Daya terbangun dengan lengan Ezra yang memeluknya. Napas hangat pria itu menerpa lekuk leher Daya, membuatnya bergidik sedikit. Belum ingin beranjak dari sisi pria itu, Daya memilih membalikkan badan untuk melihat wajah damai Ezra yang masih terlelap. Disapukan jari – jarinya untuk merasakan kulit wajah Ezra. Dimulai dari kening hingga dagu, bibir Daya melengkungkan senyum menyadari betapa semesta masih berbaik hati pada dirinya dengan mengirimkan Ezra untuk menerima Daya dengan segala kepelikkan yang dia timbulkan sebab masa lalunya. Daya menyisir rambut Ezra yang berantakan hingga hampir menutupi mata, membuat pria itu mendesah nyaman dalam lelapnya. Daya suka karakter mata Ezra yang sipit menjorok ke dalam, ketika terbuka, mata itu mampu memberikan keteduhan meski kadang, mata itu jug

