Sere ini entah apa yang membuat suamiku kembali dengan wajah kusut memberengut, garis garis wajahnya tegang dan khawatir. Aku tak banyak bertanya, namun aku bisa melihat berkali-kali ia membuang bapaknya tanda ia sangat terbebani. "Ada apa, Mas kok suntuk? Aku bikinin kopi?" "Ga usah Sarah," jawabnya lesu. "Ada apa, Mas? Katakan sejujurnya,"ucapku sambil mendudukkan diri di sampingnya. "Pengajuan pinjaman ke bank ditolak," ujarnya sedih. "Kenapa kok bisa?" "Entahlah, padahal kemarin udah mau cair tiba-tiba aja ada pemberitahuan kalo pengajuanku direject." Ia menghempas kepalanya ke sandaran sofa. "Kira-kira menurut Mas, kenapa bisa begitu?" "Mungkin Erika yang melakukannya, ia punya banyak koneksi dengan orang-orang bank dan pengusaha, hmmm ... ia membuat hidupku jadi serba sulit

