Setelah urusannya selesai, Reina pun memutuskan untuk pulang dengan mengayuh sepedanya. Ditengah jalan Reina teringat dengan Ayah dan ibunya.
"Ayaahhh.. Ibu... Reina kangen", ucap Reina .Tak terasa mata Reina mulai mengembun dan mengeluarkan bulur bulir air mata.
"Reina capek yah,rasanya Reina udah gak sanggup lagi, ayahh ibuu", ucapnya sedikit teriak. Tiba tiba kepala Reina kembali terasa pusing, dan penglihatannya pun mulai gelap. Reina tak sadarkan diri hingga terjatuh dipinggir jalan. Rendi yang melihat Reina tergeletak dipinggir jalan pun langsung menghentikan mobilnya.
"Reinn.. Reina.. bangun Reinn", ucap Rendi sambil menepuk nepuk pipi Reina lembut. Reina yang bangun langsung membuat Rendi menggedongnya dan memasukkan kemobilnya. Rendi membawa Reina ke rumah sakit.
***
Setelah beberapa jam Reina pun mulai mengerjapkan matanya dan melihat Rendu sedang tertidur sambil menggenggam tangan nya.
"Ren..", panggil Reina sambil mengelus rambut Rendi perlahan. Rendi pun mulai terbangun dari tidurnya.
"Reinn, lu udah sadar", ucap Rendi langsung berdiri dari duduknya.
"Gue dimana, kenapa gue diinfus gini", tanya Reina lirih.
"Tadi gue gak sengaja liat lu pingsan dipinggir jalan, terus gue bawa kesini, kata dokter lu kecapean, dan lu harus istirahat beberapa hari disini", jelas Rendi
"Makasih ya udah nolongin gue, tapi gue mau pulang aja, gue udah gak kerja biaya rumah sakit pasti mahal", jawab Reina seraya mendudukkan tubuhnya dan bersandar.
"Lu tenang aja, biaya rumah sakit udah gue tanggung, lu istirahat aja dulu", ucap Rendi.
"Tapi Ren..", belum selesai Reina bicara bibirnya sudah dibungkam dengan jari telunjuk Rendi.
"Sssst.. udah lu istirahat aja, gak usah mikir macem macem lagi, okey", ucap Rendi menenangkan Reina.
"Sekali lagi makasih yaa,, gue janji gue bakal cari kerja dan bakal ganti uang lu untuk bayar rumah sakit ini", ucap Reina.
" Gak isah diganti Rein, gue ikhlas kok nolong lu. Gue juga minta maaf gara gara Siska lu jadi dipecat dari kafe itu", ucap Rendi yang dibalas anggukan dari Reina yang tersenyum kepadanya.
"Dilihat lihat Reina lebih cantik jika tersenyum begini daripada harus marah marah + jutek", gumam Rendi dalam hati.
"Oh iya Rein, maaf ni ya gue mau tanya, lu kenapa sekolah sambil kerja?", tanya Rendi penasaran.
"Yah kalo gue gak kerja, siapa yang mau biayain gue sekolah, sapa yang mau ngasih gue makan, jadi gue barus kerja lah", ucap Reina sambil menahan airmata nya keluar.
"Maaf lagi ni ya, Orang tua lu??", tanya Rendi kemudian.
"Orang tua gue udah meninggal Ren karna kecelakaan, dan gue tinggal sama bibi gue, tapi saat suami bibi gue di PHK dan mereka juga harus membiayai dua anaknya yang juga sekolah, jadi gue memutuskan untuk ngekos sendiri dan belajar menjadi wanita yang mandiri. Awal mula susah.. susaaaah banget", ucap Reina hingga tak terasa airmatanya mulai menetes. Lalu tersadar..
"Maaf ya Ren, gue jadi curhat sama lu", ucap Reina sambil menyeka airmatanya.
"Gak pa pa Rein, gue minta maaf ya selama ini gue slalu ngusilin lu", ucap Rendi menyesali perbuatannya tempo hari. Reina hanya menggeleng sambil tersenyum karna tidak bisa berbicara.
"Lu mau gak temenan sama gue?", Tanya Rendi.
"Lu gak salah, lu demam yaahh", jawab Reina sambik terkekeh kecil.
"Apaan si lu, gue gak sakit yang sakit tu lu, liat tangan lu yang diinfus bukan tangan gue", Balas Rendi sambil ikut terkekeh geli.
"Emang lu mau temenan sama gue, gue itu miskin, gue gak punya apa apa, gak takut lu gue porotin", Jawab Reina
" Serius nih gue mau temenan sama lu, lu nya mau gak temenan sama, secara gue kan selalu jahat sama lu", Ucap Rendi merasa bersalah. Reina yang melihat wajah Rendi lalu memegang pundaknya.
"Ren, gue udah nganggep lu temen kok,tanpa lu minta gue udah anggap lu temen", ucap Reina membuat Rendi melihat wajah Reina dan tanpa sadar memeluk Reina. Detak jantung mereka pun berdegub kencang menandakan ada perasaan lebih dari teman diantara mereka. Rendi yang tersadar pun langsung melepas pelukan itu dan mereka tersenyum malu.