutup teleponnya sekarang, nanti Dara akan email secepatnya kalau Dara sudah mengirimkan uangnya pada Ibu ya.” Kalimat terakhir yang Dara dengar dari Ibu panti yang sudah seperti ibunya sendiri adalah permintaan maaf, tentu dengan ucapan terima kasih yang juga tak henti-henti dikatakan. Dara tidak bisa membalas apa-apa, karena dirinya tidak ingin menangis dalam sambungan telepon itu. Ya Tuhan… apa lagi ini? Setelah semuanya, Dara merasa cobaan yang datangnya padanya tidak berhenti-berhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN