"Mika adalah Irina dan Lady Airi adalah ibu kandung Mika. Ia memintaku untuk membawa Mika pergi dari Ikaros. Saat itu Mika berumur tujuh tahun. Semua itu harus kami lakukan untuk menyelamatkan Mika dari takdir yang kejam." Ibu Mika menatap sendu.
"Ikaros mempunyai adat pernikahan sedarah untuk mempertahankan kemurnian darah Alezar. Mika harus menikah dengan salah satu saudaranya, bukan?" tebak Lord Aegis.
Sudah lama Ikaros menjadi musuh bebuyutan Phartenos. Semua seluk-beluk Ikaros, sudah diketahui oleh Lord Aegis. Salah satu budaya gila Ikaros adalah pernikahan saudara. Tentu, ibu mana pun tidak akan menyetujui jika putrinya menikahi pria yang masih berhubungan darah langsung dengan putrinya. Hanya untuk mempertahankan kemurnian darah klan mereka, Ikaros kehilangan akal dan membuat peraturan tidak manusiawi untuk para pewaris.
"Bathory adalah orang yang menjadi calon suami Mika," lanjut Ibu Mika. "Lady Airi, tentu tidak menyetujui hal ini. Ia berusaha membebaskan Mika dan membawanya pergi, tapi...." Ibu Mika menggigit bibir bawah, terasa berat untuk melanjutkan. Namun, tatapan menuntut dari Lord Aegis tak memberinya banyak pilihan.
"Lady Airi tewas saat melindungi Mika," ucapnya dengan bibir bergetar. "Sebelum itu ia menghapus ingatan Mika. Ia berpesan padaku untuk membawa Mika pada orang bernama Shanliang dan Mikha. Setelah itu ia...."
Air mata menetes di pipi, isakan pun terdengar. Ibu Mika tidak mampu melanjutkan kata-kata lagi. Dadanya terasa perih saat mengingat semua tragedi di masa lalu. Di sisi lain, Lord Aegis membeku. Pria itu tidak menangis, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya kini hancur. Lady Airi sudah seperti ibu keduanya, mereka sangat dekat. Ia pun menyayangi Lady Airi seperti ia menyayangi mendiang ibu kandungnya sendiri, Putri Shanliang.
Sudah cukup ketidakberdayaannya selama ini. Ia tak akan membiarkan dirinya jatuh dalam keterpurukan lagi. Lord Aegis memutuskan untuk menjadi lebih kuat, dengan begitu ia bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi. Ibunya dan Lady Airi meninggal di tangan Ikaros. Kali ini ia tidak akan membiarkan tragedi itu terulang kembali. Apa pun yang terjadi, ia akan melindungi Mika. Ia tidak akan membiarkan Mika bernasib sama dengan dua orang yang ia sayangi.
"Mikha, adalah nama ayahku. Mikhalios," Lord Aegis berbisik sendu. "Ayah dan ibuku adalah sahabat Lady Airi. Mereka—"
Sebelum Lord Aegis melanjutkan kata-katanya, Mika dan Elgris membuka pintu. Pria itu pun mengurungkan niat untuk berbicara lebih jauh. Sedangkan kedua orang yang baru saja datang, langsung menghentikan tawa mereka saat merasakan tekanan yang aneh ketika memasuki rumah.
Menatap ibunya, Mika pun mengerutkan kening. "Ibu menangis?"
Tidak mau putrinya curiga, ia pun menggeleng pelan. "Tidak, ibu hanya mengantuk."
Di sisi lain Elgris langsung menatap kakaknya yang masih bungkam. Mendekat, bocah berambut pirang itu membisikkan sesuatu pada sang kakak.
"Sudah?" Saat ia mendapat anggukan pelan dari kakaknya, Elgris tersenyum dan mengalihkan pandangan pada Mika. "Sepertinya kita harus pamit."
"Pulanglah. Aku akan tetap disini."
Mendengar jawaban kakaknya yang tidak sesuai skenario, Elgris pun melebarkan mata. Lord Aegis ingin tinggal di rumah Mika? Tidak mungkin, ia pasti salah dengar!
"Ka-kau mau tinggal?" Elgris bertanya, ragu. Namun, anggukan pasti sang kakak kembali membuatnya kaget.
"Kau bisa kembali kesini besok. Tolong sekalian bawa Shuu-Ei." ujar Lord Aegis, tanpa dosa.
Tanpa menunggu jawaban dari sang adik, manik kelamnya langsung menoleh dan terfokus pada wanita paruh baya yang masih membeku di samping Mika.
"Nyonya, Anda tidak keberatan kalau aku menginap semalam di sini, bukan?"
Kata-kata Lord Aegis memang terdengar seperti pertanyaan, tapi sorot matanya benar-benar tidak menginginkan sebuah penolakan. Merasa tak mampu melawan, Ibu Mika hanya tersenyum kecut dan mengangguk lemah. Sebenarnya ia keberatan. Karena menurut adat, semua itu tidak diperbolehkan. Walau begitu, Ibu Mika tahu benar bahwa ia bukanlah seseorang yang mempunyai kuasa untuk menolak Lord Aegis.
"Tapi, di sini hanya ada dua kamar," ujar Ibu Mika.
"Aku bisa tidur d imana saja." Lord Aegis berkata enteng.
Tentu saja Elgris langsung menanggapi dengan tawa. "Kalau begitu lempar saja om-om sialan ini ke kebun bunga. Masalah selesai!"
Lord Aegis mendelik geram sebelum berdiri dan menggiring Elgris keluar dengan paksa. Tangan kokohnya langsung mecengkeram erat baju belakang si bocah pirang. Entah mengapa pemandangan itu malah terlihat seperti induk kucing yang sengan membawa anaknya.
"A-apa-apaan ini? Hei, aku belum pamit!" Elgris meronta. Namun apa daya, kekuatan Lord Aegis berada jauh di atasnya.
"Pulang. Jemput aku besok pagi. Aku tidak mau ada protes,” ujar Lord Aegis, tak menerima sebuah penolakan.
Tangannya langsung meraih pintu, menutup pint u dan menguncinya dari dalam. Elgris masih memakinya dari luar, tapi ia sama sekali tidak memedulikan sang adik. Tatapannya kini beralih pada dua orang perempuan di depannya. Menundukkan kepala, Lord Aegis pun memberi gestur meminta maaf.
"Maafkan atas ketidaksopananku dan adikku."
***
Akhirnya, Lord Aegis tidur di kamar Mika. Sedangkan Mika tidur bersama ibunya. Walau tak sebesar kamar di Benteng Phartenos, tapi kamar Mika terasa begitu nyaman. Kamar itu adalah kamar yang ia tempati saat insiden tidur di pangkuan Mika. Menghela napas, pria itu pun merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap ke langit-langit. Merenungkan semua hal yang terjadi.
Mika adalah Irina. Lady Airi tewas. Bathory tunangan Mika.
Semua pikiran yang bergentayangan semakin berkecamuk di benak Lord Aegis. Cukup untuk membuat matanya tetap terjaga. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan. Menoleh, ia pun melihat Mika mengintip dari luar.
"A-Apa aku membangunkanmu, Tuan?"
Lord Aegis melihat sebuah kekhawatiran di manik Mika. Mengghela napas, pria itu pun mengeleng pelan. "Tidak. Ada apa?"
"Bolehkah ... aku mengambil selimut?" Mika bertanya, ragu.
Saat Lord Aegis mengangguk, Mika langsung beranjak menuju ke lemari untuk mengambil selimut. Setelah ia menemukan selimutnya, ia berjalan cepat keluar kamar. Berusaha untuk tidak mengganggu Lord Aegis.
"Maaf atas gangguannya, Anda bisa kembali beristirahat."
Gadi itu pun tersenyum sembari membawa selimut dalam dekapannya. Namun, baru selangkah Mika melanjutkan untuk keluar dari kamar, pria itu menarik lengan bajunya. Menoleh, yang ia dapati hanyalah manik kelam yang menatap lekat padanya. Manik indahnya mengedip beberapa kali, diikuti dengan kerutan yang kini muncul di keningnya.
"Ada apa, Tuan?" Mika bertanya polos, sedangkan manik kelam itu masih menatap tanpa ekspresi.
"Bisa kau temani aku sebentar? Aku … tidak bisa tidur."
Sejujurnya, semua itu bukanlah akal-akalan untuk menghabiskan banyak waktu dengan Mika. Faktanya, ia memang tidak bisa tidur jika pikirannya tetap bergentayangan. Sebenarnya, dalam keseharian ia memang jarang tidur. Pria itu hanya tidur saat tubuhnya benar-benar menyerah dan tumbang. Bahkan, Elgris dan sang ayah pun menggeleng-geleng dengan perbuatan Lord Aegis. Faktanya, Lord Aegis hanya bercinta dengan dokumen-dokumennya selama ia menjabat menjadi Great Knight.
Tak jarang, Elgris memasukkan obat tidur ke minuman Lord Aegis untuk membuatnya tidur. Bukan karena iseng belaka, sang adik hanya tidak tega jika kakaknya terus-menerus memikirkan dokumen negara. Bagaimana pun juga tubuh Lord Aegis bukan tubuh dewa, ia tetap manusia biasa. Tubuhnya juga membutuhkan istirahat.
Ragu, tapi Mika pun tak kuasa untuk menolak. Gadis itu mengangguk pelan, lalu duduk di pinggir ranjang. Jika ibunya tahu, ia bisa diceramahi tujuh hari tujuh malam. Namun, melihat raut sang Tuan yang tak menerima penolakan, Mika pun menyerah. Biarlah, demi Lord Aegis, ia rela diceramahi.
Beberapa menit selanjutnya, hanya ada kesunyian. Tidak ada yang membuka percakapan. Lord Aegis hanya duduk diam sembari, menyandarkan punggungnya ke tembok kayu. Sementara Mika ada di sebelahnya dengan posisi yang sama. Manik kelam mengamati langit-langit kamar dengan tatapan sendu. Mika yang menyadari semua itu hanya bisa bertanya dalam hati tentang apa yang dipikirkan oleh sang penguasa Phartenos.
"Tuan? Apa Anda lelah?" Mika melemparkan sebuah pertanyaan.
Lord Aegis yang mendengar pertanyaan Mika pun menoleh, menatap sang gadis cantik.
"Begitulah...."
Pria itu tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kepalanya sibuk memikirkan tentang berbagai macam hal yang mulai menghatui. Tentang Irina, Ikaros, maupun Alezar.
Mika masih menatap Lord Aegis dengan tatapan heran. Entah mengapa, ia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi ia tidak berani menyuarakan semua pertanyaan. Jika Lord Aegis tidak ingin memberitahunya, maka semua itu bukanlah wilayahnya.Yang bisa Mika lakukan hanya membantu sebisanya.
"Tuan, tolong menghadap ke jendela sebentar."
Mengernyit, Lord Aegis tak mengerti. Namun, saat ia melihat Mika menggembungkan pipi, pria itu pun tersenyum tipis dan mengikuti kemauan Mika. Sejak kapan Mika menjadi Elgris kedua?
Beberapa saat setelahnya, Lord Aegis pun merasakan tangan Mika yang menyentuh lembut bahunya, memijatnya perlahan. Tanpa ia sadari, gadis itu mulai meringankan rasa lelah yang membebani bahunya.
"Aku sering memijat bahu Ibu ketika ia sedang lelah. Apa ini membuat Anda lebih baik?"
Lord Aegis hanya mengangguk pelan.
Merasa usahanya membuahkan hasil, Mika pun tersenyum dan melanjutkan tugasnya. Tanpa Mika sadari, Pria itu pun menyunggingkan senyum tipis. Entah mengapa, beban di pundak Lord Aegis seolah menghilang jika ada Mika di sampingnya. Sihir apa yang Mika gunakan?
"Mika," panggil Lord Aegis.
"Ya, Tuan?" jawab Mika, seketika.
"Besok, apa kau mau ikut denganku?"
Mika mengernyit bingung saat mendengar pertanyaan Lord Aegis.
"Kemana, Tuan?"
Lord Aegis memutar tubuhnya, berhadapan dengan Mika. Perlahan, tangan kokohnya membelai lembut rambut kelam gadis. Seulas senyum simpul pun terlihat.
"Menemui ayahku."
Jawaban Lord Aegis sukses membuat Mika membeku. Menemui ayah Lord Aegis? Untuk apa? Atau jangan-jangan Lord Aegis ingin menghukumnya?
Wajah Mika pun memucat. "A-Apa aku membuat kesalahan? Mengapa harus menemui ayah Anda? Apa aku akan dihukum?”
Mendengar pertanyaan Mika, Lord Aegis pun terkekeh dalam hati. Apa ia sebegitu kejam di mata Mika?
“Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan. Tidak ada yang akan menghukummu,” jelas Lord Aegis. “Ibumu juga akan ikut. Jangan khawatir. Kami hanya ingin membicarakan beberapa urusan.”
Apakah mungkin mereka ingin membicarakan masalah negara dan desa? Perlahan, Mika mengembuskan napas lega.
“Baiklah, aku juga akan ikut.”
Mendengar jawaban dan senyum Mika, tangan Lord Aegis pun langsung menarik Mika dan memeluk erat sang gadis. Mika yang masih memproses apa yang baru saja terjadi, hanya bisa membeku. Tak kuasa menolak pelukan Lord Aegis.
"Terima kasih," bisik Lord Aegis sembari membelai lembut kepala Mika. Tak mengindahkan sang gadis yang kini dilanda bingung yang bergentayangan di kepala.
Setelah sekian lama, akhirnya semua akan terungkap. Semua misteri yang ia dan ayahnya cari, semua jawaban itu kini ada di depan mata. Lord Aegis tak akan membiarkan kesempatan ini terbuang sia-sia. Jika Ikaros tahu Mika adalah Putri Irina, maka gadis itu akan terancam bahaya. Sebelum itu terjadi, Lord Aegis akan melakukan berbagai macam cara untuk melindungi Mika.
Setelah Lord Aegis kembali ke realitas, pria itu mendapati Mika yang tertidur dalam dekapan. Ia baru menyadari bahwa ia terlalu lama melamunkan berbagai macam hal. Menghela napas pelan, pria itu merebahkan Mika di sisinya.
Entah mengapa, Lord Aegis enggan melepas pandangannya dari Mika. Wajah polos Mika saat tertidur membuatnya hanyut dalam kedamaian. Jemarinya menyusuri wajah sang gadis.
Gadis mungil di depannya bahkan tidak tahu akan takdir berat yang harus ia lalui di masa depan. Tapi Lord Aegis berjanji saat Mika tahu semua takdirnya, ia akan menjadi sandaran bagi Mika. Lord Aegis akan menjadi tempat di mana Mika meletakkan sebagian takdir yang gadis itu bawa. Tempat dimana Mika menangis. Tempat dimana Mika meluapkan segala kesedihan.
Ya. Ia berjanji.
Suara ketukan pintu menginterupsi benaknya. Saat Lord Aegis menoleh, Ibu Mika sudah ada di ambang pintu dengan raut terkejut.
"Tu-Tuan?”
Mendapati anaknya berbaring satu ranjang dengan pria asing cukup membuatnya terguncang.
"Tuan! Ini tidak benar! Mika dan Anda—"
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa. Jika aku kelepasan pun, aku pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatanku," jawab Lord Aegis.
Ibu Mika tahu Lord Aegis bukan pria yang bertindak sesuka hatinya. Tapi tetap saja, membiarkan mereka tidur dalam satu kamar membuat Ibu Mika tidak tenang. Terlebih, Ibu Mika tahu ia tidak akan bisa melawan Lord Aegis. Mengalah, Wanita paruh baya itu pun membungkuk hormat dan beranjak.
"Jika kau ingin mengetahui semuanya, ikutlah denganku. Aku akan membawa kalian pada ayahku," ujar Lord Aegis, tepat saat Ibu Mika mulai beranjak.
Sang wanita paruh baya menghentikan langkah sejenak sebelum menoleh, menatap Lord Aegis yang kini menarik selimut untuk menutupi tubuh Mika.
“Baiklah,” ujarnya menyetujui. Ia tahu, hanya inilah cara untuk melindungi putrinya.
***
Biasanya Mika bangun lebih pagi dari ibunya, gadis itu selalu sibuk di pagi hari untuk menyiapkan berbagai macam hal. Namun pagi kali ini terasa sunyi. Mika bahkan belum menampakkan batang hidungnya.
Ibu Mika yang menyadari kejanggalan itu, menjadi tidak tenang. Menatap pintu kamar Mika, namun anak gadisnya belum juga keluar dari sana. Tentu saja, sebagai seorang ibu ia merasa sangat khawatir. Anak gadisnya tidur satu kamar dengan seorang pria. Dan sampai pagi, ia tak tahu bagaimana kabar tentang keduanya. Ia tidak berani membuka pintu kamar karena bisa saja Lord Aegis masih belum bangun. Dan itu akan mengganggu tidur sang Lord.
Ibu Mika hanya bisa berharap, yang ia takutkan tidak menjadi nyata.
Sedangkan di dalam kamar, Mika mulai membuka mata. Benda pertama ia lihat adalah selimut yang menutupinya sampai sebatas leher. Selain itu. ia merasakan sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Saat ia sadar sepenuhnya, tubuhnya langsung membeku saat ia melihat wajah Lord Aegis.
Pria itu ... tidur di samping Mika sembari melingkarkan tangan di pinggangnya.
Saat Mika melihat ke sekeliling, ia menyadari bahwa ia telah tertidur di sana semalaman dengan Lord Aegis. Ia bersumpah, jantungnya serasa hampir terhenti seketika.
Baik, ia tahu bahwa ia akan dilalap api kemarahan sang Ibunda saat ia beranjak dari kamar.
“Mika, kau sudah bangun?”
Lord Aegis yang baru saja terbangun, menatap wajah Mika yang kian memucat. Ia bahkan merasakan gadis mungil itu mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Sayangnya, ia tidak akan membiarkan ia lepas begitu saja.
“Tu-Tuan, maafkan aku untuk semalam,” cicit Mika, meminta ampun. “Aku tidak bermaksud—”
“Memangnya apa yang kita lakukan semalam?” Lord Aegis memotong kata-kata Mika. Sialnya, pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang gadis mungil yang kini dilanda kepanikan.
Mengabaikan pertanyaan Lord Aegis, Mika mendorong pelan tubuh kokoh itu menjauh darinya. “Tu-Tuan, aku harus ke dapur.”
Alih-alih mengangguk atau menggeleng, Lord Aegis malah mengunci pandangan pada Thea. Hingga tanpa sadar, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mika. Semakin dekat, hingga bibir mereka pun hampir saling bersinggungan.
Namun sebelum bibir mereka menyentuh satu sama lain. Lord Aegis tersadar dan menarik wajahnya dari hadapan wajah Mika. Ia melepas pelukan dan bangkit. Pikirannya memang sedang kacau, entah apa yang merasukinya. Ia tak pernah mencoba mencium seorang perempuan. Jangankan mencium, bahkan menyentuh pun jarang. Berbeda dengan adiknya, Elgris. Jangan remehkan wajahnya yang terlihat polos dan imut. Dia itu playboy kelas paus.
Lord Aegis menyentuh kepalanya yang masih berdenyut. Entah mengapa, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari Mika. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan jika ia bersama orang lain. Sesuatu ... yang seolah menuntutnya untuk tetap berada di samping sang gadis. Manik kelamnya masih terpaku Mika yang masih membeku. Gadis itu ... layaknya sangat terguncang.
"Ibumu ... sudah menunggu di dapur," ujar Lord Aegis, memecah lamunan Mika.
Mendengar ucapan Lord Aegis, Mika hanya bisa mengangguk canggung. Gadis itu masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Apa Lord Aegis sedang banyak pikiran? Tingkahnya kacau sekali dari kemarin malam. Entah mengapa Mika merasa iba. Apakah menjadi pemimpin negara memang seberat itu?
Bukannya beranjak dari kamar, Mika malah mendekat dan menyentuh tangan Lord Aegis.
"Tuan, kalau ada masalah Anda bisa membaginya ke orang lain. Menanggung beban sendiri itu tidak mudah,” ujar Mika seraya melemparkan senyuman.
Lord Aegis termenung sejenak, hingga akhirnya pria itu mengangguk pelan. Hingga akhirnya Mika pun beranjak dari kamar, meninggalkan Lord Aegis yang masih menatap punggung rapuh yang semakin menjauh.
Sayangnya, saat gadis itu menjejakkan kaki di luar kamar. Pemandangan pertama yang ia lihat hanyalah raut khawatir sang ibunda.
"Mika!" Ibunya memekik, menghambur pada Mika dengab raut penuh kekhawatiran. Sukses membuat Mika kaget bukan kepalang.
"Ya Dewa! Ibu! Kau membuatku terkejut!"
Mika memprotes ibunya yang kini sudah memeluknya. Tak lama kemudian ibunya melepas pelukan dan menangkup kedua pipi Mika. Sang wanita paruh baya menatap Mika dengan perasaan campur aduk. Marah, lega, sedih, senang campur menjadi satu.
Bayangkan saja, anak gadisnya tidur dan berpelukan dengan pria yang belum memiliki hubungan apapun. Jantungnya bisa melompat dari dalam tulang rusuk seketika. Walaupun secara fakta ia bukan ibu kandung Mika, tapi rasa sayangnya pada Mika melebihi apapun di dunia.
"Apa ... Tuan melakukan sesuatu padamu?" Ibu Mika menyelidik. Ia khawatir jika sesuatu terjadi pada Mika. Saat Mika menggeleng, helaan napas lega pun terdengar.
"Tapi tingkah Tuan aneh. Apa Tuan sedang banyak pikiran, ya?" Mika bertanya polos. Entah mengapa, Mika sangat peka dengan perubahan tingkah laku Lord Aegis.
"Tuan adalah salah satu pemimpin negara, tentu saja Tuan memiliki banyak pikiran," jawab Ibu Mika sembari tersenyum.
Sejatinya, wanita paruh baya itu hanya membual untuk menutupi fakta. Tidak, itu bukan karena negara. Ibu Mika tahu persis apa yang membuat Lord Aegis seperti itu.
"Bersiap-siaplah. Kita akan pergi bersama Lord Aegis," Ibunya mengalihkan pembicaraan. Mika hanya mengangguk paham dan menuruti apa yang ibunya katakan.
***
"Kakak kau terlihat seperti Kaisar Timur! Haha!"
Elgris terbahak ketika ia melihat Lord Aegis yang memakai hanfu, salah satu pakaian khas wilayah timur yang tak jauh berbeda dengan kimono. Beruntung, Lord Aegis mengacuhkan Elgris. Memang, awalnya ia tidak nyaman ketika Mika menyuruhnya memakai hanfu dan kimono, namun lama-kalamaan dia malah merasa nyaman. Ia pun memutuskan untuk memakainya, lagi pula itu terlihat lebih seragam dengan pakaian Mika.
Pria itu memakai hanfu hitam bercorak daun perak. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengoleksi semua pakaian khas Wilayah Timur. Alhasil, ia malah terobsesi dengan kebudayaan timur. Lord Aegis bahkan sudah mulai lancar memakai sumpit. Mika dan ibu Mika hanya tersenyum ketika mendapati Lord Aegis ingin memakai pakaian wilayah timur dari barat. Walau pria itu masih belum bisa memakainya sendiri, karena memang terlalu rumit. Di situasi semacam ini, biasanya hanya Mika yang akan membantu sang penguasa Phartenos untuk memakai pakaian khas Wilayah Timur.
Beralih ke realitas, Lord Aegis menyerahkan bungkusan yang berisi pakaian yang ia beli, pada Elgris.
"Bawa ini," seperti biasa, memerintah dengan singkat.
"Ya ampun, kakak merepotkan sekali," gerutu Elgris.
Lord Aegis hanya melirik sekilas, lalu mendekati kuda hitam yang ada di belakang Ran-ei—kuda putih milik Elgris.
"Lama tak jumpa, Shuu-ei," sapa Lord Aegis pada sang kuda hitam. Dan layaknya, sang adik pun tersinggung karena kakaknya tidak menyapanya terlebih dahulu.
"Bagus sekali, mengacuhkan adikmu sendiri dan lebih memilih menyapa seekor kuda. Mengagumkan!"
Mika dan Ibunya hanya menahan kekehan. Sedangkan,sang tersangka utama hanya berbalik dan memandang balik pada Elgris.
"Selamat pagi, Elgris. Maaf, aku tidak melihatmu, mungkin kau harus tumbuh beberapa jengkal terlebih dahulu agar aku bisa melihatmu dengan mudah."
Elgris langsung mengomel tanpa henti saat mendengar ejekan kakaknya.
Tinggi badan adalah kelemahan Elgris, ejekan yang paling tidak ingin ia dengar. Jika kakak beradik itu disandingkan, tinggi Elgris hanya sebatas pinggang Lord Aegis. Elgris bahkan kalah tinggi dengan Mika yang mencapai d**a Lord Aegis.
Setelah pertengkaran kakak-beradik usai, mereka mulai bersiap-siap. Ibu Mika menunggang kuda bersama Elgris. Sedangkan Mika dengan Lord Aegis.
"Mika, kemarilah," panggil Lord Aegis.
Sang gadis mendekat dan Lord Aegis mengangkatnya, seakan ia seringan kapas. Pria itu menempatkan Mika di punggung Shuu-ei. Mika terlihat sangat takut ketika Shuu-ei bergerak ketika merasakan ada penunggang asing. Memejamkan mata, gadis itu hanya bisa menjaga keseimbangan dengan berpegangang pada surai hitam Shuu-ei.
Shuu-ei memang kuda agresif, ia hanya mengakui Lord Aegis sebagai pemiliknya. Dan baginya, hanya Lord Aegis seorang yang dapat menungganginya. Beruntung, tak beberapa lama kemudian, Lord Aegis menenangkan Shuu-ei dan ikut menunggang Shuu-ei di belakang Mika. Mika merasakan tangan yang kokoh itu memeluk pingggangnya. Membuka matanya, saat ia menoleh Lord Aegis sudah ada di belakangnya.
"Pegangan, nanti kau jatuh," Lord Aegis memperingatkan. Mika hanya mengangguk pelan, tangan mungilnya memegang lengan Lord Aegis dengan ragu. Di sisi lain, Elgris terkekeh saat melihat Mika yang nampak bergerak canggung.
"Peluk saja, Mika. Aku rasa om-om di belakangmu tidak akan keberatan. Haha!"
Wajah Mika langsung memerah, tak berani manatap Lord Aegis.
"Aku rasa itu ide yang bagus. Agar kau tidak jatuh," timpal Lord Aegis dengan raut datar. Cukup membuat Mika semakin memerah karena malu. Faktanya, Lord Aegis memang mengambi kesempatan dalam kesempitan.
Elgris menahan tawanya ketika kakaknya menyetujui idenya. Baru pertama kali ini Lord Aegis sepemikiran dengan Elgris, atau jangan-jangan pria itu telah terjangkit virus playboy Elgris? Lord Aegis jelas-jelas memiliki maksud terselubung.
Sang penguasa barat masih menatap Mika tanpa ekspresi. Tangannya membimbing tangan mungil Mika, melingkari pinggangnya. Mika tidak bisa apa-apa selain menurut.
Lord Aegis menarik tali kekang dan Shuu-ei pun menjejakkan kakinya dan mulai berlari. Mika tersentak karena gerakan Shuu-Ei, kepalanya membentur d**a Lord Aegis. Tanpa Mika sadari, ia telah memeluk Lord Aegis dengan erat. Shuu-ei sangat cepat, ia tak ingin mati konyol terjatuh dari kuda, bukan?
Saat Mika mulai tenang dengan keadaan mereka, Lord Aegis tersenyum tipis. Entahlah apa yang ia pikirkan sekarang. Beruntung, Elgris ada di depannya. Sang adik tercinta tercinta tidak akan bisa menggoda Lord Aegis yang sedang bermesra-mesraan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Benteng Perbatasan Phartenos.
***