Melihat Foto calon pria

1094 Kata
Keesokan harinya, Kavya pagi-pagi buta sudah mandi dan berhias diri. Ia tidak mau terlihat jelek di mata sang calon pengantin. Lala berjanji akan mempertemukan mereka dulu. Kavya mengenakan dress selutut warna krem hasil buatannya sendiri. Ia menatap dirinya di cermin yang sudah memakai make up tipis dan lip gloss pink serta rambut jatuh yang di urai. Entah kenapa dia terlihat feminim dan lebih dewasa sekarang. Kavya memang akan menjadi orang dewasa karena sebentar lagi ia akan menikah dengan orang yang tidak di ketahui bagaimana karakternya. Kavya terkejut dengan suara isak tangis ibunya yang duduk bersandar di dinding papan rumahnya. Ria menutup wajahnya dengan tangan tidak ingin menunjukkan bulir-bulir air mata yang menderas di pipinya. Perlahan Kavya menoleh dan mendapati ibunya yang bersedih. Dia menghampiri Ria dan memeluknya erat, rasa sakit orang tua yang bersedih saat berpisah dengan anaknya turut Kavya rasakan. "Kavya ... Maafkan ibu yang sudah membuatmu susah dan menjadikan dirimu ini sebagai tebusan. Ibu bukan orang tua yang baik, selama ini ibu tidak bisa memberimu kebahagian," seru Ria masih menangis sesenggukan. Suara tangis Ria bagai mimpi buruk untuk Kavya, ia tidak menyangka ibunya akan sesedih ini ingin berpisah darinya. "Bu ... Ibu jangan ngomong begitu! Kavya bahagia lahir dari rahim ibu yang hebat seperti ibu. Kavya mau Ibu baik-baik saja di sini. Lagipula, nanti aku bisa pulang menemui ibu kalau Kavya kangen." Pelukannya semakin erat menandakan bahwa ia terluka dengan kesedihan ibunya. "Anak ibu sudah besar dan secantik ini. Kamu sudah dewasa sekarang, ibu tak bisa mengurung dirimu lagi di rumah ini. Kamu bebas memilih, Nak. Asalkan kamu mau berjanji jaga diri baik-baik di sana," ujar Ria menghapus air matanya lalu memegang kedua pipi Kavya dan mengecupnya. Ria berusaha kuat tak ingin bersedih di hadapan anaknya. Ia takut Kavya malah stress mengkhawatirkan dirinya. Kavya tersenyum memeluk Ria sekali lagi. Dia tidak sanggup berpisah dengan ibunya namun semua yang di lakukan untuk kebaikan bersama. "Vya, siap untuk jagain ibu dan aku harap semua pengorbanan ku ini tidak sia-sia. Aku sudah tidak sabar menunggu Tante Lala datang, semoga saja ada kabar baik." Kavya senang dengan Lala yang begitu baik mau membantunya. "Bersabarlah, Vya. Sebentar lagi Lala akan datang. Kamu ini semangat sekali seperti menunggu lotre impian mu." Ria menggelengkan kepala tidak mengerti. "Ini memang Lotre, Bu. Siapa lagi yang bisa membantu kita selain tante Lala, aku tidak bisa bayangkan jika kita akan hidup terlunta-lunta di jalanan tanpa rumah. Aku tidak mau itu terjadi apalagi adikku juga sekolah sekarang dan butuh biaya. Ini kesempatan besar untuk kita Bu." apapun yang terjadi ia tak boleh menunjukkan kesedihan sedikitpun. "Aku sangat khawatir, Nak. Jangan sampai kamu kenapa-kenapa di sana dan Ibu jauh di desa ini. Ibu tidak akan bisa melihat mu menderita sementara ibu di sini hidup dengan tenang." Raut wajah Ria murung. Ia mengambil nasi yang sudah di masak tadi malam lalu menyajikannya di atas karpet. "Jangan berpikir macam-macam, Bu. Semuanya akan baik-baik saja." Kavya turut membantu ibunya mengambil piring dan kebokan cuci tangan. Mereka sengaja sarapan di pagi buta karena beginilah kehidupan di desa. Setiap pagi penduduk desa sarapan pagi-pagi sekali bersiap untuk ke ladang. Selain menjahit ibu Kavya kadang mengambil singkong dan daunnya di jadikan sayur lalapan di kebun belakang milik Lina tetangganya. Lina sendiri yang menyuruh Ria mengambil singkong itu sebagai tanda terimakasih karena sering menjahitkan baju untuknya. Setelah makan Ria akan pergi ke kebun mengambil daun singkong dan menumbuknya di lesung lalu menggorengnya. Sayur ini makanan kesukaan Kavya yang terkenal kelezatannya. "Ibu cuma takut saja Kavya. Wajar seorang ibu memikirkan keselamatan anaknya sendiri." nada suara Ria melemah. Ia lalu membangunkan putranya yang masih terlelap untuk sarapan pagi. Dengan malas adik Kavya bangun sambil menggosok-gosok matanya yang buram. Ia berjalan ke kamar mandi membasuh wajahnya. Kavya hanya tersenyum melihat adiknya sudah duduk di tikar bersiap makan bertiga. Nasi, ikan teri kering, dan sayur singkong sebagai sarapannya. Mereka bukan orang kaya yang setiap pagi sarapan dengan s**u dan roti. Mereka adalah keluarga yang serba kekurangan tidak menentu makanan apa yang akan ia santap setiap hari. Saat Kavya makan bersama, ia bahagia sekali. Makan bersama adalah rutinitas yang pasti Kavya akan selalu dia rindukan jika tinggal negeri orang. Mata Kavya berkaca-kaca namun tidak bisa menangis. Dia harus kuat dan berusaha tegar agar Ria tak khawatir. "Iya, Bu. Kavya mengerti perasaan ibu tapi Kavya bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja di negara orang." Sambil mengunyah ia menjelaskan pada Ria yang hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian mereka sudah menyelesaikan ritual sarapan paginya. Kavya yang lincah dan cerdas menyuruh ibunya duduk, Kavya ingin membereskan sisa makanan ini tanpa bantuan ibunya yang sudah bekerja kelelahan setiap hari. Suara ketukan membuat Ria buru-buru membuka pintu dan ia cukup terkejut melihat Lala yang datang sepagi ini. Lala mengenakan dress di atas lutut dengan lengan terbuka dan tas branded serta sepatu boots coklat di atas pergelangan kaki. "Good morning, Ria." sapa Lala dengan centil memeluk sahabatnya. "Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Maklum orang kampung mana mengerti bahasa begitu." Cebel Ria merengut kesal tidak mengerti arti dari bahasa yang ia maksud. "Hehhe, itu bahasa Inggris artinya selamat pagi, Ria. Kamu ini sekali-sekali belajar sama Kavya biar bisa mengerti. Anak kamu pintar, loh." puji Lala melihat Kavya yang membawa piring kotor di kamar mandi. "Tante bisa aja selalu muji-mujiku. Aku tidak sepintar yang tante pikirkan." Kavya tersipu malu, ia mendekati Lala lalu menyalami tangannya. "Itu kenyataannya. By the way, aku punya kabar baik untukmu Kavya. Calon suami kamu akan datang besok, kalian bisa berkencan terlebih dulu. Aku akan memperlihatkan foto calon suamimu. Ini lihatlah! Dia sangat tampan, Kan?" Lala menunjukkan foto di handphone miliknya, jantung Kavya berdetak kencang penasaran dengan raut wajahnya. Apa dia benar-benar tampan atau Lala hanya membual saja? Ia menatap layar handphone itu dan melihat wajah pria China yang sangat tampan mirip dengan aktor China yang terkenal. Alis yang tebal, bibir yang tipis, dan hidung mancung bagai pahatan kayu. Warna kulitnya juga sangat putih, dia juga memiliki senyum yang manis. Kavya sempat tertegun melihatnya, dia tidak menyangka ada makhluk ciptaan Tuhan yang begi sempurna. Rasanya Kavya tidak pantas menjadi istrinya, dia begitu mirip dengan para aktor yang di gilai di seluruh dunia. Mungkin bagi Kavya ini adalah mimpi, gadis desa seperti dirinya yang di bawah standar bisa menikahi pria tampan bak negeri dongeng. "Bagaimana menurutmu? Dia tampan, Kan? Namanya Fengying," kata Lala antusias menunggu pendapat ku. Aku hanya bisa mengangguk dan ber-oh ria menyetujui pendapat Lala. Ah, sudahlah Kaya tidak boleh percaya begitu saja pada Lala, dia ingin melihat bagaimana sikap pria yang akan di nikahinya nanti. Jangan sampai ada penyesalan mendalam yang akan di rasakan seumur hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN