Kinar menyeka air matanya.”Iya, Kak. Makasih. Nanti Kinar hubungin pakai nomor Kinar ya. Jangan bilang-bilang Bara dulu.” “Oke. Hati-hati ya, Kin.” “Makasih, Kak.” Kinar memutuskan sambungan. Ia meletakkan ponsel ke atas meja, mengambil tas yang berisi pakaiannya kemudian pergi ke tempat pemberhentian perahu. Untungnya ada perahu yang baru saja menurunkan penumpang dan hendak kembali ke Makassar. Ia segera naik, tidak peduli dengan tarifnya yang sedikit mahal. Ia ingin segera pergi dari sini, untuk sementara ia tidak mau bertemu dengan suaminya, si pembohong. Bara terlalu asyik berbincang-bincang dengan Sony, hingga malam tiba. Keduanya pun memisahkan diri dan bertukar kontak sebelumnya. Bara memasuki penginapan. “Kinkin!”panggilnya lembut, ia membuka pintu dengan pelan. Ia sudah menyi

