“Tumben agak lama, Kin?”tanya Dita.
“Iya jenguk Mama dulu di rumah sakit.”
“Mama kamu sakit?”
Kinar mengangguk.”Iya, cuma kecapean aja kok. Paling besok udah bisa pulang.”Kinar tidak ingin mendramatisir keadaan. Ia tidak mau mengatakan kalau Mamanya benar-benar drop. Ia ingin ucapannya menjadi hal-hal yang membawa dalam kebaikan.
“Oh iya-iya.”
“Apa ini?” Kinar melihat meja kerjanya penuh dengan bunga. Bahkan tidak menyisakan sedikit pun tempat untuk ia bisa bekerja.
Dita mengangkat kedua bahunya.”Enggak tahu, kita datang udah begini. Iya, kan, Yun?”
“Iya,”jawab Yuni.”Asyik banget dikasih bunga segitu banyak.”
Kinar menggeleng-gelengkan kepalanya.”Dari siapa sih!” Ia menyingkirkan bunga yang berada tepat di depan komputer.
“Kak Bara mungkin,”tebak Yuni.
“Masa begini banget.” Kinar pun teringat bahwa kelakuan Bara memang sangat manis sampai harus dipanggil Pabrik Gula oleh Leon. Ia pun segera menyingkirkan bunga-bunga dari atas mejanya agar ia bisa bekerja.
“Tapi, jadi asyik...ruangan kita jadi cantik tahu,”balas Dita.
“Tapi, malu ah...dilihatin orang dari luar.” Kinar bangkit dan keluar menemui Bara yang masih bicara dengan Hardi.
Melihat Kinar berjalan ke arahnya, Bara pun menghampiri wanita itu.”Kenapa?”
“Kamu yang letakin bunga di meja kerjaku?”Kinar tak lagi memanggil Bara dengan sebutan 'Kakak'.
“Iya, sebagai permintaan maaf, semalam udah ngeprank kamu.” Bara tersenyum tanpa beban.
“Buang-buang duit,”kata Kinar.
“Itu bunga palsu kok,”kata Bara. Lagi-lagi dengan ekspresi santai dan tidak merasa bersalah.
“Tuh minta maafnya enggak serius, pakai bunga palsu,”balas Kinar dengan wajah sedikit cemberut.
Bara tertawa bahagia.”Ya udah nanti aku kasih bunga bank aja.”
“Bener ya!”tantang Kinar.
“Asal kamu jadi isteriku, pasti bener.”
Kinar memanyunkan bibirnya.
“Kamu enggak balik kerja?”
“Bunganya singkirkan dulu...”
“Mengganggu?”tanya Bara.
Kinar menggeleng dengan ragu.”Nggak juga sih, tapi...malu dilihatin orang dari luar.”
“Ngapain malu, kan ruangan kamu jadi indah. Supaya kamu inget aku juga. Bener kan?”
Kinar mengangguk pelan.
Bara mengusap puncak kepala Kinar “Ya udah, aku mau kerja...habis itu mau urusin surat-surat nikah kita. Mudah-mudahan aja bisa ya. Jadi, nanti kamu makan siang sama temen-temen kamu dulu ya.”
“Oke deh, ya udah aku balik kerja.” Kinar melambaikan tangannya. Tapi, kemudian ia menghentikan langkahnya.”Jangan lupa cincin berlian yang kemarin dipilihkan Mama ya.”
“Iya, besok kamu udah pakai itu kok.” Bara terkekeh.
“Oke!” Kini Kinar benar-benar pergi dan masuk ke dalam ruangannya.
Bara tersenyum penuh arti, sekali lagi perasaanya begitu menghangat menatap wajah Kinar. Ponselnya berbunyi, Bara melihat pesan yang masuk. Pria itu menarik napas panjang,kemudian segera kembali ke parkiran mobil. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan. Semua demi hari esok, hari pernikahannya dengan Kinar.
**
Bara terbangun pukul empat subuh. Sebenarnya ia sangat mengantuk sebab baru tidur pukul dua pagi. Semalaman ia begitu sibuk mengurus persiapan pernikahannya dengan Kinar. Belum lagi harus mengetatkan urat leher saat menghadapi birokrasi di negeri ini. Memang tidak bisa disalahkan juga, sebab ia mengurus semuanya harus selesai dalam satu hari.
Bara segera bangkit dari tempat tidur, keluar dari kamar dan melihat ke lantai satu. Beberapa anggota keluarganya sudah datang. Acara yang sangat mendadak ini sedikit membuat mereka kesal karena harus mengganti jadwal secara mendadak. Bara segera turun untuk menyapa mereka semua. Akad nikah Kinar dan Bara akan dilaksanakan begitu sederhana, dan dilaksanakan di rumah sakit karena Mama Kinar belum boleh dibawa pulang. Mereka meminjam ruangan yang sedikit besar untuk melaksanakan akad nikah.
Setelah menyapa semua anggota keluarga yang datang, Bara segera kembali ke kamar untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu ia bersiap-siap. Jangan tanyakan bagaimana perasaannya saat ini. Deg-degan,sudah pasti. Bahagia, tentu saja ia sangat bahagia, sebentar lagi menjadi suami Kinar, wanita yang sebenarnya ia cintai sejak lama. Walau sempat patah arang dan berpikir tidak akan pernah mendapatkan Kinar, nyatanya sekarang ia sudah akan menikah. Jodoh itu misteri, seperti jodohnya sekarang, datang sendiri.
Ruangan dihias dengan bunga-bunga. Di lantai sudah terdapat karpet tebal serta meja dengan alas bewarna putih untuk dilaksanakannya akad nikah. Semua anggota keluarga sudah berpakaian rapi, semuanya berwarna putih. Kinar duduk termenung di sudut ruangan, menatap wajah sang Mama dari kejauhan yang sedang diapit oleh Bima dan Qiana. Wanita itu tampak menyeka air matanya, wajahnya terlihat bahagia. Kinar tersenyum tipis, apakah Mamanya sedang bahagia?
Rani menghampiri Kinar.”Kin, kenapa di sudut situ?”
Kinar tersenyum tipis.”Iya, Kak...soalnya masih sedikit aneh dengan pernikahan ini.”
“Kalau pernikahan ini terjadi, artinya Bara memang jodoh kamu. Walaupun...awalnya terasa aneh,”bisik Rani.
“Iya, Kak.” Kinar mengangguk dengan senyuman tipis.Lalu terdengar suara orang mengucapkan salam dari balik pintu. Kinar berdebar-debar. Rombongan keluarga Bara sudah datang, tentunya dengan Bara yang tampak gagah dan tampan dengan jas dan celana putihnya.
Kinar menarik napas panjang saat ia dipanggil untuk duduk di sebelah Bara. Mata Kinar terasa panas saat Bara mulai berjabat tangan dengan Bima yang merupakan wali nikah Kinar, lalu mengucapkan ijab Qabul, lalu perlahan air matanya mengalir. Ia tidak tahu kenapa, yang pasti ia hanya ingin menangis dan terus menangis. Tangisan Kinar membuat semua anggota keluarga ikut menangis, begitu juga dengan Anaya. Mungkin beliau adalah satu-satunya orang yang teramat sedih, sebab ia merasa akan meninggalkan anak-anaknya setelah ini.
Bara dan Kinar memasangkan cincin di jari masing-masing. Setelah itu, mereka foto bersama. Tangisan kembali pecah saat Kinar dan Bara sungkeman kepada orangtua masing-masing. Kini Kinar dan Bara berada di sisi tempat tidur, menghadap pada Anaya. Anaya menggenggam tangan keduanya.”Semoga kalian bahagia, sampai ke anak cucu...”
“Aamiinn.”
“Bara, Mama...titip Kinar ya. Mama berharap kamu bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan Kinar. Menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dan sayang dengan isteri dan anak-anakmu. Bimbing Kinar ke jalan yang membawanya dalam kebaikan.”
“Iya, Ma.”
“Kin, jadilah isteri yang Soleha, jadi Ibu yang baik untuk anak-anak kamu nanti,”pesan Anaya.
“Iya, Ma...” Kinar mengecup kedua pipi sang Mama.”Kinar sayang Mama...”
“Ya sudah, tadi pesan dokter...Mama tidak boleh berlama-lama di keramaian seperti ini,ruangan harus disterilkan kembali,”kata Bima memperingatkan.
“Ma, nanti Kinar temui Mama lagi. Kinar keluar dulu ya?”
Anaya mengangguk. Wanita itu terlihat semakin lemah saat dibawa oleh perawat kembali ke ruangannya. Hati Kinar terasa sepi.
“Kin, habis ini tinggal di rumah Mama, kan?”tanya Asri.
Kinar tergagap.”Eh, di rumah Mama ...Mama siapa?”
“Ya rumah Mama, rumah Bara...kan kamu sudah resmi jadi isterinya Bara...”
“Eh, iya...tapi masa harus sekarang, Ma.” Kinar kebingungan.
Bara menghampiri Mama dan Isterinya.”Pada bahas apaan sih?”
“Ini, Kinar tinggal di rumah kita, kan?”