Aria Watson merasa seolah seluruh oksigen di dalam ruangan itu tersedot habis. Kakinya mendadak terasa lemas, namun ia memaksakan seluruh urat sarafnya untuk tetap tegang. Ia menolak untuk terlihat lemah, terutama di hadapan pria yang kini menatapnya seperti seekor predator yang telah berhasil memojokkan mangsanya.
"Kau..." Aria berbisik, suaranya serak namun sarat akan ketidakpercayaan. "Kau adalah Dante Moretti."
Dante tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursi kebesarannya secara perlahan. Postur tubuhnya yang tegap dan menjulang tinggi—hampir mendekati 190 sentimeter—menciptakan bayangan dominan yang mengintimidasi saat ia melangkah memutari meja kerja kaca miliknya. Setiap langkah kakinya yang lambat terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi ketenangan Aria.
"Dan kau adalah wanita yang mengacaukan isi kepalaku sepanjang pagi ini, Aria," jawab Dante, suara baritonnya bergetar rendah di udara. Ia berhenti tepat tiga langkah di hadapan Aria, melipat kedua tangannya di depan d**a bidangnya. "Satu malam yang liar, lalu kau kabur dari ranjangku seperti seorang pencuri. Apakah itu caramu memperlakukan pria yang sudah membantumu membalas dendam?"
Aria mengepalkan tinjunya tersembunyi di dalam saku jaket *leather*-nya. Keangkuhan yang biasa ia gunakan sebagai perisai kini ia pasang erat-erat. Ia mendongak, menantang sepasang mata abu-abu yang berkilau berbahaya itu.
"Aku tidak memintamu membantuku, Mr. Moretti. Apa yang terjadi semalam adalah sebuah... kesalahan. Kesepakatan impulsif antara dua orang asing yang saling menguntungkan. Aku mendapatkan pelarian, dan kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Taruhan kita selesai saat fajar tiba."
"Kesalahan?" Dante menyipitkan matanya, auranya mendadak turun beberapa derajat hingga membuat ruangan itu terasa sedingin es. "Kau menyebut malam yang kita lewati sebagai kesalahan?"
Dante maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka. Aria refleks mundur, namun punggungnya langsung menghantam permukaan pintu kayu jati yang keras di belakangnya. Sebelum ia sempat bergeser, kedua tangan kekar Dante sudah menumpu di sisi kiri dan kanan kepalanya, mengunci Aria sepenuhnya di dalam kungkungan tubuh besarnya.
Aroma maskulin cedarwood yang mahal berpadu dengan kehangatan tubuh Dante langsung mengepung indra penciuman Aria, memicu kilasan ingatan tentang bagaimana tubuh kokoh ini menindihnya semalam di atas ranjang sutra. Jantung Aria berdegup bising, berpacu dengan napasnya yang mulai memburu.
"Dengar, Nona Watson," bisik Dante tepat di depan wajah Aria. Jarak mereka begitu dekat hingga Aria bisa merasakan embusan napas hangat Dante menerpa bibirnya. "Di dunia ini, tidak ada satu pun orang yang bisa menggunakan seorang Dante Moretti sebagai alat pelampiasan, lalu pergi begitu saja tanpa membayar harganya. Tidak ada kesepakatan yang selesai sebelum aku yang mengatakannya selesai."
"Aku tidak menggunakanmu!" bantah Aria, meskipun ia tahu suaranya terdengar tidak seyakin sebelumnya. "Aku hanya ingin pergi dari kota ini. Mark dan orang-orangnya mencariku, dan aku tidak punya waktu untuk melayani permainan egomu!"
Dante terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar seksi namun mengerikan di saat yang sama. Jemari tangannya yang besar bergerak naik, menyingkirkan sehelai rambut hitam yang menutupi leher jenjang Aria. Sentuhan kulitnya yang hangat membuat Aria merinding seketika.
"Mark?" Dante menyebut nama itu dengan nada yang sangat meremehkan. "Serangga kecil itu tidak akan bisa menyentuh seujung rambutmu selama kau berada di dalam mansionku. Aku sudah memerintahkan Ryan untuk memburu setiap orang yang bekerja untuknya di kota ini. Pertanyaannya adalah... apa yang akan kau berikan padaku sebagai imbalan atas perlindungan ini?"
Aria menelan ludah, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya. "Aku bisa membayarmu dengan uang. Keluargaku memiliki saham di—"
"Aku tidak butuh uangmu, Aria. Aku memiliki lebih banyak uang daripada yang bisa dihabiskan oleh tujuh turunan keluargamu," potong Dante dengan nada mutlak. Mata abu-abunya bergerak turun, menatap bibir ranum Aria yang sedikit terbuka sebelum kembali mengunci matanya. "Aku menginginkanmu. Aku ingin menyelesaikan apa yang kita mulai semalam."
Aria terkesiap, tangannya refleks mendorong d**a bidang Dante, namun pria itu bahkan tidak bergeser satu milimeter pun. "Kau gila! Aku baru saja membatalkan pernikahanku hari ini! Aku sedang tidak ingin terlibat dalam hubungan apa pun!"
"Siapa yang bicara tentang hubungan?" Dante menarik sebelah tangannya dari dinding, lalu meraba saku celananya. Ia mengeluarkan gelang perak berbandul lili milik Aria dan memakaikannya kembali ke pergelangan tangan kiri Aria dengan gerakan yang posesif. "Kau akan tinggal di sini. Di bawah pengawasanku, di dalam wilayahku. Sampai aku bosan dengarmu."
"Dan jika aku menolak?" tantang Aria, dagunya terangkat angkuh.
Dante menjauhkan tubuhnya sedikit, memberikan Aria ruang untuk bernapas, namun tatapan matanya tetap mengunci wanita itu tanpa ampun. "Jika kau keluar dari pintu mansion ini, aku akan memastikan orang-orang Mark menemukanmu dalam waktu lima menit. Dan setelah mereka selesai denganmu, aku sendiri yang akan menghancurkan apa yang tersisa dari bisnis keluargamu karena telah menolakku. Pilihan ada di tanganmu, Nona Watson."
Aria menatap Dante dengan kemarahan yang membakar. Pria di depannya ini benar-benar iblis berwujud rupawan. Dante tidak memberinya pilihan; pria itu sedang menjeratnya ke dalam sangkar emas yang tidak bisa ia hindari.
Tepat saat Aria bersiap untuk memaki Dante, perutnya mendadak bergejolak hebat. Rasa mual yang teramat sangat tiba-tiba menghantam ulu hatinya, membuat wajahnya yang memerah akibat marah langsung berubah pucat pasi dalam sekejap.
"Aria?" Dante mengernyit, menyadari perubahan drastis pada wajah wanita itu.
Tanpa memedulikan genggaman Dante, Aria mendorong tubuh pria itu dengan sisa tenaganya, berbalik memutar knop pintu, dan berlari kencang menuju kamar mandi terdekat di koridor luar. Ia berlutut di depan wastafel, memuntahkan cairan bening dari perutnya yang terasa diaduk-aduk.
Dante berdiri di ambang pintu kamar mandi, menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu sembari memperhatikan Aria dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan penuh selidik.
Aria membasuh mulutnya dengan air, tubuhnya lemas dan gemetar.