Dispensasi

1034 Kata
Malam sangat larut, Kate dengan sebelas orang lainnya kini diberikan dispensasi khusus untuk berpamitan ke kesatuannya terdahulu. Kate menerima surat tersebut sambil berjalan gontai. Dia sungguh tidak tahu harus berpamitan seperti apa kepada semua orang di kesatuan sebelumnya itu. Tidak memungkinkan menunda perjalanan pulang, Kate langsung bersiap untuk kembali ke Metropolis. Sambil menenteng tas ranselnya, Kate yang sudah kembali dengan stelan casualnya itu turun dari mess peserta seleksi dengan balutan jaket hitam berlencana khusus yang baru saja didapatkannya. Tidak ada elemen tambahan lainnya, selain sebuah lencana emas yang terpatri di bagian dalam jaket hitam tersebut. Ya ... Jaket itu terlihat polos dari siapapun yang memandangnya. Tidak akan ada yang tahu smapai orang itu melihat bagian dalamnya yang memiliki ukiran nama khusus lengkap dengan lencana emas dan juga nomor identitas si pemiliknya. "Hai! Akhirnya, kau muncul juga!" ucap Wilson menyeru dari luar gerbang sambil melambaikan tangannya. Kate kemudian membalas lambaian tangan Wilson sambil berlari kecil menghampiri pria tersebut. "Selamat!" ucap Wilson sambil menyodorkan tangannya ke hadapan Kate. "Thanks!" jawab Kate sambil tersenyum. Mereka kemudian berjalan kaki meninggalkan gerbang utama Markas DenPasus. Tujuannya satu, yaitu halte bus yang berjarak sekitar lima ratus meter di depan sana. Hening dan senyap. Di sepanjang langkah mereka berdua tidak ada percakapan sedikitpun. Kate dan Wilson saling berdiam. Bukan karena tak ingin bicara, tapi karena bingung harus memulainya dari mana. "Jadi, apa kau juga akan mengganti nomor ponselmu?" tanya Wilson akhirnya membuka percakapan. Kate yang baru saja naik ke trotoar tinggi di mana halte bus berada sejenak bergeming. "Tentu saja, semuanya tak lagi berbekas," ucap Kate menirukan kalimat demi kalimat khas yang menjadi jargon Pasukan Elite bernama Eyes itu. Wilson membuang pandangannya ke kejauhan. Dia tahu, memiliki rekan kerja di pasukan itu sama saja dia memiliki bayangan. Meski ada, tetap tidak bisa dikenalinya. "Aku pastikan akan tetap mengunjungimu," ucap Wilson sambil memberhentikan sebuah bus yang melintas. Keduanya naik ke dalam bus tersebut. "Kekasihku akan duduk di sini," ucap Wilson ketika seorang pria hendak menyalip kursi penumpang dimana mereka akan duduk. "Maaf," sahut si pria tersebut. Wilson kemudian membuka jalan untuk Kate duduk. Begitulah Wilson selama ini, selalu menjaga Kate dengan caranya. Perbincangan keduanya berlanjut, Kate dan Wilson terus tergelak saat mereka membicarakan proses pertemuan mereka selama ini. Bukan hanya tentang mereka, tapi juga mengenai beberapa orang di sekitar mereka tak terkecuali Komandan Choi yang menjadi atasan langsung mereka selama dua tahun ini. "Aku akan merindukan semuanya," ucap Kate akhirnya. "Tentu, tidurlah. Aku akan membangunkanmu saat tiba di Metropolis," ucap Wilson yang telah melihat Kate menguap beberapa kali. Dengan bersandar di pundaknya Wilson, Kate kemudian terlelap. "Dia?" gumam Wilson yang sedari tadi memperhatikan sebuah motor berwarna hitam terus mengikuti bus ini dari belakang. Tidak ada tanda jika pengendara itu akan menyalip bus padahal sangat banyak sekali kesempatan. Sesampainya di Metropolis. Wilson kemudian mengantarkan Kate ke kamar sewanya dan motor itu bahkan masih mengikuti.Wilson kemudian berusaha mencatat plat nomor si pengendara. Tapi saat mengenali plat tersebut bukanlah sebuah plat nomor biasa, dia pun terkekeh sendiri. "Baiklah Kate, aku pamit. Berhati-hatilah. Aku yakin ada yang akan menjagamu di sana seperti aku menjagamu," ucap Wilson sambil tersenyum meski hatinya merasa berat mengatakan hal tersebut. "Thanks Wilson, for everything. Kau selalu saja menjadi pemanduku," ucap Kate tak bisa menutupi rasa harunya kali ini. "Sudah, sana bersiap. Aku harus menuju lokasi TKP baru, jadi aku tidak akan bisa menemuimu di kantor," ucap Wilson. Kate mengangguk, dia pun segera masuk. Wilson kemudian berbalik arah. Dia kembali ke jalan raya di mana si pengendara motor hitam itu berada. "Dia, Kate tidak suka dengan teh hijau, ada sedikit masalah juga dengan kecerobohannya. Tapi aku yakin, dia akan baik-baik saja saat seorang Alaric bersamanya," ucap Wilson dengan tatapan tajam kepada pengendara ber-helm di depannya. Alih-alih menjawab Wilson, pengendara itu justru langsung menancap gas meninggalkannya. Wilson tersenyum tipis sambil berlalu setelahnya. *** "Kate! Aku tidak menduganya, sungguh aku tidak menduga jika kau akan benar-benar lolos.Maafkan aku yang harus kuakui ... saat itu aku mencemooh keinginanmu mendaftar di sana," aku Komandan Choi saat Kate baru saja hendak masuk ke dalam kantor. "Komandan, aku merasa malu dengan sambutan ini," ucap Kate dengan wajah kemerahan. "Jangan merasa tersanjung, beberapa dari kami melakukan ini hanya karena perintah Komandan Choi," ucap Audrey dengan wajah kesal menatap Kate. "Bagaimanapun juga aku ucapkan terima kasih," ucap Kate kembali. "Kami bangga, akhirnya ada juga dari personil kami yang masuk di jejeran EYES," ucap Komandan Choi sambil merangkul pundak Kate untuk masuk menuju ruangannya. Kate melangkah mengikuti. Sejumlah staf yang tengah bertugas pun ikut memberikan selamat kepadanya. Meski hanya berupa lambaian tangan, ini sangat berarti untuk Kate yang merasajika ternyata dia di sini memiliki banyak kenangan yang akan sangat sulit untuk di lepaskannya nanti. Kate kemudian berpamitan dengan sejumlah Komandan Sektor dan beberapa tim Forensik yang sering terlibat dengannya selama bertugas di tempat ini. "Kate, seseorang menitipkan ini pagi-pagi sekali. Aku tidak mengerti cara kerja kalian di EYES, tapi ... perintah mutlak dari stempel resmi ini membuatku tak memiliki wewenang apapun," ucap Komandan Choi saat mereka baru saja masuk ke dalam ruangan kerja wanita itu. Langkah Kate seketika terhenti. "Komandan, adakah hal yang belum aku tahu mengenai EYES?" tanya Kate yang melihat gurat aneh di wajah Komandannya itu baru saja. "Dean, kunci pintu ruanganku dan batalkan semua janjiku siang ini. Aku membutuhkan satu jam secara pribadi dengan Sersan Catherine!" ucap Komandan Choi kepada ajudannya. Sang ajudan langsung mengangguk mengiyakannya. Kate masih berdiri di dekat pintu. "Duduklah," ucap Komandan Choi sambil menatap Kate dengan sangat intens. Jantung Kate berpacu dengan detik yang terasa semakin cepat berdegup. Dia semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Komandannya ini. "Ayahku adalah seorang EYES! Dia ... tak bisa lagi memiliki identitas sejak detik di mana dia menerima lencananya," ucap Komandan Choi sambil meneguk salivanya berulang kali. Kate terdiam. "Usiaku lima belas tahun ketika Ayahku dinyatakan lolos seleksi dan dilantik menjadi salah satu EYES," ucapnya lagi. Kali ini bola mata Komandan Choi semakin tergenang. "Dan sejak itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai ... mereka memulangkan Ayahku," ucap Komandan Choi dengan suaranya yang tercekat parau. Kate semakin bingung. Meski dia mulai menduga apa yang terjadi kepada Ayahnya Komandan Choi tersebut, tapi ... Kate masih belum bisa memastikannya. "Aku ... " ucap Komandan Choi kembali terjeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN