Dan Ternyata Cinta

1593 Kata
DAN TERNYATA CINTA            Sekarang, hari sudah masuk di hari Minggu, hari di mana kegiatan persami akan dibubarkan, kurang lebih nanti pada pukul Sepuluh pagi menjelang siang, lapangan ini harus sudah bersih. Namun sebelum kegiatan pramuka ini diakhiri, tepatnya pada pukul tujuh, akan ada apel sebagai tujuan untuk pembubaran tugas.           Dan sekarang waktu masih menunjukkan pada jam enam pagi, terlihat beberapa anak yang sudah bangun dari tidurnya, khususnya Nayla. Aku sengaja terduduk sendiri di pinggir tanah lapang, hanya untuk menikmati udara yang penuh akan kesejukkan di pagi hari. Entah apa yang baru saja Nayla rasakan, tiba-tiba dia datang menghampiriku.             “Selamat pagi pak Vian.” Ucap Nayla.             “Iya pagi Nayl, mari duduk.”             Nayla pun segera terduduk di atas kursi yang sedang kita berdua duduki saat ini.             “Silakan Nayl, nikmati dulu kopinya.” Pintaku.             “Iya pak makasih.” Jawabnya.             Nayla segera menyeduh kopi hangat yang kusuguhkan untuknya.            “Temen-temenmu yang lain mana, kok cuma kamu sendiri yang ke sini?” Tanyaku sambil kuusap kepalanya.            “Hmmm, mereka masih tidur semua pak. Wajarlah, semalem mereka kan tidurnya jam dua.” Jawab Nayla.            “Oh begitu ya.”            “Oh iya pak, aku boleh curhat nggak?” Tanya Nayla.            “Ya silakan Nayl, apa sih yang nggak buat kamu.”              “Hmmm, kalau boleh curhat sih sebenarnya aku iri sama temen-temenku pak.” Curhat Nayla.            “Iri kenapa emangnya Nayl?” Tanyaku dengan penuh penasaran.            “Kebanyakan temen-temenku memiliki rambut yang lurus, termasuk Putri sama Hanifa. Pengen rasanya diriku bisa punya rambut yang indah dan mudah diatur seperti mereka.” Keluhnya.            “Oh ya, terus?” Tanyaku kembali.            “Ya yang jelas aku pengen aja seperti mereka pak, mungkin karena udah menjadi garis keturunan, sehingga aku terlahir dengan rambut yang keriwul seperti ini.” Terang Nayla.            “Oh, jadi Nayla ini pengennya bisa punya rambut kayak mereka?”            “Betul pak Vian.” Jawab Nayla.            “Ya sudah gini aja, nanti setelah kegiatan persami hari ini selesai, pak Vian minta agar Nayla jangan pulang dulu.” Pintaku.            “Loh, emang mau ngapain pak?” Tanya Nayla.            “Ada deh. Gimana, Nayla sanggup nggak?” Tanyaku kembali.            “Emm, iya deh pak.” Jawab Nayla.           Saat aku sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba Putri datang tanpa aku tahu dari arah belakangku. Ada kesedihan pada wajah Putri di saat dia sedang memandangiku yang tengah duduk dan bercanda tawa dengan Nayla. Aku dan Nayla memang tidak ada apa-apa, namun sepertinya Putri merasa iri dan tak suka bila aku terus-terus bercanda dengan Nayla.            “Ya sudah pak, saya mau bikin sarapan dulu.” Ucap Nayla.            “Emangnya kamu mau masak sendiri Nayl?” Tanyaku.            “Yaa cuma bikin ketela rebus, buat sarapan pagi anak-anak.” Jawab Nayla.            “Oh, ya sudah ntar kalau udah matang, bawa sini juga ya.” Ujarku.            “Ya pak, nanti saya buatkan.” Jawab Nayla kembali.           Nayla segera beranjak untuk masak sendiri, sementara aku hanya duduk sendiri di dekat tenda sambil menikmati indahnya matahari. Tak berselang lama, tiba-tiba Atika juga keluar dari tendanya serta menghampiriku yang sedang menikmati secangkir kopi.            “Hay.” Sapa Atika.            “Ehh Atika, kirain masih tidur.” Gumamku.            “Emang kalau misal aku masih tidur kenapa?”            “Ya nggak apa-apa sih, oh ya kamu udah sarapan?” Tanyaku.            “Ya belumlah, kamu sendiri gimana?” Tanya balik Atika.            “Itu lagi dimasakin sama muridku.” Jawabku sambil menunjuk ke arah Nayla.            “Yaelah, kok dia cuma masak sendiri, kita bantuin yukz!” Seru Atika.            “Emmm, boleh.” Jawabku.           Aku dan Atika segera beranjak dari tempat duduk menuju Nayla yang sedang masak sendiri. Karena aku menyadari bahwa muridku banyak, begitu juga dengan muridnya Atika, maka kita akan memasak ketela dengan jumlah yang cukup banyak.            “Halo Nayl, boleh kita bantuin ya!” Desakku.            “Hmmm, boleh aja sih pak.” Jawab Nayla.            “Kita sekalian masak yang banyak ya Nayl, ini ada kak Atika yang akan bantuin kita masak.” Ujarku.            “Oke pak.” Jawab Nayla kembali.            Aku, Atika dan juga Nayla mulai sibuk memasak. Tentunya kita semua juga berbagi tugas, aku bertugas menyalakan tungku sambil mencari beberapa kayu bakar, Nayla membantu mengambilkan air, dan Atika membantu mengelupas beberapa kulit ketela yang akan dimasak.            “Sebenarnya kalau untuk ketela itu nggak perlu dikelupas kulitnya Atika.” Ucapku.            “Oh, terus ini bagaimana?” Tanyanya.            “Cukup kamu cuci, terus langsung kamu rebus di air yang sudah mendidih!” Seruku.            “Oh begitu ya.” Jawabnya.            “Iya, jadi nggak sama dengan singkong.” Jawabku kembali.            Satu jam telah berlalu, dan waktu telah menunjukkan di angka tujuh. Sudah saatnya bagi anak-anak untuk segera bangun dari tidurnya. Aku mulai membuka masing-masing tenda serta kuseru agar mereka segera sarapan pagi.            “Ayo anak-anak bangun!” Seruku.            Satu persatu anak-anak mulai terbangun dari tidur mereka. Anak-anak segera mencuci muka masing-masing dan tentunya juga menggosok gigi, karena di pagi hari ini kita akan sarapan pagi bersama. ***           Usai sarapan pagi serta membersihkan diri, anak-anak segera menuju ke tengah lapangan untuk menjalani tugas terakhir. Mereka sangat bersemangat atas hal ini sehingga tak terasa waktu siang telah tiba. Padatnya suatu kegiatan di hari ini sama sekali tidak menggugurkan semangat mereka. Mungkin saja anak-anak yang kelas lima sedikit merasa kecewa, karena bisa jadi ini akan menjadi kegiatan pramuka terakhir bagi mereka, dikarenakan tahun depan mereka sudah memasuki kelas enam.           Waktu telah menunjukkan pukul satu siang, usai sudah kegiatan persami kita hari ini. Lelah memang sangat terasa kepada semua orang termasuk diriku sebagai kakak Pembina. Dan di waktu ini juga, akan menjadi waktu perpisahan juga untukku dan Atika.            “Atika, terima kasih untuk semuanya.” Ucapku.            “Iya sama-sama Vian.” Jawabnya.            “Oh ya. Jangan lupa untuk tetap komunikasi ya.” Pintaku.            “Iya, lagian kamu kan juga nyimpen nomer aku kan.” Jawabnya.            “Iya sih. Hehehe.”            “Ya sudah aku naik truk dulu.” Ucap Atika.            “He’emb. Hati-hati di jalan ya!” Seruku.            “Oke, bye-bye.” Jawab Atika sambil melambaikan tangan.           Truk yang ditumpangi oleh Atika telah melaju, sampai sejauh dua ratus meter aku masih saja memandangi akan kepergiannya. Atas kedekatan yang kujalani bersamanya, mungkin akan menambah rasa kenyamanan dalam berteman. Jelas diriku berharap, mungkin kita berdua bisa bertemu lagi walau harus di sekolah.           Aku mulai berbalik arah, dan saat ini juga kumulai melihat Hanifa tersendiri yang sedang asyik bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Aku pun segera menghampirinya karena rasa-rasanya diriku juga ingin bernyanyi bersamanya.            “Hey Nif.” Sapaku.            “Ya pak Vian.” Jawab Hanifa.            “Sini pinjem gitarmu.” Pintaku.            “Boleh. Nih.”            Hanifa segera memberikan gitarnya kepadaku, saat itu juga kita mulai duduk berdua, di mana kita berdua akan bernyanyi bersama.            “Enaknya kita nyanyi apa nih?” Tanyaku padanya.            “Kalau aku sih ma terserah, nyanyi apa aja boleh.” Jawabnya.            “Emm, oh ya. Apa lagu yang kemarin kamu nyanyiin pas malem-malem di dalem tenda?” Tanyaku.            “Oh, Ternyata Cinta.” Jawab Hanifa.            “Sippp. Go!” Seruku. “Ingin sungguh aku bicara, satu kali saja. Sebagai ungkapan kata, perasaanku padamu. Telah cukup lama ku diam, dalam keheningan ini, kebekuan di bibirku tak berdayanya tubuhku … Dan ternyata cinta yang menguatkan aku, dan ternyata cinta …”           Hanifa paling jago sekali dalam bernyanyi, aku saja sampai kalah, wajar saja karena diriku tak sering berlatih daripada dia. Yang aku tahu, Hanifa memiliki harapan besar untuk mewujudkan cita-citanya, soal skill dia sudah baik, hanya performance yang perlu sedikit dilatih. Sayangnya, aku tak punya relasi yang bekerja di perusahaan musik, andaikan ada ataupun jika diriku memiliki dapur rekaman, sudah pasti Hanifa akan kupromosikan.           Sejauh ini, Hanifa memang jarang eksis di kalangan banyak orang, dia hanya sempat tampil ketika ada acara pentas seni di sekolah atau acara pentas desa. Namun Hanifa tak terlalu berambisi dalam mewujudkan cita-citanya, mendapatkan penghargaan yang baik dari orang-orang sekitar saja sudah cukup membuatnya bahagia.           “Suara sudah sangat bagus sekali Nif, kamu sangat berbakat ya.” Pujiku.           “Biasa aja pak Vian, ini semua kan juga karena kebiasaan.” Jawabnya dengan sedikit malu-malu.           “Tapi jika hal ini kamu kembangkan, pasti dirimu bisa naik daun loh Nif.” Ujarku.           “Entahlah pak Vian, pola pikirku belum sampai ke sana, aku lebih fokus untuk menyelesaikan pendidikan sekolahku dulu.” Jelasnya.           “Baiklah, insya Allah selama dirimu masih punya usaha dan motivasi, pasti mimpimu akan terwujud.” Supportku.           “Alhamdulillah, terima kasih atas dukungannya ya pak.” Pungkasnya.           Hanifa sangat beruntung sekali, memiliki banyak bakat yang belum tentu semua orang bisa sepertinya. Aku sadar bahwa setiap manusia yang lahir di dunia memiliki potensi serta bakat yang berbeda-beda, dan semua manusia juga bebas melakukan cara yang baik untuk mewujudkan impiannya, sungguh sayang jika bakat yang sudah termiliki tidak terasah.           Aku tidaklah pandai dalam bermusik, namun sejak kecil diriku sudah mencintai musik. Soal latihan sudah sering kulakukan di setiap harinya sampai tak terasa diri ini sudah menginjak dewasa, namun mengapa kemampuanku tak sebaik Hanifa. Entahlah, setiap orang memiliki penilaian masing-masing. Yang terpenting, kuharus tetap memotivasi anak-anak didikku di sekolah, bukan hanya Hanifa tetapi juga semuanya, karena kumenyadari bahwa anak adalah harta karun terbesar yang kehadirannya di masa depan mampu membawa arti.           “Pak Vian.” Panggil Putri dari arah belakangku.           “Iya Put.” Responku.           “Ayo segera siap-siap yang mau pulang, truknya sudah datang tuh.” Pintanya.           “Baiklah put.” Jawabku kembali.           Segera kuberdiri dan mulai beranjak untuk meninggalkan tempat perkemahan ini, namun jika nanti sudah tiba di sekolah, aku tidaklah langsung, melainkan berencana untuk mengantarkan Nayla ke salon.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN