BAB 2: HARGA SEBUAH HARGA DIRI

918 Kata
Mark berdiri mematung di ambang pintu kamar. Kemejanya setengah terbuka, dan di belakangnya, Cindy sibuk menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dengan wajah pucat pasi. Ketakutan jelas tercetak di wajah mereka, namun bagi Aria, pemandangan itu tidak lagi memicu air mata. Rasa sakitnya telah bermutasi menjadi kemarahan yang dingin dan pekat. "A-Aria..." Suara Mark bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mendera. "Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa jelaskan—" "Jelaskan apa, Mark?" potong Aria. Suaranya terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga membuat bulu kuduk Mark berdiri. "Bahwa gaunku membosankan? Atau bahwa aku hanya alat untuk citra publikmu?" Mark terkesiap, menyadari Aria telah mendengar seluruh percakapan mereka. Dengan cepat, pria itu mencoba melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Aria. "Sayang, dengarkan aku. Ini hanya kekhilafan sebelum pernikahan. Aku stres dengan pekerjaan, dan Cindy—" "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu," desis Aria, mundur satu langkah dengan tatapan menjijikkan yang membuat Mark terhenyak. Aria menunduk, menatap cincin berlian yang melingkar di jari manis kirinya. Cincin yang selama ini ia anggap sebagai simbol cinta sejati, kini tak lebih dari sekadar rantai pengikat yang menjijikkan. Tanpa ragu, Aria menarik cincin itu dari jarinya. Cincin mahal itu dilemparkannya begitu saja ke atas lantai marmer, menggelinding di antara reruntuhan macarons yang hancur. "Pernikahan kita batal," ucap Aria final. "Aria, jangan konyol! Besok semua media dan relasi bisnis akan datang! Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja hanya karena ini!" teriak Mark, egonya mulai terusik saat melihat Aria yang biasanya penurut kini berani menentangnya. "Kau akan mempermalukan keluargamu sendiri!" Aria menatap Mark untuk terakhir kalinya, sebuah senyuman dingin terukir di bibirnya. "Oh, aku tidak akan mempermalukan keluargaku, Mark. Aku akan memastikan seluruh dunia tahu siapa b******n yang sebenarnya." Sebelum Mark sempat mencerna kalimatnya atau menahannya, Aria berbalik. Ia meraih tas kecil dan ponselnya di meja konsol, lalu melangkah keluar dari apartemen itu tanpa menoleh lagi. Pintu ganda terayun menutup dengan dentuman keras, mengakhiri tiga tahun ilusi cinta yang sia-sia. Malam semakin larut, dan hujan mulai membasahi jalanan kota. Aria mengendarai mobilnya tanpa arah, hingga pandangannya tertuju pada papan neon besar bertuliskan “VORTEX”—sebuah kelab malam high-end yang terkenal sebagai tempat pelarian kaum elit kota. Aria membutuhkan sesuatu untuk mematikan rasa di otaknya. Ia ingin menghancurkan sosok "Aria yang baik, anggun, dan penurut" yang selama ini diagungkan Mark. Di dalam kelab, dentuman musik bass yang berat bergetar di dadanya, berpadu dengan kilatan lampu strobo yang menyilaukan. Aria melangkah langsung menuju bar, memesan minuman keras dengan kadar alkohol tinggi yang belum pernah ia sentuh seumur hidupnya. Satu gelas, dua gelas, hingga gelas keempat berpindah ke kerongkongannya. Rasa terbakar dari alkohol mulai membakar kesadarannya, namun rasa terhina di dadanya tidak kunjung padam. "Sendirian, Cantik? Mau kutemani?" Sebuah suara berat dan asing terdengar dari sampingnya. Seorang pria dengan pakaian mahal namun tatapan mata yang penuh nafsu mulai mengikis jarak, mencoba menyentuh pinggang Aria. "Pergi. Jangan sentuh aku," usir Aria dengan suara serak, mencoba menepis tangan pria itu, namun kepalanya yang pening membuat gerakannya melemah. "Ayo lah, jangan jual mahal. Wanita sepertimu tidak mungkin ke sini sendirian kalau tidak butuh hiburan," pria itu menyeringai, semakin lancang menarik lengan Aria. "Dia bilang, lepas." Sebuah suara bariton yang dalam, dingin, dan penuh otoritas tiba-tiba memotong kebisingan di sekitar mereka. Aura berbahaya yang pekat mendadak menyelimuti area bar. Pria pengganggu itu menoleh dengan kesal, namun begitu melihat siapa yang berdiri di belakangnya, wajahnya mendadak kehilangan warna. Di sana, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam *custom-made* tanpa dasi. Garis rahangnya tegas, rambutnya hitam legam, dan sepasang mata abu-abunya menatap tajam seperti seekor predator yang siap mengoyak mangsa. Dante Moretti. CEO Moretti Enterprises yang terkenal kejam, dingin, dan tak tersentuh. "M-Mr. Moretti... maafkan aku, aku tidak tahu dia bersamamu," gagap pria pengganggu itu. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mundur dan menghilang ke dalam kerumunan, ketakutan setengah mati pada pria yang bisa menghancurkan hidupnya hanya dengan satu jentikan jari. Aria, yang kesadarannya sudah setengah kabur akibat alkohol, mendongak. Matanya yang sayu beradu dengan sepasang mata abu-abu dingin milik Dante. Di bawah pengaruh alkohol dan rasa sakit hati yang membakar ego, Aria tidak merasa takut. Justru, keberanian yang liar bangkit dalam dirinya. "Kau..." Aria terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga dadanya hampir menyentuh d**a bidang Dante. Jemari lentiknya naik, menyentuh kerah kemeja Dante yang mahal. "Kau tampan. Jauh lebih tampan dari b******n itu." Dante tidak bergerak. Ia menatap wanita di depannya dengan alis bertaut. Biasanya, wanita akan bersikap anggun atau ketakutan di hadapannya, namun wanita misterius ini menatapnya dengan binar kemarahan dan gairah yang nekat. Ada luka yang dalam di matanya, namun tertutup oleh keangkuhan yang menawan. "Kau mabuk, Nona," ucap Dante dingin, meskipun tangannya secara refleks menahan pinggang Aria saat wanita itu sedikit terhuyung. "Aku tidak mabuk," bisik Aria tepat di depan bibir Dante, aroma alkohol berpadu manis dengan wangi parfum lili yang masih tersisa di tubuhnya. Aria mencengkeram kerah kemeja Dante, menantang mata abu-abu itu. "Mereka bilang aku membosankan di tempat tidur. Mau membantuku membuktikan bahwa mereka salah?" Mata Dante menggelap seketika. Sifat posesif dan dominan yang tertidur di dalam dirinya mendadak bangkit dipicu oleh tantangan berani dari wanita asing ini. Dante mencengkeram pinggang Aria lebih erat, menarik tubuh wanita itu hingga tak ada jarak di antara mereka. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau undang masuk ke dalam hidupmu, Nona," bisik Dante dengan suara rendah yang berbahaya. "Sekali kau masuk ke kamarku, aku tidak akan melepaskanmu hingga pagi." Aria tersenyum menantang, menyembunyikan seluruh rasa sakit hatinya di balik topeng keberanian malam ini. "Bawa aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN