Lampu bioskop meredup, menyisakan cahaya remang dari layar lebar yang mulai memutar trailer film horor. Di dalam gedung teater yang dingin itu, Atena duduk bersandar, mencoba menikmati momen pelariannya.
"Takut nggak?" bisik Zacky pelan, wajahnya mendekat ke arah Atena agar suaranya tak mengganggu penonton lain.
Atena terkekeh pelan. "Kamu tahu sendiri kan, Zack. Kalau hidupku lebih horor daripada film mana pun."
Zacky terkekeh. "Bener juga."
Sepanjang film, Zacky akan membisikkan lelucon konyol setiap kali adegan jumpscare muncul hanya untuk membuat Atena tidak ketakutan. Lalu setelah selesai menonton, energi mereka seolah tak habis. Zacky menarik tangan Atena menuju area Timezone.
"Ayo, Atena! Kita tanding basket. Yang kalah harus turuti satu permintaan yang menang!" tantang Zacky dengan mata berbinar.
"Oke, siapa takut!"
Suasana berubah ceria. Mereka tertawa lepas, berlarian dari satu mesin permainan ke mesin lainnya. Atena tampak sangat berbeda — dia bukan lagi mahasiswi teladan yang dingin dan kaku atau istri yang licik, melainkan gadis muda yang sesuai dengan dunianya.
Saat bermain mesin capit boneka, Zacky terlihat sangat serius. "Tunggu, aku harus dapatkan boneka rubah ini untukmu. Soalnya wajahnya mirip kamu, cantik tapi licik."
"Sialan kamu, Zack!" Atena memukul bahu Zacky pelan sambil tertawa renyah.
Setelah percobaan kelima, Zacky akhirnya berhasil. Dia menyerahkan boneka kecil itu pada Atena. "Nih, biar ada yang nemenin kamu di apartemen."
Atena menerima boneka itu dengan perasaan hangat. Mereka kemudian beristirahat di pinggir area permainan, berbagi satu gelas besar minuman dingin dengan dua sedotan — pemandangan khas anak muda yang sedang berkencan. Tapi itulah kebiasaan mereka sejak lama, jadi Atena merasa tidak istimewa.
Zacky menatap Atena intens. "Na, entah kenapa aku merasa kamu beda hari ini? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? Atau kamu merasa nggak nyaman tinggal di apartemen bersama ada room mate itu?"
Atena tersenyum tipis, mengelus kepala boneka rubahnya. "Aku nggak nyembunyiin apa-apa dari kamu kok, Zack. Aku baik-baik saja. Room mate aku juga baik. Makasih ya buat hari ini."
Zacky merangkul bahu Atena, menariknya mendekat. "Ingat, Na. Kamu tahu aku selalu ada di barisan paling depan buat kamu."
***
Atena melangkah masuk ke apartemen dengan suasana ceria, di pelukannya, ada boneka rubah pemberian Zacky. Namun, suasana ceria itu seketika menguap begitu dia melihat siluet seorang pria yang duduk kaku di atas sofa ruang televisi.
Televisi menyala, menampilkan siaran berita yang suaranya dikecilkan, mata Romeo tampak tertuju lurus ke layar. Ruangan itu entah kenapa terasa tegang bagi Atena, seolah udara di dalamnya membeku.
"Aku sudah pulang, Bang," sapa Atena dengan nada riang, mencoba mencairkan suasana.
Namun, Romeo tidak bergeming. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Pria itu terus menatap layar televisi dengan rahang yang mengeras, seolah-olah Atena hanyalah butiran debu yang tak sengaja lewat.
Atena menghela napas, sudah menduga reaksi dingin suaminya itu. "Ya sudah kalau nggak mau jawab. Aku mau mandi dulu."
Dia masuk ke kamar untuk menaruh tas dan bonekanya. Karena kamar yang dia tempati tidak memiliki kamar mandi dalam, Atena harus menggunakan kamar mandi luar yang letaknya ada di dekat dapur dan saat ke sana harus melewati ruang televisi.
Beberapa menit kemudian, Atena keluar dari kamar hanya dengan lilitan handuk putih di tubuhnya dan rambut yang dicepol tinggi. Handuk itu sangat pendek, jauh di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya. Lilitannya di bagian d**a memperlihatkan leher, bahu dan tulang selangkanya yang indah. Dan Atena sengaja berjalan melambat saat melewati Romeo yang masih duduk di sofa.
Siapa sangka, mata Romeo refleks bergerak mengikuti pergerakan Atena. Sudut mata pria itu menangkap pemandangan yang sangat berbahaya bagi kewarasannya. Kulit putih yang tampak segar, lekukan tubuh yang hanya tertutup selembar kain, dan aroma parfum yang menguar saat Atena berjalan lewat.
Romeo jadi salah fokus. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba, dan dia merasa tenggorokannya mendadak kering. Pemandangan itu jauh lebih menggoda daripada apa yang dia lihat tadi pagi. Namun, harga diri dan kebenciannya memaksa Romeo untuk tetap bersikap cuek.
Padahal saat ini, Romeo sedang mengepalkan tangan kuat-kuat di atas paha untuk meredakan gairah di tubuhnya. Kemudian, dia buru-buru kembali melihat ke arah televisi.
Atena menyadari jika mata sang suami itu sempat "mencuri pandang" ke tubuhnya. Jadi, dia berhenti sebelum masuk ke kamar mandi.
"Abang nggak tidur? Ini sudah malam loh," tanyanya dengan nada genit dan mendayu.
Romeo tetap diam, meskipun matanya berkilat penuh emosi yang tertahan. Dia memilih tetap bisu, seolah-olah dengan diam, dia bisa membentengi dirinya dari gairah yang mulai membakar akal sehatnya.
Atena tersenyum penuh arti melihat reaksi kaku suaminya, lalu dia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.
Begitu pintu tertutup, Romeo refleks mengembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan, lalu menyandarkan kepalanya ke sofa sambil memejamkan mata dengan frustrasi. "Sialan!" umpatnya untk diri sendiri.
Bunyi guyuran air dari kamar mandi akhirnya berhenti, berganti dengan suara kenop pintu yang diputar.
Atena keluar dengan uap air yang masih mengikuti langkahnya, menyebarkan aroma sabun yang segar dan menggoda. Dia melihat Romeo masih duduk mematung di sofa dengan posisi yang sama, tapi ketegangannya terasa sampai ke ujung ruangan.
Saat melangkah tepat di depan televisi — posisi di mana Romeo tak punya pilihan selain melihat ke arahnya — Atena melakukan hal gila yang sudah dia rencanakan sejak di bawah pancuran air tadi.
Dengan gerakan jemari yang sengaja dibuat "ceroboh", lilitan handuk di atas dadanya dia kendurkan. Dalam sekejap, kain putih itu merosot jatuh ke lantai, mengekspos seluruh tubuh polosnya yang putih dan ranum di bawah pendar lampu ruang tamu.
"Ups, lepas deh," gumam Atena dengan nada yang dibuat kaget, tapi matanya berkilat nakal penuh kemenangan.
Mata Romeo membelalak lebar. Pupilnya membesar, memindai setiap inci lekukan tubuh Atena yang terpampang nyata di depan matanya, pemandangan yang jauh lebih indah dan berbahaya dari imajinasinya mana pun.
Untuk beberapa detik, Romeo seperti kehilangan kemampuan bernapas, sebelum akhirnya akal sehatnya aktif lagi dan dia refleks berteriak histeris.
"Atena!!!"
Dengan gerakan panik dan tangan yang gemetar, Romeo menyambar bantal cushion di sampingnya dan menutupi seluruh wajahnya sendiri. Jantung berdegup begitu kencang hingga dia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri.
Atena tertawa renyah, suara tawanya memenuhi ruangan. Tanpa rasa malu sedikit pun, dia membungkuk perlahan untuk mengambil handuk yang jatuh di lantai, sengaja membiarkan Romeo jika pria itu mengintip untuk melihat lebih banyak lagi. Lalu melilitkannya kembali ke tubuhnya.
"Biasa aja kali, Bang. Kita kan suami istri. Abang halal loh lihat tubuh polos aku. Jangankan cuma lihat, kalau mau grepe-grepe juga boleh banget," godanya dengan suara yang sengaja dibuat mendayu.
"Dasar gila! Murahan banget!" bentak Romeo dari balik bantal. Suaranya terdengar pecah dan serak, tanda bahwa dia sedang berjuang mati-matian menekan gairahnya.
Masih dengan mata tertutup rapat, Romeo berdiri. Dia segera berbalik badan, memastikan punggungnya menghadap Atena, baru kemudian berani membuka mata. Tanpa menoleh lagi, dia berlari cepat hingga nyaris tersandung kakinya sendiri menuju kamarnya.
Suara pintu dibanting begitu keras hingga dinding apartemen terasa bergetar.
Romeo merebahkan diri di ranjang dengan posisi telentang. d**a naik-turun dengan cepat. Tangan mencengkeram sprei hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan tubuh polos Atena yang berdiri di depan TV tadi seolah terpahat permanen di balik kelopak mata. Setiap kali dia menutup mata, bayangan itu semakin jelas.
"Astaga! Lama-lama aku bisa gila kalau begini terus!" umpat Romeo di kegelapan kamar. "Nggak! Nggak boleh! Aku harus tetap waras! Tapi ... sial ... tubuh Atena ... ternyata luar biasa seksi dan aku jadi peng—"
Romeo menampar pipinya sendiri dengan cukup keras hingga terasa panas.
"Stop, Rom! Sadar! Jangan sampai kamu nyentuh tubuh gadis gila itu!" gumamnya sambil mengatur napas, lalu segera menarik selimut sampai ke kepala, mencoba menenggelamkan diri.