BAB 1: PENGKHIANATAN DAN SATU MALAM

672 Kata
Di sebuah butik pengantin eksklusif di pusat kota, aroma segar dari bunga lili putih memenuhi setiap sudut ruangan yang anggun. Cahaya hangat dari lampu gantung kristal raksasa memantul mewah pada gaun-gaun sutra seharga ribuan dolar yang dipajang di sepanjang dinding. Aria Watson berdiri mematung di depan cermin besar setinggi langit-langit. Gaun lace putih tanpa lengan membalut tubuhnya dengan sangat sempurna. Potongannya yang elegan mengekspos garis bahunya yang indah, sementara ekor gaun yang panjang menyapu lantai marmer dengan anggun. "Kau tampak seperti bidadari, Aria," bisik Maya, sahabatnya sejak bangku kuliah. Maya berdiri di belakang Aria dengan mata yang berkaca-kaca, menatap bayangan sahabatnya dengan penuh haru. "Mark benar-benar pria paling beruntung di dunia." Aria hanya tersenyum tipis. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, mencoba mencari binar kebahagiaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang calon pengantin. Besok adalah hari pernikahannya dengan Mark, seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Mark adalah definisi pria ideal bagi banyak wanita—stabil, mapan, tampan, dan selama tiga tahun ini, selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Namun, di balik senyuman yang ia pamerkan pada Maya, ada kegelisahan kecil yang terus merayap di d**a Aria. Sebuah firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Seharusnya ia merasa bahagia, bukan cemas seperti ini. "Aku hanya berharap semua prosesi besok segera selesai, Maya. Aku ingin memulai hidup baru," jawab Aria pelan, suaranya nyaris seperti bisikan kepada dirinya sendiri. Setelah sesi pengepasan terakhir selesai dan memastikan gaunnya akan dikirim ke hotel tempat mereka menginap besok, Aria memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia sengaja menolak tawaran Maya untuk makan malam bersama. Aria ingin memberikan kejutan manis untuk Mark di apartemen penthouse yang sudah mereka tempati bersama selama satu tahun terakhir. Di tangannya, Aria menjinjing sebuah kotak cantik berisi macarons rasa salted caramel kesukaan Mark dan sebotol sampanye mahal. Ini adalah malam terakhir mereka sebagai sepasang tunangan, dan Aria ingin merayakannya secara intim. Ketika melangkah keluar dari lift dan menyusuri koridor sunyi menuju unit apartemen mereka, alis Aria bertaut. Pintu ganda kayu ek yang kokoh itu tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang membiarkan cahaya dari dalam menyelinap keluar. Apakah Mark lupa mengunci pintu setelah menerima paket? pikir Aria. Pria itu belakangan ini memang sangat sibuk mengurus persiapan pernikahan mereka. Aria melangkah masuk dengan sangat pelan, berniat mengejutkannya dari belakang. Namun, baru dua langkah ia melewati ruang tamu, langkah kakinya mendadak lumpuh. Suara tawa kecil yang genit dan manja terdengar dari arah kamar tidur utama. Diikuti oleh sebuah suara bariton yang sangat, sangat ia kenali. "Sayang, pelan-pelan... Bagaimana jika Aria tiba-tiba datang?" Itu suara seorang wanita. Nada suaranya yang mendesah manja membuat darah Aria mendadak berdesir dingin. Ia mengenali suara itu. Itu adalah Cindy, asisten pribadi Mark yang selalu bersikap sopan dan menunduk hormat setiap kali bertemu dengannya. "Dia sedang di butik, menghabiskan uangku untuk gaun pengantin yang membosankan itu," jawab Mark. Nada suaranya terdengar malas, dingin, dan penuh kejengkelan—sebuah nada suara yang belum pernah Aria dengar selama tiga tahun mereka bersama. Aria terpaku di tempatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat suara Mark kembali terdengar, menembus dinding kamar mereka yang setengah terbuka. "Aria adalah wanita yang baik untuk citra publikku. Dia penurut, polos, dan keluarganya memiliki koneksi yang bagus untuk bisnisku. Tapi kau... kau adalah api yang kubutuhkan, Cindy. Menghadapi Aria di tempat tidur sama membosankannya dengan membaca laporan keuangan." Dunia Aria seakan runtuh dalam satu detik. Detik itu juga, oksigen di sekitarnya seolah lenyap. Brak! Kotak berisi macarons yang dipegangnya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer. Kue-kue cantik berwarna-warni itu hancur berserakan, hancur berkeping-keping, persis seperti hati dan harga diri Aria yang baru saja diinjak-injak tanpa ampun. Suara jatuhnya kotak itu membuat kegaduhan di dalam kamar mendadak senyap. Aria berdiri di sana, dengan tubuh yang bergetar hebat. Namun, ada sesuatu yang aneh. Air matanya tidak menetes. Rasa sedih yang luar biasa dalam sekejap mata terbakar habis, digantikan oleh rasa dingin yang mematikan dan amarah yang bergejolak. Ia tidak menangis. Justru, senyuman dingin dan mengerikan perlahan terukir di bibirnya saat ia menatap pintu kamar yang perlahan bergerak terbuka, menampilkan wajah Mark yang memucat karena terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN