bagian 2

1126 Kata
Gadis cantik berseragam osis dengan cardiga warna merah maroon, sedang berjalan kaki. Zilya berangkat sekolah dengan berjalan kaki, tak diberi uang saku sepeserpun. Bahkan, sarapanpun tak diperbolehkan. Zilya berusaha kuat. Menganggap, semua lumrah ia dapatkan. Kejadian semalam, membuatnya dihukum oleh kedua orang tua Zilya. Zilya pikir, semua memang kesalahannya. Karena tangan sialnya. Namun, hatinya nyeri ketika mengingat perkataan sang ayah. "Kamu memang gak bisa diandalkan. Kapan, kamu bisa sembuh, dan berhenti menjadi pengacau?" "Mulai besok, jangan pernah perlihatkan tangan terborgol itu di hadapan banyak orang. Atau, jangan pernah pakai borgol itu lagi. Saya malu!" "Berulang kali, wali kelasmu menghubungi saya. Tentang, ketidakbolehan kamu membawa borgol. Tapi, kamu ngeyel! Kenapa tidak home shool, saja?" Iya benar, Wali kelas Zilya selalu menegur dirinya, agar tak membawa atau memakai borgol. Namun, bagaimana lagi? Dengan borgol, dirinya tidak akan melukai orang lain. Namun, kenapa? Semua seperti tak berpihak pada dirinya? Sedih? Jelas. Berulang kali Zilya mendapatkan perlakuan yang tidak baik secara batin. 10 menit lagi, Zilya akan terlambat. Ia benar-benar tak memiliki uang untuk menaiki angkotan umum. Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk lari. "Aku harus kuat!" Di lain sisi. Rara, beserta kedua temannya melihat seorang gadis yang berlari tergesa-gesa. Seperti mengenal perawakan tubuh gadis itu. "Rel, itu kaya Zilya? Coba kejar!" perintah Rara. Kini jarak mereka berdekatan. Rara membuka kaca mobil, dan benar. Itu adalah Zilya. "Hey, tahanan. Ngapain lari-lari begitu?" ledek Rara. Sedangkan Zilya tak ada niat untuk menjawab. "Kayaknya ada yang beda, nih. Tumben banget kamu pake cardi? Oh... Buat nutupin, ya? Biar gak dikatain tahanan? Hahahaha." "Bukan urusan kalian!" bentak Zilya. Hal itu membuat Rara murka, dan semakin benci Zilya. "Liat aja kamu! Aku tunggu di kelas," ancam Rara. Sebelum pergi meninggalkan Zilya. Zilya tak peduli dengan ancaman Rara. Yang ia prioritaskan saat ini adalah, bagamana caranya agar tak terlambat sekolah. Sesampainya di sekolah Zilya langsung masuk ke ruang BP, untuk meminta sirat izin agar di izinkan untuk masuk, dan mengikuti pelajaran. "Kamu tumben telat?" tanya Bu Kristin selaku guru BP di kelas Zilya. "Iya, bu. Saya kesiangan," jawab Zilya bohong. Setelah mendapat surat izin, Zilya langsung bergegas ke kelas. Beruntung belum ada guru masuk. Yang artinya, pelajaran belum dimulai. **** Di kelas, Zilya mendapatkan pemandangan yang tak menyenangkan. Tempat duduknya, banyak terdapat permen karet. Zilya tak tahu, siapa yang melakukan ini semua. Zilya hanya bengong, memandangi bangkunya yang tak layak diduduki. Sedangkan, semua teman-teman kelasnya, hanya diam. Menatap Zilya sebentar, kemudian acuh. Gadis itu menghela napas. Berusaha sabar. Ia memutuskan untuk membersihkan tempat duduknya. Rara mendekati Zilya, dan berbisik,"Itu akibatnya, jika berani nantang aku." Dan... Saat itu juga, Zilya menyadari. Bahwa, Rara-lah yang melakukan ini semua. "Kamu kenapa, sih? Sensi banget sama aku?" tanya Zilya dengan nada pelan. Rara hanya tersenyum sinis. Rara memutari tubuh Zilya, sambil menyentuh baju yang Zilya kenakan. "Gaes... Sekarang, gadis tahanan ini udah tanpa borgol," ucapan Rara membuat perhatian para murid. Zilya menatap Rara, dengan tatapan waspada. Entah kenapa, perasaannya berubah menjadi buruk. "Kalian gak penasaran? Apa yang tersembunyi di dalam sini?" Rara mulai menarik cardiga yang Zilya kenakan. Zilya menepis tangan Rara, dan segera menjauh. Namun, kalah cepat dengan gerakan Aurel, dan Vina. Dua perempuan itu menahan tubuh Zilya. "Lepasin!" teriak Zilya. Namun, tak digubris. Rara memulaikan aksinya, dan membuka cardiga gadis malang itu. Dan... Hasilnya membuat semua orang menatap aneh, ada yang tertawa, dan ada yang melebarkan mulutnya hingga membentuk huruf O. Zilya menangis, rahasianya terbongkar. "Ya ampun. Kamu pake ini buat ngiket tangan?" tanya Rara, ketika membuka cardiga Zilya. Yang, ternyata tangan Zilya diikat menggunakan rafia, yang tersusun rapi, kemudian ia ikatkan dibagian ikat pinggangnya, lalu menutupi dengan cardiga. Hal yang dilakukan Zilya tidak akan nampak, jika dilihat sekelebat mata. Namun, akan terlihat jelas jika diperhatikan. Kini Rara berulah lagi, gadis itu mengambil gunting, dan memotong tali rafia, yang melilit tangan Zilya. Mata Zilya menatap waspada tangan kirinya. Berharap, semoga tangannya tak berulah kali ini. Namun, sialnya, nasib baik masih enggan berpihak pada Zilya. Kini, tangan kirinya malah menjambak rambutnya. Semua orang yang melihat, tertawa terbahak. Pantaskah? Kekurangan seseorang ditertawakan? Pantaskah, kekurangan seseorang dipermainkan? Zilya menangis menahan malu. Kenapa? Semua orang sangat jahat? Apa salahnya? "Kalian semua jahat!" Zilya berlari. Tangan kanan mencoba menahan tangan kirinya. Menjauh dari semua orang yang sudah mempermainkan, bahkan menertawakan dirinya. Namun, Zilya tak tahu. Bahwa ada seseorang yang mengikuti dirinya. ***** Zilya menangis, di dalam ruangan musik yang sunyi. Tangisnya begitu mengenaskan. Siapapun yang mendengar, pasti akan merasa kasihan. Laki-laki menggunakan seragam osis. Masuk, ke ruangan itu. Berjalan dengan hati-hati. "Kamu kenapa?" tanyanya lembut. Baru kali ini Zilya mendengar suara selembut itu. Hal itu membuat Zilya menatap, laki-laki yang kini ada di depannya. "Kamu siapa?" tanya Zilya. Laki-laki yang memiliki nama Zada Alfaza itu merasa takjub. Karena, baru kali ini ada seorang perempuan yang tak mengenal dirinya. Zada Alfaza, kelas XII IPA 1, murid laki-laki yang terkenal, karena tampan, dan kepintarannya. "Aku Zada," jawabnya. Zada mengusap pipi Zilya. Namun, tangan kirinya malah menepis kasar. Hingga, tangan Zada tertepis ke lantai. "Maaf, kak. Itu bukan aku," ujar Zilya. Kemudian pergi lagi, meninggalkan Zada. Takut, jika tangan Aliennya semakin berulah. Mungkin, hari ini Zilya harus membolos. Untuk menenangkan pikirannya yang kacau. ***** Zilya berjalan lesu, sambil menunduk. Tenagannya kali ini sangat terkuras. Seperti tak ada semangat hidup. "Dari mana aja, kamu?" tanya Papa. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir gadis cantik itu. Ia menatap sang ayah, kemudian pergi ke kamarnya tanpa menjawab. "Guru kamu telpon. Katanya tadi kamu bolos. Benar-benar anak bodoh, dan merugikan." Lagi-lagi perkataan Papa selalu membuat Zilya sakit hati. Sekuat mungkin ia menahan air matanya, agar tak luruh. Gadis itu turun, dan menghampiri sang ayah. "Sekali lagi kamu bolos! Jangan pernah kamu ijakkan kaki di rumah ini lagi!" bentak Papa. "Begini ya nasib Zilya? Gak di rumah, gak di sekolah. Selalu dimusuhin." "Itu karena kamu salah! Dan gak berguna, kamu itu ca---" ucapan Papa terhenti, karena Zilya memotongnya. "Cacat? Itu maksud papa, kan? Iya, Zilya tau, kok. Pantes, semua orang di bumi ini gak ada yang mau nerima kekurangan Zilya." Papa terdiam. "Kenapa semua orang gak ada yang bisa ngerti? Gak ada yang nyemangatin Zilya. Semua hanya bisa ngomong, dan maki-maki. Tanpa, tahu, apa yang dirasain Zilya. Tanpa tahu, Zilya sedang merasa apa? Dan, Kesulitan apa yang Zilya hadapi." "Hidup Zilya udah berubah. Papa, dan mama udah gak peduli. Semua orang gak peduli. Dan, jahat." Zilya berlari menaiki anak tangga dengan ritme yang cepat. Air matanya sudah banjir. Ia lelah dengan hidup ini. Tak ada satupun orang yang mau berpihak pada dirinya. "Aku benci!" teriak Zilya, terdengar seisi rumah. ****** Jujur ya, aku nangis nulis part ini. Ngerasa sedih banget. ??? Give me vote, and Komen. Thanks. Satu vote dari kalian, bagian dari semangat aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN