BAB 2 | PESAN

1021 Kata
"Aku menolak penggabungan kerajaanku dengan Kerajaan Leonword. Silakan katakan pada rajamu, meskipun daerah kekuasaanku sempit bukan berarti segalanya terlihat lemah." Pernyataan sekaligus jawaban Raja Sian ternyata memang menjadi sebuah kemutlakan, membuat sang pengantar surat harus menelan ludahnya yang begitu sulit masuk ke tenggorokan. Bagaimana jika Raja Guan tahu? Bukan amarahnya saja yang bisa membunuhnya, namun menghancurkan kerajaan. Dengan ini satu hal yang pasti; akan terjadi perang besar antara Leonword dan Shiewook. Penyihir kerajaan datang dengan sapu terbangnya yang berwarna emas, lalu menunduk hormat pada sang raja saat sapu terbang miliknya berhenti ditengah jalan raja dan tersenyum tipis. Bukan seorang kakek atau nenek tua yang menjadi seorang penyihir, melainkan wanita cantik dengan keanggunan dan pesona seperti puteri kerajaan. "Anda memanggil saya, Yang Mulia?" Penyihir itu bernama Mellwies, dikenal sebagai salah satu penyihir terkuat di Kerajaan Shiewook, penjaga jantung kerajaan. Lima kristal sekaligus elemen energi bumi, itulah kekuatan kerajaannya. "Mies, antarkan tamu kita ini ke gerbang kerajaan," titah Raja Sian. "Aku ingin dia bisa segera kembali ke kerajaan asalnya dan menyampaikan jawabanku. Sampaikan juga padanya bahwa aku tidak takut jika dia mengancam untuk menyerang kerajaan," Ia menambahkan sebelum kurir Leonword tadi dibawa oleh Mellwies keluar. Usai Mellwies mengantarkan tamu kerajaan tersebut ke gerbang pintu, Putri Ryusin muncul di dalam aula. Selayaknya setiap penghuni istana lainnya, bila mana orang di hadapannya ini sedang berperan sebagai seoarang raja maka ia akan menunduk hormat. "Salam, Bagindaku. Aku datang untuk membuat permintaan padamu." "Silakan, katakan padaku." "Aku ingin mengunjungi makam yang Mulia Ratu, dimana hanya aku dan beberapa pengawal saja yang ke sana. Sebentar lagi Hari Wednez, hari di mana siapapun bisa memberikan hadiah ke pada orang terkasihnya." Putri Ryusin menjeda, dari belakang gaunnya, ia mengeluarkan benda yang disiapkan semalam. Sebuah serpihan kristal blue sky dari inti dan jantung kerajaan diubah menjadi sebuah kalung. "Cantik sekali," puji Raja Sian. Putri Ryusin tersipu malu atas kalung yang begitu cantik dibuatnya itu. "Terima kasih. Apakah hamba diizinkan membawa serpihan kecil kristal untuk disematkan di makam mendiang ratu?" tanya Putri Ryusin lagi, ia tidak mau salah dalam meminta atau berkata sekali pun. "Letakan di tempat di mana tidak ada orang lain bisa mencuri benda tersebut. Itu adalah pusat kekuatan kerajaan dan penyihir kita. Jadi, pastikan pula di sekitarmu tidak ada orang lain selain pengawal kerajaan kepercayaanku," jawab Raja Sian, tegas namun tidak begitu kencang. Setelah mendapatkan izin, Putri Ryusin pergi dan bersiap menuju ke pemakaman kerajaan yang letaknya jauh dari kerajaan. Perjalanan menggunakan kereta kuda supaya lebih cepat sampai. Rupanya, ada seseorang yang membuntuti Putri Ryusin pergi ke pemakaman. Mata-mata kerajaan Leonword yang pergi bersama kurir tadi masih menetap dan bersembunyi di antara pengawal. Karena sesungguhnya ia ditugaskan untuk mencari tahu kelemahan dari musuh. "Kejayaan hanya milik Kerajaan Leonword." *** "Aku menolak penggabungan kerajaanku dengan Kerajaan Leonword. Silakan katakan pada rajamu, meskipun daerah kekuasaanku sempit bukan berarti segalanya terlihat lemah." Pernyataan sekaligus jawaban Raja Sian ternyata memang menjadi sebuah kemutlakan, membuat sang pengantar surat harus menelan ludahnya yang begitu sulit masuk ke tenggorokan. Bagaimana jika Raja Guan tahu? Bukan amarahnya saja yang bisa membunuhnya, namun menghancurkan kerajaan. Dengan ini satu hal yang pasti; akan terjadi perang besar antara Leonword dan Shiewook. Penyihir kerajaan datang dengan sapu terbangnya yang berwarna emas, lalu menunduk hormat pada sang raja saat sapu terbang miliknya berhenti ditengah jalan raja dan tersenyum tipis. Bukan seorang kakek atau nenek tua yang menjadi seorang penyihir, melainkan wanita cantik dengan keanggunan dan pesona seperti puteri kerajaan. "Anda memanggil saya, Yang Mulia?"  Penyihir itu bernama Mellwies, dikenal sebagai salah satu penyihir terkuat di Kerajaan Shiewook, penjaga jantung kerajaan. Lima kristal sekaligus elemen energi bumi, itulah kekuatan kerajaannya. "Mies, antarkan tamu kita ini ke gerbang kerajaan," titah Raja Sian. "Aku ingin dia bisa segera kembali ke kerajaan asalnya dan menyampaikan jawabanku. Sampaikan juga padanya bahwa aku tidak takut jika dia mengancam untuk menyerang kerajaan," Ia menambahkan sebelum kurir Leonword tadi dibawa oleh Mellwies keluar. Usai Mellwies mengantarkan tamu kerajaan tersebut ke gerbang pintu, Putri Ryusin muncul di dalam aula. Selayaknya setiap penghuni istana lainnya, bila mana orang di hadapannya ini sedang berperan sebagai seoarang raja maka ia akan menunduk hormat. "Salam, Bagindaku. Aku datang untuk membuat permintaan padamu." "Silakan, katakan padaku."  "Aku ingin mengunjungi makam yang Mulia Ratu, dimana hanya aku dan beberapa pengawal saja yang ke sana. Sebentar lagi Hari Wednez, hari di mana siapapun bisa memberikan hadiah ke pada orang terkasihnya."  Putri Ryusin menjeda, dari belakang gaunnya, ia mengeluarkan benda yang disiapkan semalam. Sebuah serpihan kristal blue sky dari inti dan jantung kerajaan diubah menjadi sebuah kalung.  "Cantik sekali," puji Raja Sian.  "Terima kasih. Apakah hamba diizinkan membawa serpihan kecil kristal untuk disematkan di makam mendiang ratu?" tanya Ryusin. "Letakan ditempat di mana tidak ada orang lain bisa mencuri benda tersebut. Itu adalah pusat kekuatan kerajaan dan penyihir kita. Jadi, pastikan pula di sekitarmu tidak ada orang lain selain pengawal kerajaan kepercayaanku," jawab Raja Sian, tegas namun tidak begitu kencang. Setelah mendapatkan izin, Putri Ryusin pergi dan bersiap menuju ke pemakaman kerajaan yang letaknya sedikit jauh dari kerajaan. Perjalanan menggunakan kereta kuda dengan sedikit bantuan kekuatan sihir dari penyihir kerajaan supaya lebih cepat daripada menggunakan kekuatan normal. Rupanya, ada seseorang yang membuntuti Putri Ryusin pergi ke pemakaman. Mata mata keraajaan Leonword bernama Argon yang pergi bersama kurir tadi masih menetap dan bersembunyi diantara pengawal. Karena sesungguhnya ia ditugaskan untuk mencari tahu kelemahan dari musuh. Sejauh ini, Argon melihat betapa sayangnya Raja Sian kepada Putri Ryusin. Karena pengawal yang diutus sang raja merupakan salah satu ksatria tangguh dan unggulan. Argon bisa merasakan kekuatannya hanya dari penampilan dan tatapan mereka. "Untungnya burung pipit kepercayaanku bisa membuntuti mereka yang sudah melesat jauh. Kuharap tidak akan ketahuan," gumam Argon yang mengikuti jejak yang ditinggalkan burungnya menggunakan biji-bijian yang disebar ke tanah.  Jejak itu kemudian berhenti di depan gerbang kawasan makam untuk para bangsawan dan kekaisaran. Argon tahu tempat ini meskipun hanya sekali dulu datang untuk mengantarkan salah satu kerabatnya yang seorang Count meninggal dan dimakamkan di sana. Kereta kuda milik Putri Ryusin terlihat dari kejauhan.  Argon kembali membuntuti rombongan Putri Ryusin hingga di dekat makam mendiang ratu. Sekecil apapun informasi yang dia dapat dari percakapan Putri Ryusin di sana, pastilah cukup berguna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN