SB-02

2016 Kata
Again!! Giffard membuat masalah di sekolahnya saat dia membawa papan skateboard ke sekolah. Lebih parahnya lagi, saat Giffard dengan sengaja menabrak Bu Mariani sampai gulung-gulung di koridor sekolah . Tentu saja hal itu langsung membuat satu sekolah ini tertawa terpingkal. Bu Mariani yang merasa dipermalukan langsung melapor pada Bu PGabby guru BK sekolah ini. Dan disinilah Giffard berada, di depan Bu Gabby yang terus saja mengomel sepanjang masa tiada henti. Guru itu terlalu berisik macam burungnya beo, bahkan Giffard berpikir jika dia ingin sekali menutup rapat mulut Bu Gabby yang telinganya tidak panas. "Astaga Bu..., saya kan nggak sengaja." kata Giffard mengelak. Bu Gabby menatap Giffard tidak suka. "Nggak sengaja apanya!! Bohong mulu deh kamu." "Seriuss Bu. Kenapa sih nggak percaya?" "Percaya sama kamu, bikin penyakit." Giffard tertawa. Dia pun merayu Bu Gaby dan membawakan setangkai bunga mawar, yang langsung diberikan pada Bu Gaby. Tapi yang ada Bu Gabby langsung melempar bunga itu ke tong sampah. Tanda jika dia tidak ingin menerima bunga itu. Anggap saja Bu Gabby ini guru paling muda, dia baru saja lulus kuliah tiga bulan yang lalu. Dan sedang uji coba masuk di sekolah Giffard, tapi yang ada dia malah berurusan hampir setiap hari dengan Giffard. Bocah itu terlalu pintar menciptakan masalah, itu sebabnya setiap hari selalu masuk ke ruang BK dan bertemu dengan Bu Gabby. "Sebagai hukuman kamu harus--" "Capek Bu!! Sekali aja bebas dari hukuman." potong Giffard. Pria itu menatap Bu Gabby dengan intens. Seolah tatapannya mampu membuat siapapun terpesona dan jatuh cinta dengannya. Ingat kata Leo, mumpung punya wajah cakep, banyak duit. sayang banget kalau tidak di manfaatkan buat menggaet banyak wanita. Lagian masa muda nakal itu wajar, tidak wajar itu saat udah tua kata Kenzo terus nyeleweng dengan Mama Debora. Itu tidak wajar. Eh, tapi tidak masalah toh hasil perselingkuhannya itu Giffard jadi punya adik dua. Satu laki-laki yang bernama Ghali Daniyal Giancarlo dan juga satu perempuan bernama Arletta Lovata Tyler. "Ya sudah saya juga capek nge hukum kamu. Semua hukuman sudah kamu rasakan, lebih baik balik ke kelas sana, belajar yang bener." perintah Bu Gabby. Giffard hanya tersenyum dan mengangguk. Masuk kelas atau tidak, itu urusan Giffard kan? Pria itu memilih pergi ke rooftop sekolah. Tempat ini adalah tempat ternyaman bagi Giffard. Perbandingan hidupnya dulu dengan sekarang berubah drastis. Semuanya berawal saat-- "Gif.., " Giffard hanya bergumam sebagai jawaban. Lalu duduk di ayunan rotan yang dia beli beberapa minggu yang lalu. Menatap tiga temannya yang tengah asyik makan dan juga bernyanyi. "Habis dari mana sih lama banget." kata Raphael sambil mengambil keriting kepiting nya. "Dari BK. Kenapa? Kangen?" kekeh Giffard. "Amit-amit deh, masih normal ya." Giffard tertawa kecil dia pun memejamkan matanya sambil membuka kancing seragamnya. Cuaca siang ini cukup panas, bahkan angins aja tidak berhembus seperti biasanya. Kata Opa Leo yang terhormat, kalau cuaca panas macam ini nanti pasti turun hujan. Dan nyatanya sampai sekarang Giffard paling percaya masalah panas dan hujan dalam satu hari. "Gif kalau malam nanti free, kayaknya kita udah jarang datang ke Gallery." ucap Ben. Bukannya jarang, bahkan kalau dipikir malah sudah tidak pernah lagi datang ke Gallery. Itu adalah salah satu cafe milik Giffard, sebenarnya milik Leo cuma Giffard yang mengelolanya. Dian hanya akan bekerja di balik layar, tidak macam Opa dan juga Papanya yang lebih menunjukkan skill mereka di depan umum. Harusnya Kenzo percaya dengan Giffard yang udah pintar dari bayi. Tapi yang ada Bapaknya malah buang-buang duit cuma cari guru private buat Giffard. Nggak taunya buang benih bayi di tisu lebih nikmat, dibanding buat duit tiap bulan. "Kalian aja. Nanti malam aku nyusul, agak malaman." jawab Giffard. "Ada urusan Gif?" sahut Yoris cepat. Kalau urusan tentu saja Giffard selalu memiliki banyak urusan apalagi perusahaan. Tapi urusan kali ini beda, kata Kenzo nanti sore akan ada guru private barunya yang datang ke rumah untuk mengajari Giffard. Pria tua itu tidak akan berhenti sebelum Giffard berubah. Sedangkan Giffard mana mungkin dia bisa berubah, jika dia saja tidak ingin berubah. Yoris, Raphael dan Ben yang tahu pun hanya mengangguk patuh. Dia tahu betul bagaimana nasib temannya itu, yang tidak bebas seperti mereka. Tapi tidak masalah karena mereka percaya jika Giffard selalu memiliki banyak akal untuk bisa kabur dari guru privatnya. -Sugar Baby- Keisha melongo saat Kartika membawanya ke rumah yang dia maksud. Rumah yang tidak memiliki cacat sedikitpun itu, mampu membuat air liur Keisha menetes. Berkali-kali Keisha meminta Kartika untuk menjelaskan jika mereka ini salah rumah, atau mungkin alamatnya salah nomer. Tapi yang namanya Kartika tetap saja ngeyel dan menyeret Keisha untuk segera masuk. Lagian dia yang kerja disini penuh dulu sebelum Keisha. Mana mungkin Kartika salah alamat atau salah nomor rumah. "Gila, ini aku masuk yang ada nggak bisa pulang Kar." kata Keisha "Nasip!! Jangan ngiler lihat anaknya, kamu pecinta cogan loh takutnya khilaf!! Dia punya otot bisep kesukaan kamu." "Dih, apaan sih ya nggak lah, lagian bocah SMA kayak dia mana mungkin bisa bikin aku terpesona." Wah dia belum tahu anak dari Bapak Kenzo Tyler yang bernama Giffard Tyler. Cakepnya udah kayak Dewa Yunani, dengan otot bisepnya yang bahkan mampu membuat semua wanita menjerit karena dia. Dan sekarang wanita di sampingnya itu malah meremehkannya? "Oke, kita lihat nanti. Kalau sampai kamu meneteskan air liur mu cuma karena dia. Kamu harus beliin aku satu cup teh poci besar." ucap Kartika sambil menunjukkan Keisha. Wanita itu menjentikkan jarinya, jangankan teh poci satu cup besar sepuluh teh poci cup besar pun tidak masalah. Lagian hari ini dia baru saja menerima gaji dari cafe tempat dia bekerja, mana mungkin dia tidak mampu beli teh poci untuk Kartika. Daripada berdebat dengan Keisha. Kartika langsung menarik tangan Keisha dan membawanya masuk. Dia datang atas panggilan Bapak Kenzo Tyler, yang meminta Kartika untuk mencari penggantinya karena wanita itu tidak sanggup mengajar Giffard. Masalahnya tidak cuman satu, udah cakep, bandel lagi itu yang membuat Kartika tidak tahan. "Selamat siang Bu, saya Kartika mau cari Bapak Kenzo ada?" kata Kartika saat menatap satu wanita tua di depannya. Sudah dipastikan jika wanita itu pasti asisten rumah tangga ini "Oh Mbak Kartika ya. Masuk Mbak, udah ditunggu sama Bapak di dalam." Kartika mengangguk dia menarik tangan Keisha untuk segera masuk. Lalu duduk di sofa mahal yang terlihat sangat empuk dan nyaman. Dan benarnya saja, saat p****t Keisha menyentuh sofa itu seketika itu juga Keisha lupa bagaimana rasa sofa di kosnya. "Kartika empuk ya, beda kayak sofa kos keras kayak hidup kamu!!" kekeh Keisha dan menggoyangkan pinggulnya karena nyaman. Mata Kartika melebar sempurna, kalau saja bukan rumah Bapak Kenzo sudah dipastikan jika Kartika akan menjitak kepala Keisha yang baru saja mencibir nya. Karena tidak memperhatikan keadaan sekitar, Keisha dan Kartika tidak menyadari bahwa sejak tadi Kenzo melihat interaksi dua wanita itu yang menurutnya sangat lucu. Kenzo berdehem dan membuat mereka berdua langsung berdiri dari duduknya. Bisa dilihat jika salah satu diantara mereka cukup kecewa dengan tarikan paksa itu. "Selamat sore Pak." sapa Kartika. Jangan tanya Keisha macam apa, yang jelas wanita itu hanya mengangguk-anggukan kecil kepalanya. Sambil meneliti penampilan Kenzo yang terlibat seperti anak muda, sayangnya rambutnya saja yang berubah. Coba kalau berwarna hitam atau coklat terlihat gagah dan menggoda. Astaghfirullah udah tua Keisha. "Selamat Sore Tika, silahkan duduk." Kartika kembali duduk dan menarik tangan Keisha dengan kasar, hingga membuat wanita itu langsung duduk di samping Kartika. Wanita itu juga mengutarakan maksud dan tujuan dia datang ke sini. Dia membawa Keisha sebagai guru private yang akan menggantikan dia untuk mengajari Giffard. Kartika juga bilang jika dia tidak tahan dengan sikap Giffard yang semuanya. "Saya mengerti!! Saya akan mencoba teman kamu dulu selama satu minggu. Tapi kamu tenang saja, saya akan bayar full jika teman kamu menyerah," kata Kenzo berpikir dua kali. "Oh iya siapa nama kamu?" tanya Kenzo menatap Keisha. "Keisha Pak. Keisha Maheswari." jawab Keisha pantang dan tersenyum kecil. Kartika tersenyum kecil dia pun mengucap beribu banyak kata maaf untuk Kenzo. Dan berpamitan untuk pulang. Tapi yang ada Kenzo malah menahan Kartika dan juga Keisha untuk pulang cepat. Bagaimanapun syarat awal Keisha harus tahu dulu, bagaimana anaknya yang bernama Giffard. Di rumah ini ada tiga anak dua laki-laki dan satu perempuan, jangan sampai Keisha salah orang saat mengajari anak pertamanya. Keisha yang memang penasaran pun langsung mengangguk sesekali menatap pintu rumah ini dengan was-was. Dia memikirkan ucapan Kartika yang katanya, anak itu memiliki otot bisep kesukaan Keisha. Ah iya, Keisha ini pecinta pria tampan, mapan dan berkarismatik. Memiliki otot yang menggoda, apalagi saat berkeringat menambah kilatan panas di mata Keisha. Bisa dibilang otak Keisha itu tidak bisa diajak berpikir jernih jika melihat sesuatu yang indah. Bawanya traveling mulu dan berpikir yang tidak-tidak. Maklum saja otak Keisha banyak duitnya, jadi suka traveling tanpa ajak-ajak. Hingga tak lama orang yang ditunggu pun datang. Kartika yang mengetahui datangnya Giffard pun, langsung menyenggol lengan Keisha, hingga membuat wanita itu berdiri juga "Keisha ini anak saya namanya Giffard Tyler." -Sugar Baby- Mungkin ini sudah satu jam lamanya Keisha masih duduk diam di dapur cafe. Sejak pulang dari rumah Kenzo dan melihat putra pertamanya, otak Keisha langsung ngelag. Yang ada dipikirannya saat ini adalah otot bisep milik Giffard, keringat bocah itu yang membasahi tubuhnya ditambah lagi baju haram miliknya yang membuat Keisha khilaf mata. "Kei nggak pulang apa?" pertanyaan itu langsung membuat Keisha menoleh. Wanita itu mantap koki cafe ini dengan kerjapan mata berkali-kali. "Ada masalah?" ucapnya lagi. Keisha menggeleng, dia sedang tidak ada masalah. Cuma otaknya saja yang bermasalah, habis melihat bocah SMA yang ada bukannya berpikir positif, malah berpikir negatif. By the way masalah menjadi guru private, Keisha mengiyakan tawaran itu. Lagian jarang sekali jadi guru les aja sampai di bayar lima juta dalam satu bulan. Kerja di cafe saja gajinya tidak sebanyak itu, walaupun cafe ini sangat terkenal dikalangan anak muda, pengusaha dan ibu-ibu sosialita. "Nggak ada lah Mas, kenapa emang?" tanya Keisha balik. "Ya aku pikir kamu lagi ada masalah. Mau aku anter pulang?" Berhubung Keisha ini suka sekali gratisan. Dia pun menganggukan kepalanya kecil. Lumayan lah angkot jam segini juga nggak ada. Jalannya juga gelap, lampu gang kos milik Keisha mati lampu. Tapi…, tanpa angkutan umum Keisha juga bisa pulang jalan kaki. Toh, cafe ini hanya berjarak beberapa meter saja dari gang kosnya. Wanita itu mengambil jaketnya dan juga tas ransel miliknya. Tak lupa juga dia keluar lebih dulu sebelum kafe ini di kunci oleh tangan kanan bosnya. Sepanjang perjalanan pulang Keisha tidak bisa fokus dengan jalanan ibu kota, yang menurutnya sangat indah saat lampu menyala. Tapi lagi-lagi yang ada dipikirannya, adalah otot bisep milik bocah SMA itu lagi. Jika begini terus Keisha sendiri yang akan kalah, tapi jika dia mundur sayang duit lima juta satu bulannya. Bisa buat belanja tanpa melihat price tag. "Astaga…," pekik Keisha tanpa sadar. "Haa apaan Kei? Kamu ngomong sesuatu?" kata Bayu menolehkan kepalanya melirik keisha. Wanita itu menggeleng dan mendekatkan kepalanya, siapa tahu saja jika dia bicara Bayu tidak akan mendengar ucapannya. "Nggak Mas Bay. Ini tadi kena air hujan, pasti gatel." jawab Keisha dan berteriak. Berharap Bayu bisa mendengarkan ucapannya. Pria itu hanya mampu menganggukan kepalanya pelan. Dia pun membelokkan motornya hingga sampai di depan kos.an Keisha. Wanita itu langsung turun dan mengembalikan helm pada Bayu. "Makasih loh Mas udah di anterin pulang. Padahal pulang sendiri juga bisa." ucap Keisha sungkan. Bayu tersenyum kecil, "Nggak masalah Kei, kan satu arah. Biasa aja kali." Sekali lagi Keisha mengucap terimakasih pada Bayu, karena sudah mau direpotkan oleh Keisha. Ini bukan pertama kalinya, tapi berkali-kali Keisha selalu menumpang pada Bayu untuk jalur gratisan. Pulang malam kadang Keisha juga merasa takut, apalagi dia pulang setiap jam 10 malam. Cafe tutup jam sembilan malam, belum bersih-bersih juga kan membutuhkan waktu satu jam. Belum lagi kalau mereka masih pengen ngobrol dan pulang tengah malam. Dan Keisha selalu mengandalkan Bayu untuk mengantarkan Keisha pulang. "Ya sudah aku balik dulu Kei." pamit Bayu. Keisha mengangguk dia pun melambaikan tangan pada Bayu, saat motor bebek milik Bayu mulai meninggalkan kos miliknya. Wanita itu langsung membuka gerbang kos ini dan hendak masuk. Tapi tarikan dari arah belakang membuat Keisha terjingkat kaget dan segera menoleh. Dia pikir ada maling yang merampok, atau mungkin menculik Keisha. Tapi yang ada Keisha malah melihat bocah itu yang saat ini berdiri di depannya. "Giffard…, kamu kok ada disini?" -Sugar Baby-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN