"Berhenti! Sudah cukup, kamu membuat calon istriku menderita!" erang Nalendra, dengan nada penuh kemarahan. Dia menggenggam pergelangan tangan Susi sangat erat, matanya melotot dan garis bawah matanya merah.
"Nalen," ucap Amel lirih. Tak menyangka kalau Nalendra datang untuk menyelamatkannya.
Ekspresi Susi pun tidak kalah terkejutnya dengan Amel.
Nalendra melepaskan tangan Susi dengan kasar. "Apa kau tidak merasa malu, ah? Demi uang yang tak seberapa, seorang ibu yang seharusnya menyayangi anaknya, malah menyiksanya hingga tak berdaya!"
Suara Nalendra bergetar. Dia mengepalkan tangan kanannya. Seandainya yang ada di hadapannya sekarang, seorang pria, sudah tentu dia akan langsung memberikan pukulan keras. Sayangnya, yang dia ajak bicara, seorang wanita. Nalendra tidak bisa menyakiti wanita, meskipun kelakuan wanita itu lebih pantas disebut hewan liar, ketimbang manusia.
Nalendra pun membantu Amel untuk kembali sendiri.
"Hei, memangnya kau tahu apa, tentang keluarga ini?" Kini giliran Susi yang melebarkan matanya. Menatap nanar Nalendra, tanpa rasa takut.
"Dia ..." Susi menunjuk Amel yang dipapah oleh Nalendra.
"Dia, hanya benalu di rumah ini. Selama Ayahnya masih hidup, dia selalu membuat susah ayahnya. Bahkan sekarang pun, dia tidak mampu memberikan uang yang banyak untuk keluarga ini!" seru Susi demikian.
Nalendra mengepalkan kedua tangannya. Benar-benar lawan bicaranya kali ini keras kepala. Bahkan watak Susi lebih keras dari sebongkah batu di tepi kali.
"Ayo, Sayang! Sebaiknya kita pergi saja dari rumah terkutuk ini."
Nalendra yang sudah tidak tahan pun, lantas mengajar Amel untuk pergi. Tidak ada cara lain. Baru beberapa menit ada di sini, Nalendra sudah merasa seperti di dalam penjara. Aura negatif di sini terlalu kuat.
"Hei, kalian! Mau pergi kemana kalian!" teriak Susi setelah Nalendra dan Amel melangkah pergi. Namun, kedua insan itu tidak menggubris panggilan tersebut. Nalendra tetap memapah Amel untuk segera meninggalkan bangunan, yang tidak pantas disebut rumah.
"Jadi, begitu sikap kamu sekarang?" Susi sengaja menggantung kalimatnya, menunggu tanggapan Amel. Dia begitu yakin, kalau Amel akan berbalik badan, mengingat rumah ini sangat berarti bagi gadis mungil itu.
"Baiklah. Besok, aku akan menjual rumah ini. Dengan begitu, kamu akan kehilangan harta yang paling berharga bagi keluarga ini!"
Langkah Amel pun terhenti di ambang pintu. Ketika Susi mengatakan akan menjual rumah ini, saat itulah bayangan kedua orang tuanya kembali hadir.
Kepingan puzzle masa lalunya, langsung mengisi pikirannya. Nalendra masih mendekap sang kekasih.
"Jangan kamu dengarkan perkataannya, Sayang. Percayalah, padaku! Semuanya akan baik-baik saja. Wanita j*****m itu, tidak akan bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Percayalah!" ucap Nalendra, mencoba meyakinkan Amel.
"Tapi, aku takut, rumah ini benar-benar di jual." Amel menatap Nalendra dengan Maya berkaca-kaca. Suaranya lirih.
"Aku akan pastikan, rumah ini akan tetap menjadi milikmu, Sayang. Ini adalah janjiku." Nalendra berkata dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun di dalam hatinya.
Bagi Nalendra, mempertahankan rumah ini, tidaklah sulit. Dia sudah memiliki rencana yang tidak Amel ketahui.
"Baiklah. Aku percaya sama kamu, Nalendra."
Pria dua puluh lima tahun itu, tersenyum lembut. Dia mengusap pipi Amel, sebelum akhirnya mengajak Amel untuk segera meninggalkan rumah ini.
Sementara itu, Susi tampak sangat kesal dan marah. Dia menghentakkan kakinya beberapa kali dan meneriaki Amel serta Nalendra.
Pupus sudah harapannya untuk memiliki banyak uang, dari hasil menjual cincin berlian milik Amel. Kenyataannya, cincin berlian itu, tidak berada di tangan Amel.
Susi sudah memesan banyak barang di beberapa platform belanja online. Dia sangat yakin akan mendapatkan uang puluhan mungkin ratusan juta. Sehingga dia berani untuk belanja.
"Awas kamu, Amel. Hari ini kamu menang. Lihat saja besok! Aku akan membuat kamu menangis."
Susi sudah bertekad, untuk menjual rumah milik mendiang almarhum suaminya. Kendati rumah ini terkesan sederhana, tetapi harga untuk bisa memiliki rumah ini, tidaklah murah.
***
Sesampainya di rumah.
"Bi Ayu!" teriak Nalendra, setelah membantu Amel untuk duduk di sofa, terlebih dahulu.
"Iya, Den. Ada apa?" Wanita empat puluh lima tahun itu, berjalan tergesa-gesa, menghampiri Nalendra.
"Tolong ambilkan air, Bi. Sekalian siapkan kamar untuk Amel. Malam ini, dia akan menginap di sini," pinta Nalendra demikian dan langsung mendapat anggukan dari wanita yang akrab dipanggil 'Bi Ayu' itu.
"Baik, Den. Bibi ambilkan minum dulu," katanya, sedikit membungkuk, kemudian melenggang pergi. Dia tersenyum kecil terlebih dahulu kepada Amel.
Hal tersebut membuat Amel senang. Setidaknya, di sini ia mendapatkan perlakuan baik dan hangat.
Nalendra pun duduk menemani Amel, "gimana perasaan kamu, udah baikan kan?" tanyanya sedikit cemas.
Amel mengangguk pelan. "Iya, aku udah ok, kok. Makasih ya. Kamu selalu ada untuk aku."
"Iya, Sayang. Sama-sama. Aku senang kalau kamu sudah tenang sekarang." Nalendra mengusap lembut pucuk kepala Amel. Dia sedikit tersenyum, untuk menunjukkan perasaannya yang sudah lega.
"Soal rumah, kamu tidak perlu khawatir. Tentu saja aku tidak akan diam saja, melihat ketidakadilan yang kamu dapatkan. Rumah itu, hasil kerja keras orang tua kamu semasa hidup mereka. Jadi, sudah sepatutnya, rumah itu berada di tangan kamu."
Nalendra kembali membahas soal rumah yang hendak dijual oleh Susi itu, lantaran dia melihat ada rona cemas di wajah Amel, yang membuat Nalendra sedikit terusik.
Amel diam. Dia ingin menangis. Namun, sebelum air mata itu benar-benar keluar, Nalendra sudah lebih dulu memeluknya.
"Menangis lah, Sayang. Aku tahu, kamu sudah tidak bisa menahan semua beban ini ..."
"Menangis lah, dalam pelukanku!" pinta Nalendra seraya mengelus kepala Amel hingga ke punggung calon istrinya itu.
Amel yang memang tidak lagi mampu menahan perasaannya, akhirnya menumpahkan semua kesedihannya di dalam pelukan Nalendra.
Pada detik itu juga, Nalendra berjanji pada dirinya sendiri. Setelah ini, dia akan membahagiakan Amel. Menjadikan Amel miliknya sepenuhnya.