Aku Datang

1532 Kata
          Sendiri, itulah peristiwa yang seringkali kualami. Usia yang sudah mendekati di angka tiga puluh tahun adalah suatu kepanikan dari yang kurasakan, karena sejauh ini masih belum kudapatkan sosok tambatan hati. Ya, aku telah menyadari sepenuhnya bahwa sejauh ini ku lebih sering meluangkan waktuku untuk anak-anak, baik itu mengajar maupun mengajaknya berjalan-jalan, sehingga diriku tak menyadari jika usia sudah mulai meninggi.           “Lala, kenapa kamu diam di sini sayang, kok nggak main sama temen-temenmu?” Tanyaku pada salah satu murid kelas satu SD.           “Males pak Vian, temen-temenku nggak ada yang asyik kalau diajak main.” Jawabnya.           “Hmmm, nggak asyik gimana Lala? Lihat temen-temen kamu semua pada terlihat ceria gitu loh.” Timpalku.           “Ahhh pokoknya mereka nggak asyik, Lala lebih enak duduk sendiri di sini.” Sahutnya.           “Ya sudah daripada Lala duduk sendirian di sini, mending ikut pak Vian yuk baca-baca buku di perpus.” Pintaku.           “Tapi Lala belum bisa lancar dalam membaca.” Tukasnya.           “Iya nggak apa-apa Lala, nanti bisa pak Vian ajarin kok.” Imbuhku.           “Ya sudah pak ayo ke sana.” Pungkasnya.           Hal itulah yang sampai saat ini selalu terngiang-ngiang dalam pikiran ini, sebenarnya juga masih banyak momen-momen manis yang pernah kulakukan terhadap setiap murid, dan tak banyak yang terlupakan begitu saja. Memang, bagiku tidak ada lagi sebuah kebahagiaan yang benar-benar berharga kecuali hanya bersama murid.           Besok lusa akan menjadi hari di mana diriku akan menjalani tugas di sekolah baru. Berkumpul bersama anak-anak adalah suatu kebahagiaan bagi diriku tersendiri, karena hanya dengan merekalah kesedihanku bisa rapuh dan hanya bersama merekalah kebahagiaanku bisa mekar kembali. Telah lama sudah diriku absen dari mengajar, namun sedikitpun ku tak pernah lupa bagaimana cara mengajar, dan insya Allah besok akan menjadi hari yang membahagiakan. Di malam inilah kumulai memikirkan sesuatu, tentang bagaimanakah cara membangun suasana untuk esok hari agar suasana bisa ceria atas kedatanganku untuk yang pertama kalinya di sekolah baru.           Rasa gabut serta bosan mulai melanda, lebih baik kuluangkan saja waktu yang sejenak untuk menikmati udara di malam hari ini. Suhu udara tak begitu dingin saat kakiku melangkah keluar dari rumah sehingga tak perlu harus memakai jaket tebal-tebal. Sebuah kafe yang terletak di ujung kota telah kudatangi, barangkali jika diriku menikmati secangkir kopi di situ, dapat menenangkan pikiranku sejenak. ***           Di malam ini juga Putri, Ninin, Hanifa dan juga Nayla kembali berkumpul, di mana setiap malam minggu mereka selalu menikmati waktu malamnya di lapangan parkir stadion Kanjuruhan Malang.           “Aduh kenapa lama banget ya angkotnya.” Ucap Putri.           “Iya nih, aku udah capek banget nunggu, masa’ udah lima belas menit nggak nongol-nongol juga.” Sahut Ninin.           “Sabar aja, bentar lagi juga pasti datang kok.” Timpal Hanifa.           Setelah hampir dua puluh menit menunggu di pinggir jalan, akhirnya angkotan kota mulai terlihat dari kejauhan.           “Alhamdulillah, akhirnya datang juga.” Ucap Nayla.           Saat mobil angkotan berhenti, mereka berempat segera menaiki mobil tersebut dan mobil pun melaju dengan kecepatan yang tak terlalu kencang.           “Oh ya temen-temen, besok pagi kalian ada waktu nggak?” Tanya Ninin.           “Pagi jam berapa? Kalau jam lima aku masih tidur Nin.” Jawab Nayla.           “Yeee, ya nggak pagi-pagi amat kaleee.” Sahut Ninin.           “Emangnya kenapa Nin?” Tanya Putri.           “Rencananya besok pagi jam enam aku mau ngajak kalian semua lari pagi biar sehat.” Terang Ninin.           “Yaelah Nin, dari dulu kamu sukanya ngajak olahraga melulu’. Kok nggak sekali-kali ngajak shopphing gitu.” Sahut Nayla.           “He’em, bikin bosen tahu.” Imbuh Putri.           “Iya Nin, walaupun nggak harus shopping minimal kan bisa jalan-jalan ke kota, nonton bioskop atau main ke timezone gitu.” Jelas Nayla.           “Heiiii, kalian ini sudah gila apa. Jarak desa kita ke kota kan jauh, apalagi kita masih kelas lima SD, kok sok-sok’an aja kayak anak SMA.” Hanifa yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.           “Ya, kalau misal sekali-kali kan juga nggak apa-apa Nif." Tukas Nayla.           “Iya aku tahu tahu Nayl, tapi masih belum waktunya. Main ke kota itu bahaya loh, bisa-bisa diculik tuh." Tuturnya.           “Hahhh, kekhawatiranmu berlebihan sih Nif." Balas Nayla.           “Apa yang dikatakan Hanifa itu ada benernya loh Nayl, malam ini kita bisa bermain ke Kanjuruhan bukan berarti kita juga akan berani main ke kota, aku yakin ada saatnya nanti kalau kita sudah sama-sama sudah masuk di kelas SMA." Sahut Ninin.           “Iya, aku cukup setuju dengan apa yang dikatakan Hanifa Nayl." Timpal Putri.           “Hmmm, iya deh aku nurut kalian aja." Pungkas Nayla.           Begitulah karakter Hanifa, sejak dulu sampai sekarang selalu bisa memberikan nasihat serta pendapat yang baik dan bisa diterima. Ya, karena Hanifa memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap teman-temannya, jadi jika ada sesuatu yang sekiranya akan berdampak tidak baik, Hanifa langsung meluruskannya.           Anak berumur sebelas tahun seperti Hanifa itu memang langka, karena tak semua anak bisa memiliki karakter yang bagus sepertinya. Bukan hanya soal nasihat saja yang selalu Hanifa berikan, tetapi dia juga pandai dalam memberikan solusi jika terjadi suatu permasalahan yang datang pada grup mereka maupun di luar itu.           Perjalanan yang tidak sampai memakan waktu setengah jam pun telah mereka lalui, kini tiba saatnya mereka menikmati malam Minggu yang penuh akan kelabu. Tak seperti biasanya, di malam ini stadion Kanjuruhan begitu sangat ramai sampai-sampai mereka kesulitan yang mau berjalan karena saking padatnya.           “Alhamdulillah sepertinya kita sudah sampai nih." Ucap Putri.           “Syukurlah, oh ya malam ini kita ke mana dulu nih?" Tanya Ninin.           “Hmmm, kalau menurutku gimana kalau kita naik kereta motor dulu." Usul Putri.           “Temen-temen, kalian tunggu di sini dulu aja ya, aku mau ke toilet sebentar." Keluhnya.           “Ahhh dari tadi di rumah ngapain aja Nayl, ya sudah cepat sana!" Seru Ninin. ***           Malam yang penuh dengan keramaian, ditambah dengan cuaca dan suhu yang sangat mendukung membuat mereka betah lama-lama di tempat ini. Kini saatnya mereka menaiki sebuah mobil bak terbuka yang didesain menyerupai kereta, saat kereta tersebut melaju mereka kembali menikmati perjalanan dengan memutari jalanan stadion Kanjuruhan.           “Wah kalau caranya begini, bisa-bisa malam ini kita nggak pulang deh, hahaha." Celetuk Putri.           “Ihh kamu ini Put, emang kita mau tidur di sini apa." Sahut Ninin.           “Kalau misal tadi Hanifa bawa gitar kan enak ya bisa sambil nyanyi-nyanyi." Terang Putri.           “Gila kamu Put, ntar dikirain pengamen dah." Timpal Hanifa.           “Bercanda kalee." Jawab Putri.           Setelah puas berkeliling-keliling, kini tiba saatnya mereka menikmati semangkok bakso di warung pujasera terdekat. Sambil duduk berlesehan mereka berempat mulai ngobrol, entah apa topik yang akan mereka bicarakan yang pasti seputar tentang grup.           “Oh ya, katanya hari Senin besok kita bakal kedatangan guru baru ya?" Tanya Putri.           “Yang aku tahu informasi dari bu Indri sih, sepertinya memang hari Senin besok." Jawab Hanifa.           “Hmmm, kira-kira seperti apa ya gurunya." Gumam Ninin.           “Kalau menurutku sendiri sih terserah gurunya kayak apa asal nggak galak kayak pak Bima." Sahut Nayla.           “Kalau misal lebih galak dari pak Bima gimana?" Tanya Ninin.           “Ya mending aku pindah sekolah aja, hahaha." Celetuk Nayla. ***         Aku mulai terbangun dari tidurku, dan kini tiba saatnya kuharus segera berangkat menuju sekolah di mana diriku akan bertugas, yaitu mengajar sebagai guru di mata pelajaran Seni Budaya. Sebenarnya diriku bukan asli orang sini, asalku dari Jakarta, sengaja aku merantau ke sini dikarenakan dulu pernah kuliah juga di sini, tepatnya di kampus Unisma Malang.           Perjalanan yang kulalui tak sampai satu jam, mungkin hanya sekitar empat puluh menitan. Kini tiba saatnya diriku tiba di sekolah SDN Flamboyan 2. Saatku telah tiba, suasana terlihat sangat sepi, mungkin mereka sedang ada jam pelajaran di kelas.  Aku segera masuk ke ruang kepala sekolah, karena kedatanganku sudah benar-benar ditunggu oleh bu Yuyun selaku kepala sekolah di sekolah tersebut.           Tok tok tok. Aku mulai mengetuk pintu.            “Assalamualaikum.” Sapaku.            “Walaikum salam, dengan pak Vian ya?” Jawab dan tanya oleh bu Yuyun.            “Iya buk benar.” Jawabku.            “Ya sudah mari silakan duduk dulu!” Seru bu Yuyun.           Aku pun segera terduduk di atas sofa empuk yang memiliki panjang sekitar dua meter, yang tepatnya ada di ruangan kepala sekolah ini.            “Jadi begini pak, dengan sengaja waktu lalu saya minta ke pihak dinas agar sekolah ini bisa dikirimkan guru baru untuk mengajar mata pelajaran seni. Apa pak Vian ini siap?” Tanya bu Yuyun.            “Dengan senang hati saya siap buk.” Jawabku.            “Baiklah kalau begitu, tapi ngomong-ngomong apakah pak Vian tidak terganggu sedangkan pak Vian juga masih memiliki jadwal mengajar di sekolah lain?” Tanya bu Yuyun.            “Ya kebetulan jadwal mengajar saya di sekolah lain sedang vakum buk, jadi saya bisa meluangkan banyak waktu untuk mengajar di sekolah ini.” Jawabku dengan pelan.            “Ya sudah kalau begitu, berkas lamaran dari pak Vian sudah bisa saya terima. Dan mulai hari ini pak Vian sudah boleh mengajar di kelas.” Terang bu Yuyun.            “Baik terima kasih kalau begitu buk, saya permisi dulu.” Jawabku.            “Iya pak silakan.” Pungkasnya.           Aku segera keluar dari ruang kepala sekolah, dan kebetulan juga hari ini aku ditugaskan mengajar di ruang kelas lima. Entah bagaimana caranya aku harus membuat suasana baru terhadap mereka, yang jelas hari ini harus bisa menjadi hari spesial yang penuh akan kesan.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN