Sisi romantis

1024 Kata
Beberapa menit kemudian mereka sampai di cafe tempat pertemuan mereka. Lala masuk ke dalam bersama Kavya yang harap-harap cemas dengan pertemuan mereka nanti. Kavya berjalan sambil menunduk, malu mengangkat kepala dan melihat calon suaminya nanti. "Mereka di sana Kavya," ucap Lala melihat lambaian tangan suaminya. Setiap melangkah menghampiri mereka, Kavya semakin takut. Dia sungguh tidak siap menampakkan dirinya sekarang tapi ia tak punya pilihan lain. "Sayang, maaf yah aku terlambat. Tadi sedikit macet." Lala langsung memeluk suaminya yang sudah lama menunggu mereka. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Oh, ya. Dimana anak sahabat mu, yang akan di jodohkan dengan temanku?" pria itu tampak penasaran siapa wanita yang akan diberikan kali ini. "Ini sayang. Aku sudah membawanya." Lala langsung menarik kedua bahu Kavya agar mendekat. "Angkat kepalamu Kavya! Jangan menunduk?! Lihat calon suamimu," bisik Lala memintanya agar bisa percaya diri. Kavya yang ragu meremas ujung dress nya, perlahan mulai mengangkat kepala dan tatapan matanya langsung bertemu dengan seorang pria tampan. Rahang yang kokoh, hidung mancung, mata sipit, dan bibir kecil. Bola matanya hitam pekat dan tingginya sekitar 175 cm. Dada Kavya berdetak kencang, ia tidak percaya bisa melihat pria tampan yang hanya di lihatnya di TV. Dia bertanya-tanya dalam hati siapa pria ini. "Perkenalkan ini suamiku bernama Lian. Dan di sampingnya adalah calon suamimu." Suara Lala yang antusias, meminta suaminya agar mereka berkenalan. Setelah itu pria di sebelahnya maju selangkah. "Hai, aku Han Fengying. Pria yang akan menikah denganmu." suaranya serak langsung mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Dia menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Kavya yang mengerti perkataannya langsung tersenyum dan menyambut tangan pria tersebut. "Kavya Arora." jawabnya singkat menggunakan bahasa Inggris juga. "Kamu keturunan Chinese juga?" Fengying yang merasa terpukau dengan kecantikan Kavya juga kini membuka obrolan lagi. Di mata Fengying, dia bukan wanita Indonesia. Umumnya kulit orang Indonesia dominan sawo matang tapi Kavya memiliki kulit yang putih bersih dan mata sipit juga. "Bukan, aku asli orang Indonesia." Kavya yang malu di kira orang China menjadi semakin canggung. Mereka berdua duduk dengan saling berhadapan. Sementara Lala dan suaminya saling berhadapan juga. Mereka duduk di kursi yang terdiri dari empat buah dengan meja persegi panjang. Ada vas bunga juga berdiri tegak di tengah-tengah meja. "Aku tidak percaya kamu orang Indonesia. Kamu cantik sekali, Kavya. Mungkin jika kamu datang ke China. Orang-orang di sana tidak akan percaya kamu asli orang Indonesia." tawa Fengying terdengar renyah. Pria itu memiliki wajah yang selalu tersenyum. Dia juga ramah, tidak menjadikan obrolan mereka menjadi membosankan. "Anda terlalu berlebihan memujiku." pipi Kavya langsung merona mendengar semua perkataan Fengying sama sekali begitu manis. "Kamu pantas di puji." Fengying tersenyum kembali semakin membuat Kavya terpesona. Pertemuan mereka sangat menyenangkan. Jika pria seperti ini yang Lala pilihkan untuknya, dia yakin sekali kalau mereka berdua sangat cocok. Fengying memanggil writer untuk memesan makanan. Sesekali ia melirik Kavya yang menunduk malu. "Aku pesan jus jeruk dan chicken katsu. Kamu mau pesan apa Kavya?" ia meminta writer untuk mencatat pesanannya. Fengying bertanya pada Kavya. Masakan apa yang ia inginkan. "Terserah," jawab Kavya singkat. Dia sungguh bingung apa yang harus dia pesan. Ini kali pertama ia bisa menikmati makanan lezat. "Tak ada menu terserah di cafe ini. Kamu harus memilih, Vya." giliran Fengying tersenyum bingung dengan wanita yang ada di depannya itu. "Kalau begitu, menunya sama dengan anda." Wanita itu mana tahu, makanan mahal. Dia hanya ikut apa yang Fengying pesan. "Baiklah." Fengying memberitahu waiter itu untuk menunya dua porsi. Setelah mereka berdua memilih, giliran Lala dan Lian memesan makanan mereka. Beberapa menit menunggu akhirnya pesanannya tiba. Mereka semua menyantap makanan itu dengan tenang. Kavya yang baru pertama kali melihat makanan lezat itu, memakannya dengan cepat. Sungguh ini makanan terenak yang pernah ia cicipi. Lala yang melihat tingkah Kavya yang seperti orang rakus, hanya melototkan matanya. Dia sungguh malu dengan cara makan Kavya yang tidak elegan. "Pelan-pelan Kavya. Nanti kamu tersedak jika makan rakus seperti itu." Lala menggunakan bahasa Indonesia memperingati Kavya agar pria di depannya ini tidak mengerti tegurannya. "Maaf, Tante. Makanannya enak sekali." Kavya hanya tersenyum tidak memasukkan di hati perkataan Lala. "Tante tahu. Tapi jangan juga dong kamu malu-maluin tante makan rakus begitu. Kamu mau di tolak sama calon suamimu?" Lala kesal dengan Kavya yang terlalu kampungan. "Iya, Tante. Aku akan makan pelan-pelan." Kavya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu menyendok nasinya pelan-pelan. Semua orang memakai sumpit, tapi Kavya memilih sendok. Dia tahu diri tidak ingin mempermalukan Lala dengan kebodohannya yang tidak bisa makan memakai sumpit. Lala bersyukur untuk itu, setidaknya Kavya mengerti kalau ia harus pintar mencari alat makan yang cocok dengannya. Kavya menghabiskan makannya, ia memandang Fengying yang terus menatapnya. Dan tak lama kemudian pria itu mengambil sisa nasi yang menempel di sudut bibir Kavya dan membuangnya. Semua orang tertegun terutama Kavya, sikap romantis yang Fengying tunjukkan membuat Lala semakin senang. Dia yakin sekali misinya kali ini berhasil. Ia mampu membuat Fengying menyukai Kavya. "Aku rasa kalian membutuhkan waktu lebih lama untuk berkencan. Fengying, aku pulang duluan, Yah. Kamu bisa mengantar Kavya ke rumahku langsung." Lala pamit bersama Lian untuk lebih dulu kembali ke rumah ia mengaitkan tasnya di bahu wanita itu bersiap pergi. "Okay, aku akan mengantar Kavya nanti. Masih banyak yang harus aku katakan padanya." Fengying sangat setuju jika Lala pergi. Kehadiran mereka hanya menjadi pengganggu saja. "Fengying... Jaga Kavya baik-baik! Kami pergi dulu." Lian juga membuka suara meninggalkan mereka yang hanya duduk berdua di meja. Ada banyak hal yang ingin Kavya katakan pada Fengying, dia harus mengetahui bagaimana visi dan misi pria tersebut selama menjadi suami istri. Apalagi budaya mereka sangat berbeda hingga tidak mudah untuk di satukan begitu saja. "Kavya... Aku akan jujur padamu. Mungkin Lala sudah mengatakan padamu jika aku mencari seorang istri yang akan tinggal di negaraku. Ya, semua yang terjadi mungkin terlalu cepat tapi kamu harus mendengar semua alasanku dulu. Aku rasa kamu wanita yang cocok untuk menjadi istriku. Kamu cantik, pintar, dan punya kepribadian baik. Itu semua sudah cukup bagiku," jelas Fengying panjang lebar. Kavya tampak berpikir keras dengan semua perkataan Fengying yang terus saja memujinya. Tapi Kavya tak membutuhkan itu, dia hanya ingin sebuah perjanjian dengan Fengying. Masalah tentang ekonomi keluarganya yang di bawah garis kemiskinan. Kavya harus mengatakan semuanya agar tak salah paham nanti di antara mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN