Teriakan tim ekspedisi memenuhi kawah Rinjani. Tak hanya suara Tim ekspedisi, tetapi ada suara lain yang turut melengking keras memekakkan telinga. Bukan suara Diah, bukan pula Zahra. Mereka saling menatap. Suara riuh terdengar seakan ada sesuatu yang lain ikut meramaikan teriakan histeris mereka. Maghrib, waktu untuk mahluk dimensi lain berkeliaran. Karena panik yang teramat sangat, Zahra tak sadarkan diri. Nasib baik, tubuh Zahra yang kecil dapat muat pada jalur berukuran tiga jengkal berbatas jurang. Badannya tertahan tas carrier yang ia pakai. Refleks, Diah menarik jaket Zahra dan mengamankan sahabatnya itu. Diah benar-benar terkejut, napasnya sejenak tertahan, lalu memeluk tubuh Zahra yang terkulai lemas. Ia menangis dan tak mampu bersuara. Lututnya sama sekali tak bertenaga.

