Bully

696 Kata
Pagi itu, aku sudah siap kesekolah. Mama yang biasa pulang ketika shubuh berkumandang sudah selesai menyiapkan sarapanku. sebenarnya besar sekali rasa iba dalam hatiku untuknya, dia adalah tulang punggung penopang kehidupan kami. Meskipun aku tidak tahu bagaimana cara Mama mendapatkan uang, tapi aku tahu Mama selalu bekerja keras demi membahagiakan kami, memenuhi semua kebutuhan kami.  "Mama anterin kamu ke sekolah ya Din," ucap Mama padaku, setelah aku berdiri di ambang pintu. "Nggak usah Mah, aku nggak mau Mama anter." Mama mengernyitkan dahi, mungkin bingung kenapa aku menolak diantar biasanya aku selalu semangat bila hendak diantar kesekolah. "Kenapa?" tanya Mama mendekatiku. Aku hanya menggeleng. tidak mau Mama marah kalau aku berterus terang, aku malu.   "Ya udah, kalau begitu sama Mbak Wida aja." ucap Mama memerintah. Jarak antara sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar lima belas menit bila berjalan kaki. Sebenarnya aku juga berani jika harus berangkat sendiri, tapi Mama selalu mengantarku tanpa ia tahu kadang aku merasa risih dengan tatapan, orang lain di sekolaha pada Mama. Sepanjang jalan aku melihat beberapa gerombolan anak SMA yang sedang menunggu angkot, beberapa di antaranya laki-laki. Mereka bersiul genit dan memanggil-manggil kakakku, sedangkan beberapa anak perempuan yang berdiri tidak jauh dari mereka saling berbisik dan melirik sinis pada kami, kakak tidak merespon hanya berusaha mempercepat langkah kaki. Hingga salah seorang diantara mereka berteriak pada kakakku. "Heh sombong banget sih kamu! minta bayaran berapa nanti malem? dasar pelacur." Wajah kakakku tertunduk, merah padam warnanya dan airmata mengalir di sudut matanya. Aku tidak mengerti dengan semua ini, tapi inilah yang sering terjadi pada kami. aku menggenggam tangannya yang terasa dingin, sedangkan tangannya yang terbebas dari genggamanku sibuk menghapus airmata, kami berjalan lebih cepat hingga sampai di sekolahku. +++ "Tumben Dina yang nganterin kakaknya? Mamanya ngantuk ya habis lembur semaleman!" Pertanyaan dari Ibu seorang temanku, yang lalu disambut tawa beberapa Ibu lainnya. Pertanyaan yang tentunya tidak perlu aku jawab. karena mereka memang selalu begitu, setiap Mama mengantarku ke sekolah Mama selalu langsung pulang tidak ikut bergabung ngerumpi dengan Ibu-Ibu lain seperti mereka, dan selepas kepergian Mama pastilah Mama yang menjadi bahan omongan mereka. Mereka tidak perduli jika aku mendengarnya, mungkin bagi mereka aku hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi semua ucapan mereka terekam jelas diingatanku dan aku tidak suka walaupun aku belum faham betul apa yang mereka katakan.  +++ Aku menangis berjongkok di sudut kelas, dengan beberapa teman mengelilingi dan meledekku. Ada yang tertawa bahkan berteriak padaku. Sampai Bu Indah wali kelasku menghampiri kami. "Ada apa ini anak-anak? kenapa Dina menangis?" Semua temanku hanya diam, tidak ada yang berani menjawab. "Ayo katakan kenapa Dina menangis? kalau semuanya hanya diam, semuanya akan Ibu hukum!" ancam Bu Indah hingga Tyas temanku angkat bicara. "Tadi pensilnya Bayu hilang, Bu, terus Dina mau minjemin tapi Bayunya nggak mau. terus Dina dikata-katain." terangnya dengan takut-takut. "Dikata-katain apa?" selidik Bu Indah. Semua hanya diam tidak ada yang berani bersuara. "Ya udah semua bubar!" Segera teman-temanku membubarkan diri meninggalkan kelas. Aku masih bergeming di tempat dengan tangis yang masih tersisa "Dina, sini sayang. cerita sama Bu Guru ya, mereka bilang apa sama kamu?" tanya Bu Indah lembut, sambil menuntunku untuk duduk di sebuah kursi lalu beliau duduk di sebelahku. Tanganku sedikit gemetar, rasa takut dan malu menguasai diriku, aku hanya menggeleng cepat untuk menjawab pertanyaan Bu Guru. "Nggak apa-apa Dina, kamu nggak usah takut. kamu cerita aja sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa menolong kamu." Bu Indah kembali menyakinkanku, hingga aku berani bercerita. "Aku selalu diledekin, Bu. tadi kata Bayu, dia nggak boleh deket-deket aku sama Mamanya karena Mamaku p*****r," aku bercerita pada Bu indah tapi entah kenapa mendengar kata-kataku mata Bu Indah melotot, aku jadi takut untuk melanjutkan ceritaku. Tapi detik kemudian ia menghela nafas mungkin berusaha menetralkan perasaannya. "Terus?" Bu Indah memintaku melanjutkan cerita. "Tadi waktu di jalan juga ada yang bilang kalau kakakku p*****r, memang p*****r itu apa sih, Bu?" Bu indah menelan saliva mendengar pertanyaanku, beliau tidak menjawab tapi entah kenapa matanya jadi berkaca-kaca? Aku jadi semakin bingung, Bu Indah hanya membelai rambutku lalu memelukku, damai sekali rasanya. Mama memang sayang sama aku tapi Mama selalu marahin aku kalau aku mengajukan pertanyaan yang sama, beda sama Bu indah yang justru malah memelukku. walaupun aku tetap tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN