"Nek, Nadia pulang dulu ya, kapan-kapan lagi Nadia pasti ke sini," ucao Nadia sambil mengelus batu nisan sang nenek setelah ia berziarah di sana. Untuk kesekian kalinya setiap ia merasakan kesedihan atau tak tahu lagi harus melakukan apa, ia pasti pergi ke tempat di mana seharusnya ia bercerita, makam sang nenek. Ada kesedihan mendalam yang ia rasakan meskipun kini kesedihan itu sudah perlahan menghilang karena ia sudah bercerita semuanya dengan kuburan sang nenek. Ia kini berusaha menenangkan dirinya mengikhlaskan semua yang terjadi, jika bukan miliknya pasti pergi, jika miliknya pasti akan datang kembali. Ia tak perlu sedramatis itu hanya karena laki-laki yang selain ia anggap sebagai seorang yang ia sahabat juga ia sukai ternyata sudah memiliki seorang kekasih. Sebenarnya juga buk

