Sily menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia menatap kosong ke arah botol kosong yang ada di depannya. Tangannya memegang sebuah pompa khusus untuk ASI. Sily tidak tahu bagaimana cara memakainya. “Aduh, Sily mesti gimana, ini?” gumamnya. Tentu saja Sily kebingungan. Biasanya ia akan menyusui Disha langsung. Hanya saja, ASInya lumayan banyak, jadi sangat sayang jika terbuang. Disha juga tidak meminum ASI sebanyak itu. Sily menghela napas berat. Ia mengambil ponselnya lalu menelepon Daren. “Om dokter, Sily bingung,” adunya. Daren masih di rumah sakit dan baru diperbolehkan pulang besok. “Bingung kenapa?” “Gimana cara Sily pompa ASInya, ya? Sily enggak tahu. Kak Thania gak ada, hp-nya gak aktif. Masa Sily tanya Amey?” “Mama mana? Bi Ratih?” “Tante-Mama tidur sama Disha. Sily ga

