"Kami dan keluarga Nadia sudah memiliki kesepakatan tentang perjodohan ini, Bu." Begitu kata Gery ketika dirinya dipanggil kepala sekolah saat hari pertama datang setelah satu bulan diskors.
"Apa Nadia juga tahu tentang perjodohan ini?" tanya Ibu Kepala Sekolah.
"Untuk sekarang Nadia belum tahu apapun tentang perjodohan itu," kata Gery. "Ini keinginan orangtua saya dan orangtua Nadia, jika alasannya kenapa, karena mereka ingin kebahagiaan untuk Nadia. Mungkin jika dengan saya sifat Nadia juga perlahan-lahan nanti bisa berubah menjadi lebih baik."
"Setelah saya mendengar hal itu, saya kini tahu alasan kenapa Bapak seolah ingin dekat dengan Nadia. Lalu mengapa tidak mengatakannya saat sebelum Bapak diskors?"
"Bukan saya tidak ingin mengatakannya, tapi saya belum siapa saja mengatakan pada orang lain. Apalagi Nadia belum tahu kenapa saya bisa begitu dekat dan peduli padanya," ujar Gery. "Beberapa minggu lalu ketika saya datang ke rumahnya untuk bertemu dengan orangtuanya, untungnya Nadia tak curiga sama sekali."
"Sekarang jelas sekali, Pak. Saya tidak akan melarang kedekatan Bapak dan juga Nadia, tapi mohon jaga jarak jika di sekolah."
Gery mengangguk mengerti dengan ucapan Ibu kepala sekolah itu, sejak saat itulah kedekatan antara Gery dan Nadia tak akan diikut campuri oleh pihak sekolah. Gery juga sudah mengatakan hal yang sama pada Nadia, meskipun Nadia belum mendapatkan jawaban yang pasti kenapa sekolah tak melarangnya lagi, karena Gery tak mengatakan apapun.
Namun, meskipun sekolah tak lagi ikut campur begitu juga orangtuanya yang meminta Gery untuk menjaga Nadia, tapi sepertinya Nadia belum sama sekali memiliki sifat untuk sedikit peduli pada gurunya itu. Ia bahkan tak memikirkan apapun selain sedikit risih dan kadang menjauh karena sikap Gery padanya begitu menyebalkan, kiranya begitu yang dipikirkan Nadia.
"Bapak gak ngajar?" tanya Nadia pada Gery.
Entah itu hari keberapa saat mereka lagi-lagi bersama di atas atap sekolah, Nadia dengan santainya merokok di samping gurunya itu sedangkan Gery sendiri sedang menikmati cemilan manisnya.
Gery sebenarnya tak terbiasa merokok, ia hanya ingin berbaur saja dengan Nadia tapi ternyata malah berlebihan. Merokok hal baru yang ia lakukan, biasanya ia tak pernah melakukan hal itu sejak kecil. Ia menjaga dirinya sendiri, berbeda dengan Rio yang sudah biasa merokok sejak SMA. Gery tak melarangnya, karena itu hidup dan privasi Rio. Apa haknya ikut campur?
"Kamu sendiri kenapa gak masuk kelas?"
"Males, saya gak suka pelajaran matematika, memusingkan. Ngapain juga belajar begituan, terlalu rumit."
"Terus kamu sukanya apa? Dari belasan pelajaran, gak mungkin kan gak ada yang kamu suka."
"Saya suka bahasa Inggris, nanti kalau pun kuliah mungkin mau ngambil bahasa Inggris saja. Kalau pun saya kuliah."
"Kamu masih memikirkan untuk kuliah?"
"Kadang kepikiran sih. Menurut Bapak gimana?"
"Kamu minta saran saya? Tumben sekali," kata Gery. "Kalau memang niat ingin lanjut kuliah bagus-bagus saja, tapi sekarang kamu masih sekolah, beberapa bulan lagi sampai kau lulus. Kalau kamu terus begini gimana mau lulus, nilaimu saja pasti kurang."
Nadia terdiam memikirkan itu, seolah pikirannya sedang campur aduk tentang apa yang akan terjadi nanti. Ia juga sedang bingung, disatu sisi ia ingin melanjutkan kuliah bersama dengan teman-temannya, disatu sisi ia begitu malas belajar.
Namun, benar kata Gery beberapa bulan lagi akan ujian dan jika ia tak berubah guru pasti tak mau memberikannya nilai. Mungkin sebelumnya ia tak peduli dengan semua itu, tapi perlahan ia sadar bahwa ia tak mungkin terus begini.
"Jika kamu ingin kuliah, pikirkan dulu yang ada sekarang. Tak mungkin kan kamu nyogok untuk lulus sekolah, saya yakin orangtuamu pasti gak mau." Setelah mengatakan itu Gery bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Nadia yang di sana seorang diri.
Nadia yang masih di sana berpikir, ia matikan rokok yang masih ada setengah barang itu. Setelah itu ia pun beranjak dari duduknya dan mengikuti Gery untuk turun dari atas atap sekolah itu untuk menuju kelasnya.
Begitu sampai di lantai bawah ia langsung menuju kelasnya, yang ternyata sedang jam kosong. Di sana masih ada teman-temannya termasuk gang kampretnya. Wajar saja karena sekolah memiliki peraturan bahwa anak-anak meskipu jam kosong jika belum waktunya istirahat dilarang keluar baik ke kantin ataupun tempat lainnya.
"Nadnad, kok tumben lu cepat balik dari atap." Robby mengucapkan hal itu saat menyadari bahwa Nadia sudah kembali dari atas atap karena biasanya ia akan di sana cukup lama.
"Mendung, kayaknya mau hujan," kata Nadia. "Ini gak belajar ya."
"Kagak, jam kosong. Gurunya gak ada," ujar Nabila.
"Syukur lah, gue bisa tidur." Setelah mengatakan hal itu Nadia menelungpkan wajahnya dan kemudian menutupnya dengan tangan.
"Eh Nad, gue mau ngomong sesuatu boleh gak sih?" tanya Robby kemudian duduk di depan Nadia yang tengah tidur.
"Apaan, kalau gak penting gue gedik lu," kata Nadia.
"Lu punya hubungan apa sih sama kak Revan, kayaknya gak sebatas teman biasa, kan?" tanya Robby lagi. "Sorry gue kepo."
Mendengar ucapan Robby itu, seketika Nadia pun membuka wajahnya. Tumben sekali teman-temannya itu menanyakan hubungannya dengan Revan, jika dibilang cuma teman biasa sepertinya lebih dari itu, sahabat tapi rasanya aneh, sedangkan kekasih mereka tak pernah saling mengikat.
"Sahabat biasa aja," kata Nadia. "Kalian juga tau kan kalau gue udah sahabatan sama Kak Revan dari jaman SD, Ernest juga tahu."
"Tapi kayaknya lu suka sama kak Revan, kan?" Ernest langsung menembak dengan pertanyaannya. "Soalnya hubungan persahabatan dua orang antara laki-laki dan perempuan pasti salah satunya menyimpan perasaan."
"Kenapa sih lu pada tanyanya gitu, emang ada yang salah ya kalau gue suka sama kak Revan, toh dia laki-laki dan gue perempuan," ujar Nadia.
"Gak ada yang salah, kita mendukung. Cuma gue mau bilang, kalau malam pas kak Revan nginap di villa gue denger dia lagi diam-diam telponan sama cewek, gue yakin cewek," ucap Robby.
"Temannya mungkin." Nadia masih menjawab santai seolah ia tak ingin memikirkan apapun itu, karena setelah mengetahui sendiri ia juga berpikir hal yang sama seperti apa yang dikatakan Robby.
"Enggak mungkin. Bukan gitu caranya ngomong sama temennya, lagian itu malam hari dan kayaknya itu ceweknya. Nad gue gak ngomong macam-macam, cuma ngasih tau lu aja." Begitu kata Robby.
"Kita tahu mungkin ini kayaknya aneh dan seolah ikut campur, tapi Nad kita ini sayang sama lu," ucap Nabila.
Nadia masih diam terdiam mendengar ucapan teman-temannya itu. Sebenarnya pikiran mereka sama seperti apa yang ia pikirkan. Memang sudah seharusnya ia tak perlu sekhawatir ini karena jika memang Revan sudah memiliki kekasih ia bisa apa, biarkan Revan menikmati hidupnya sebagai anak muda.
Namun, ada satu hal yang ia tak terima, kenapa Revan tak mengatakan hal itu. Padahal ia ingin Revan terbuka, karena mereka sudah bilang bahwa akan bersahabat dan mengatakan semua hal yang mereka rasakan. Ia akan mengesampingkan perasaanya jika memang harus merelakan Revan untuk perempuan lain.
Meskipun sulit mungkin itu cara terbaik jika ingin melihat Revan bahagia, meskipun tanpa dirinya.
Sekarang mungkin ini terlalu dini untuk memikirkan itu, tapi jika tidak saat ini mau kapan lagi, apa ia harus terus menyukai orang yang tak akan menyukainya.