Terluka

1066 Kata
Setelah tiba di rumah, Kavya berjalan santai memasuki rumahnya berniat untuk mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Mungkin saja beban hatinya akan hilang bersama air yang mengalir. Beberapa menit bergulat dengan perasaannya sendiri di dalam kamar mandi Kavya meraih kimono yang bergantung di dinding, membalut tubuhnya yang terekspos lalu keluar dari sana. Sebelum mengenakan pakaian Kavya merebahkan dirinya di atas kasur. Ia mengadah ke atas menatap langit-langit kamarnya yang di hiasi lampu kristal. Air mata menetes membasahi kasurnya, kenapa hatinya begitu sakit padahal setiap orang merasa bahagia di hari pernikahannya. Kenapa hidupnya sekacau ini? Helsi sangat membencinya bahkan menganggapnya pembawa sial. Sakit hati meluluhlantahkan perasaannya. Menyakitkan sekali berada di posisi gadis itu, Ia mengganti posisi tidurnya memiringkan tubuhnya, meringkuk bagai anak kecil yang ketakutan di sela tangisnya. Kavya sungguh mencintai Fengying tapi Helsi tak pernah setuju mereka bersama padahal Helsi Bibinya sendiri. Pernikahan yang di laksanakan hari ini sungguh rumit, Kavya tidak tahu apa yang harus ia lakukan di masa depan. Ia berharap mertuanya berubah dan mau membuka hatinya. Kavya akan berusaha mengambil hati mertuanya agar pernikahan mereka baik-baik saja dan Helsi takkan membencinya lagi. Matanya mulai mengantuk, tiba-tiba suara dering ponselnya berbunyi di atas nakas. Kavya buru-buru mengangkat panggilan dari pemanggil melalui ponsel itu. "Halo, sayang. Kau sudah ada di rumah?" suara Fengying tampak kKavyatir. "Yah, aku sudah di rumah. Apa Mama sudah sadar?" tanya Kavya masih kKavyatir. "Iya, sayang. Mama sudah sadar. Aku akan pulang ke rumah nanti malam dan tidak akan melewatkan malam pertama kita." "Tidak, Fengying. Aku akan kesana melihat kondisi Mama. Kita tunda saja malam pertama kita biar aku yang menjaga Mama hari ini." Kavya tidak ingin menjadi menantu durhaka yang lebih memilih kepentingan dirinya sendiri. "Sayang, dengarkan aku. Mama masih shock karena pernikahan kita dan kau tahu benar bagaimana sikap Mama pFengyingu selama ini. Aku tidak mau kondisinya semakin memburuk dan aku juga tidak mau kau terus-terusan di hina. Jadi, aku mohon dengarkan aku sekali ini saja. Lagian Papa sudah menjaganya disana. Tunggu aku di rumah!" nasehat Fengying begitu panjang pada istrinya walau bagaimanapun ia tidak suka istrinya di hina sekalipun oleh ibunya. "Baiklah, aku akan menurutimu. Cepatlah pulang aku kesepian disini Fengying. Aku sudah sangat siap sekarang. Apa kau tak merindukan istrimu ini?" rajuk Kavya memberi pancingan pada suaminya kalau istrinya sudah lama menunggu. "Wah, wah. Apa kau sedang menggodaku sekarang? Sejak kapan kau belajar menjadi w*************a seperti ini. Persiapkan dirimu! Aku akan menerkammu habis-habisan malam ini sampai kau meminta ampun." pikiran kotor suaminya menggebu-gebu bersiap di lepaskan. "Dasar m***m! Aku memancing sedikit saja kau sudah di penuhi pikiran yang liar." tawa Kavya terdengar renyah menertawai tingkah Fengying yang lucu. "Tertawalah sesuka hatimu aku akan membalasmu nanti malam di atas ranjang hingga kau menjerit," tukas Fengying menakuti istrinya. "AWAS KAU Fengying!" teriak Kavya. Ia berhenti tertawa saat mendengar Fengying yang sebentar lagi pasti akan membuktikan perkataannya. "Mau bagaimana lagi, sayang. Aku sudah tidak sabar lagi." "Sudah dulu, yah. Aku punya banyak pekerjaan disini. Sampai ketemu nanti malam." Kavya buru-buru menutup telpon sebelum ia mendengar hal yang lebih gila lagi keluar dari mulut suaminya. "Ta-tapi---" Wanita itu ingin sekali marah pada suaminya tapi mau bagaimana lagi Fengying selalu membuat marahnya hilang karena tingkahnya. Bertahun-tahun saling kenal membuat Kavya tahu benar bagaimana sifat suaminya. Termasuk memilih cat rumah ini mereka harus berdebat terlebih dahulu sampai akhirnya Fengying mengalah, ia tidak ingin melihat Kavya menangis. Rumah yang mereka tempati sekarang dari hasil kerja keras Fengying sebagai seorang pemegang perusahaan ternama di Jakarta. Antana Group adalah nama perusahaan yang di wariskan oleh Papanya, Fengying terkenal cerdas dan tampan di kalangan pengusaha muda yang di incar kaum wanita. Fengying terkenal dingin di kalangan orang asing yang tidak terlalu mengenalnya tapi bagi orang yang mengenal baik Fengying, ia pasti tahu lelaki itu sangat ramah dan bersahaja. Fengying lelaki sempurna di mata semua orang termasuk Kavya. Kisah cinta mereka bermula saat melihat Kavya pertama kali di toko bunga miliknya. Memang benar mereka keluarga tapi mereka tidak saling kenal karena sejak kecil Fengying tinggal di luar negeri bersama orang tuanya dan keluarga Fengying baru kembali 7 tahun lalu. FLASHBACK ON Awal mereka bertemu saat Helsi dan anaknya singgah di toko bunga Kavya untuk membeli bunga. Helsi sangat marah melihat Kavya, ia tidak akan mungkin lupa raut wajah keponakannya itu saking marahnya ia memecahkan banyak pot bunga disana. PRANG!! "Ternyata toko bunga ini milikmu anak pembawa sial," jerit Helsi menghamburkan pot bunga yang tertata rapi di rak. "Apa yang kau lakukan pada bunga-bungaku?" Kavya menangis sambil mendengar penjelasan Helsi siapa dia yang sebenarnya. Kavya yang baru tahu kalau memiliki seorang Bibi, hatinya sangat hancur melihat kebencian di mata saudara kembar ibunya. Kavya menangis sambil membereskan pot bunga yang berserakan di lantai, Fengying terpukau melihat kesabaran gadis itu, ada daya tarik tersendiri menggetarkan hati Fengying. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, seolah Kavya adalah magnet baginya yang menjadi candu. Tak ada seorang wanita manapun membuat Fengying jatuh hati seperti yang ia rasakan pada Kavya. Helsi pergi ke mobil meninggalkan toko bunga itu dan tinggallah Fengying disana masih terus saja menatap Kavya yang membereskan pot yang berserakan di lantai. Lamunannya buyar saat mendengar suara kesakitan. "Auuhh!" jerit Kavya seketika pot bunga itu merobek kulit di jari telunjuknya. Terasa perih tapi lebih perih dengan hatinya yang di injak-injak oleh Bibinya sendiri. "Kau tidak apa-apa?" tanya Fengying meraih jemari itu dan menghisapnya supaya darahnya berhenti mengalir. "Hey! Itu jorok." Kavya heran dengan tingkah laku pria di depannya. Ia langsung menarik jarinya dari mulut Fengying. "Tidak! Darahmu sangat manis, semanis dirimu tulang rusukku," goda Fengying. "Aku pikir kau orang gila yang masuk di toko bungaku. Berani sekali mengakuiku sebagai tulang rusukmu." Kavya begitu jengkel pada pria asing itu. "Kau memang tulang rusukku! Aku Fengying dan kau Kavya." Candanya lagi menatap ekspresi aneh Kavya. Ia tidak menyangka namanya bisa di kenali. "Bagaimana kau tahu namaku?" "Tentu saja aku tahu. Lihatlah! Nama tokomu itu Kavya FLOWERS, Kan?" tangannya menunjuk papan nama toko bunganya. Kavya mengernyitkan dahi baru kali ini menemukan pria yang aneh. Beberapa menit kemudian suara klakson berbunyi nyaring sebagai tanda dari Helsi untuk memanggil Fengying pergi. "Dasar kau ini! Pulanglah, Mamamu sudah memanggilmu." "Baiklah, aku pergi dulu. Fengying dan Kavya pasti akan bertemu kembali karena mereka di ciptakan untuk bersatu." Fengying tersenyum sambil melambaikan tangannya tidak ingin berpisah. "Terserah kau saja!" acuh Kavya. Sejak hari itu Fengying sering datang ke toko Kavya dan lama kelamaan akhirnya Kavya luluh dan membalas cinta Fengying.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN