Matahari pagi mulai menyeringai, hadirnya malu-malu karena hujan masih gemercik di luar sana sejak semalam. Reval menyibak gorden, menikmati rintik nan syahdu. Dari balik kaca buram itu dia menyaksikan tiap tetes air menerpa bangunan-bangunan yang tampak mengecil dari apartemennya. Entah, matahari menyeringai, tetapi hujan turun. Mungkin ini yang disebut panas tak berarti membakar. Sepertinya hati Reval saat ini, sakit tetapi tak bisa berlaku jahat terhadap orang yang menyakiti. Reval memutuskan keluar kamar, jam di dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Namun, cuacanya memang agak susah ditebak, sebentar panas, sebentar hujan. Reval kedinginan, dia memutuskan membuat teh untuk menghangatkan tubuh. Pemuda ini baru ingat kalau dia tak sendiri, ada Syeril di apartemennya yang mungkin mas

