"Maafkan saya tuan Rachford." "Kau pikir aku datang ke butik sampah ini untuk mendengarkan kau meminta maaf, hmm?" Hah, mulutnya seperti mulut sampah dan apa dia tidak berpikir kalau kata-katanya sendiri adalah kata-kata sampah? Sejujurnya Rizki yang mendengar omelan Ryuga barusan ingin sekali menyumpal mulut seseorang yang baru saja bicara. Tapi saat ini dia sedang bersembunyi dan dia tidak mau mengarahkan pandangannya ke orang itu demi penyamarannya. Bukankah lebih baik dia tetap diam? "Dan pantas saja butik ini seperti butik sampah karena ada keturunan sampah yang mampir ke sini!" Tapi sayangnya kadang takdir tidak terjadi sesuai dengan kehendak manusia. Rizki sadar siapa yang dimaksud sampah barusan. Pasti dia mengenali Danita yang menatapnya! Orang itu sangat membenci keluarg

