Kenzo diam setelah melihat Giffard yang langsung pergi dari hadapannya. Anak laki-lakinya pergi dengan perasaan kesal, raut wajahnya bahkan mengeras seolah dia tidak suka dengan apa yang Kenzo katakan.
“Kamu jangan terlalu keras sama Gif dong, Mas. Dia itu kan masih sekolah, masa depannya masih panjang, nggak akan nyampe kalau musuh perjodohan begini.” kata Debora, sambil memberikan potongan buah apel untuk suaminya.
Kenzo mendengus menatap sekeliling tempat ini yang sudah sepi dan tidak ada satu orang pun kecuali mereka. Kenzo menarik tangan Debora, membuat wanita itu duduk di pangkuan Kenzo. Tentu saja hal itu langsung membuat Debora mengalunkan tangannya di leher Kenzo.
“Mau apa, hmm?” tanya Debora seolah dia sudah tahu apa yang Kenzo inginkan. Jatah mingguan yang sudah dua minggu ini tidak dia berikan.
Menggigit baju wanita itu dan mengecup bahunya, Kenzo pun berkata. “Kamu dengar kan, Gif bilang kalau ada hati yang dia jaga. Itu siapa ya?”
Tubuh Debora membeku, dia pun melirik Kenzo dengan ekor matanya. Dirinya gugup dan Debora merasa takut. bUkannya apa, sungguh, dia tahu apa yang anak laki-lakinya inginkan. Tapi masalahnya Kenzo itu keras kepala, dia masih memikirkan hal yang sama sekali tidak disukai oleh Giffard. Jangankan Giffard, Debora saja yang dijodohkan tidak mau dan memilih kabur apalagi Giffard yang masih bocah SMA belum lulus sudah harus menikah.
Menggerakkan bahunya perlahan, Debora pun menepuk bahu Kenzo dengan pelan. “Mas aku juga nggak tau, tapi menurut aku biarin aja apa yang Gif inginkan biar dia dapatkan. Maksudku … dia masih muda jangan bebani dia dengan perjodohan seperti ini, kamu ingat aku kan? Dulu aku bagaimana ketika papa aku jodohin aku sama orang lain?”
Kenzo ingat betul, sangat ingat dan tidak akan pernah lupa. tapi kan ada perbedaan antara Giffard dan juga Debora, Jalan mereka berbeda, Leon menjodohkan Debora karena merasa laki-laki itu baik dan layak untuk Debora. Sedangkan Giffard? Anaknya mendadak mengalami kelainan ketika masuk asrama putra, penyuka sesama jenis dan nyaris menjalin hubungan. Bapak mana yang bisa menerima hal itu? Tidak hanya Kenzo tapi juga dengan Debora yang tidak bisa menerima keputusan Giffard yang menyukai sesama jenis.
Siapa yang bisa menerimanya? Jika saja Kenzo tidak mengingat, betapa sayangnya Debora dengan Giffard. Bahkan wanita itu rela membunuh Kenzo demi Giffard. Sudah dipastikan putra pertamanya itu akan habis di tangan Kenzo sendiri. Beberapa kali Kenzo selalu bertengkar dengan Debora hanya penjara Giffard. Wanita itu membebaskan Giffard, sehingga sampai salah jalan begini.
"Kok jadi nyalahin orang. Giffard kan laki-laki wajar Mas memiliki kebebasan apa yang dia inginkan. Kamu aja yang terlalu mengekang dia!!"
Kenzo menatap Debora dengan serius. Tangannya mulai memeluk pinggang wanita itu dengan erat, bahkan dia negara sampai meremas pinggang itu, sehingga membuat Debora mendelik sempurna dan memekik.
"Mas ini sa–hmmff!!" ucapan wanita itu harus terpotong ketika tiba-tiba saja Kenzo mendadak langsung menciumnya. Dia tidak bisa berbuat banyak kecuali pasrah. Bahkan ketika tangan pria itu menerobos masuk ke dalam baju yang dia kenakan pun, Debora hanya mampu berdiam diri dan menikmatinya.
"Hati siapa yang dijaga, Giffard, Debora!!" lirih Kenzo sambil mengecup leher Debora.
Mata wanita itu berkabut, selain kecupan basah. Di bawah saja ada sesuatu yang mulai menggoda dan membuat Debora kehilangan akalnya. Tangannya meremas rambut Kenzo dengan pelan, sesekali menyerang dengan apa yang Kenzo lakukan.
Sialan!! Beraninya dia membuat Debora seperti ini.
"Siapa sayang." kata Kenzo kembali, sambil membuka satu persatu kancing baju yang wanita itu kenakan.
"A-aku, a-aku ti--s**t!!"
Kenzo tersenyum kecil, dia pun menghentikan gerakannya dan membuat Debora menatap pria itu tajam. "Sialan!! Kenapa berhenti!! Kamu pikir enak begini!!"
Dia nyaris saja klimaks dan mendadak Kenzo menghentikannya tanpa dosa. Siapa yang tidak kesal?
Pria itu menarik tangannya yang ada di bawah sana dengan pelan. Tapi bibirnya masih saja bermain indah di leher dan juga d**a wanita itu. Bahkan Kenzo juga sempat meninggalkan jejak merah di tubuh Debora. Usia mereka tidak muda lagi, tapi kalau masalah begini Kenzo selalu bilang tidak cukup jika hanya menyentuh Debora sekali saja. Malah menurut Debora, semakin tua Kenzo semakin menggoda dan kuat urusan begini.
"Katakan dulu, hati siapa yang putra kita jaga."
Merubah posisinya karena kesal dengan sikap Kenzo. Debora memutuskan untuk duduk menghadap Kenzo. "Aku tidak tahu, hati siapa yang Giffard jaga. Karena sampai detik ini, dia tidak mengatakan apapun sama aku." jelas Debora setengah berbohong.
Apa yang dikatakan Debora tidak semuanya benar. Wanita itu tahu, apa yang terjadi pada Giffard. Perasaan siapa yang dia jaga, hanya saja Debora cukup takut untuk mengatakan semuanya pada Kenzo. Iya kalau dia merestui tidak masalah, jika tidak?
Tersenyum sinis, Kenzo pun mengangguk kecil sambil menggerakkan tangannya kembali hingga membuat wanita itu memukulnya dengan hebat. "Aku akan membuatmu berkata jujur sayang. Tapi bukan ini tempatnya!!"
***
Memikirkan banyak.hal, akhirnya Keisha pun kehilangan akal sehat. Dia kembali ke apartemen Giffard dan mengambil motor besar milik Giffard. Syukur-syukur kalah di jual dapat duit, bisa untuk biaya hidup dan juga bayar semester akhir. Belum lagi, dia harus nyicil bayar skripsi dan juga kelulusan. Dikata duit dari dia menimbun di ATM apa!!
Menariknya dengan pelan, sesekali melihat ke pegadaian dan juga showroom motor, Keisha harus bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, minimal harga motor yang paling tinggi. Sayangnya, keliling kesana kemari Keisha mendadak ragu, hanya ada STNK apa iya bisa di gadai?
Menghentikan motornya di tengah jalan, dengan sengaja Keisha malam menidurkan motor itu disana. Tidak hanya itu, Keisha juga meminta salah satu orang yang ada untuk mengambil gambar dirinya yang terjatuh di samping motor besar ini.
"Terimakasih ya Mas." katanya tersenyum kecil. Sudah dipastikan kalau melihat hal ini Giffard pasti akan khawatir dengan apa yang dialami Keisha.
Kembali duduk di pinggir motornya, Keisha pun mengirim foto dirinya yang terjatuh di samping motor pada Giffard. Tidak peduli apa yang akan terjadi, tapi perempuan itu yakin jika Giffard akan datang untuk menjemput dirinya.
Dan benar saja, laki-laki itu langsung menelponnya, meminta Keisha untuk menyebutkan lokasi Keisha saat ini. Perempuan itu tersenyum, buru-buru dia pun langsung mengirim lokasi dirinya. Sambil menunggu Giffard datang, Keisha lebih dulu melukai kakinya dengan batu, lalu meneteskan obat merah di luka basah itu, hingga terasa perih.
“Mbak mau dibawa ke rumah sakit nggak?” tanya mas-mas yang tadi sempat memfoto Keisha terjatuh. Lebih tepatnya dia membayar laki-laki itu untuk membantunya melancarkan aksinya.
Tidak hanya satu luka, bahkan satu botol obat merah dia tuangkan di beberapa tempat yang masuk akal. Agar terlihat luka dan tengah diobati di tengah jalan. Tidak peduli kalau Giffard akan marah dengannya karena Keisha berhasil menipunya.
“Mau ngapain ke rumah sakit?” tanya balik Keisha heran.
“Itu kaki Mbak kan luka, nggak mau ditolong apa?”
“Nggak. Kamu boleh pergi.”
Laki-laki itu pergi, mendadak dia jadi bego melihat Keisha yang masih duduk di tengah jalan. Untung saja tempat ini sepi, coba kalau ramai. Drama ini akan terhenti ketika mendengar suara truk atau mobil lainnya yang melintas. Laki-laki itu tak langsung pergi, dia masih melihat Keisha yang mengeluarkan isi tasnya, dan juga merusak resleting tasnya. Seolah dia benar-benar jatuh dan membuat semua barang yang dia kenakan rusak.
Menggelengkan kepalanya laki-laki itu mendengus. “Dasar perempuan, dramanya real banget.”
Mengetukkan jarinya di atas aspal, Keisha menatap cahaya lampu mendekat. Dalam hati dia berharap jika itu adalah Giffard bukan mobil lainnya yang akan lewat. Sudah dipastikan kalau sopir mobil itu akan marah dengan Keisha.
Berakting kesakitan, mobil itu berhenti. Dia melihat lampu mobil yang padam, hingga pintu belakang mobil terbuka. Dan benar saja itu adalah Giffard, dia sungguh datang untuk membantu Keisha bukan?
“Kei … ,” teriak Giffard. Dengan kaki pincangnya, laki-laki itu langsung menghampiri Keisha dan berjongkok di depan perempuan itu.
Giffard memejamkan matanya ketika Keisha yang tiba-tiba saja memeluknya dan menangis. Hati Giffard tersayat. Pria itu memeluk Keisha dengan erat, dan meminta perempuan itu untuk berhenti menangis. Dia sudah datang, dan semuanya akan baik-baik saja.
Melepas pelukan itu, Giffars pun menangkup kedua pipi Keisha dan memeluknya lembut. "Kamu nggak papa? Siapa yang nabrak?"
Menatap sekeliling tempat ini yang sepi, Keisha pun menggeleng. "Cuma luka ini aja, lainnya gak papa. Tadi jatuh di tabrak dari belakang."
"Kok bisa? Kenapa nggak hati-hati."
"Udah. Cuma motor kamu aja yang kegedean!! jadinya susah buat naik, susah buat turun, dan susah lagi pas begini tabrakan gak ada tuh yang nolong motor kamu."
Giffard mendesah, dia pun menatap motornya yang tergeletak tanpa ada cacat sama sekali. Bahkan walaupun ditabrak dari belakang, minimal ada goresan atau plat motor yang bengkong. Tapi ini tidak ada. Tidak hanya itu, ketika Giffard ingin bertanya tentang hal ini, dia melihat satu bungkus obat merah di bawah kaki Keisha. Jadi apa ini sebuah drama perempuan itu?
Tersenyum kecil, Giffard bangkit lebih dulu. Dia menggendong Keisha ala bridal style menuju ke mobilnya. "Bud tolong bawa motornya ya, gue mau nganter ini bocah dulu."
Budi mengangguk, dia langsung membawa pergi motor Giffard yang tidak ada kendala apapun.
Sedangkan Giffard sendiri langsung memutari mobilnya dan duduk di kemudi. "Kamu kenapa pergi gak bilang sama aku? Kenapa juga harus bawa motor itu? Kaki kamu nggak sampai, Keisha."
Keisha yang tidak Terima pun menoleh. "Apa kamu bilang? Kaki aku nggak nyampek? Heh … itu motor kamu aja yang ketinggian, yang kebesaran jadi gak cukup dengan kriteria aku!!" katanya dengan nada meninggi. "Lagian aku harusnya marah sama kamu, udah ninggalin gak ada kabar lagi. Situ setan atau manusia!!"
Giffard hanya diam, dia mengurangi kecepatan mobilnya agar terasa lebih lama lagi bersama dengan Keisha. Laki-laki itu langsung menjelaskan, jika ayahnya ingin bertemu dengan Giffard karena urusan kantor. Kali ini, Giffard tidak bisa lagi menuruti apapun yang Keisha inginkan. Seperti mencari pekerjaan sendiri untuk menafkahi Keisha. Tapi, disini Kenzo, ayah dari Giffard meminta putranya untuk mengelola kantor. Mau tidak mau, Giffard pun harus bisa. Dia pewaris, tidak mungkin juga Giffard mencari pekerjaan lainnya.
Mendengar hal itu Keisha mendadak ingin marah. Jika laki-laki itu terus bekerja, lalu dia bagaimana? Yang ada mereka tidak akan memiliki banyak waktu untuk berdua dan saling bertengkar.
"Terus?"
“Ya jatuh!!” cetus Keisha.
“Iya aku tau kalau kamu jatuh. Maksudnya kenapa pakai motor itu? kan ada motor lainnya. Apalagi kakimu tidak bisa menyentuh aspal.”
Keisha menatap Giffard sengit, dia pun langsung memukul lengan laki-laki itu dengan gemas. “Secara nggak langsung kamu ngatain aku pendek lagi, Giffard!!”
Bukan mengejek atau apapun itu, dia hanya berkata jujur. Jika tinggi badan Keisha jauh dari Giffard. Dimana jika berdiri berhadapan Keisha terlihat mungil di samping Giffard.
“Nggak sayang, kita pulang ya. Kamu aku anterin pulang.”
Keisha tidak mau pulang kalau Giffard juga tidak pulang. Dia ingin kembali tapi harus dengan Giffard, apapun alasannya Giffard harus ikut. Kalau tidak, jangan salahkan Keisha kalau motor tadi digadaikan untuk bayar kuliahnya.
“Nggak perlu gadai motor aku, buka m banking kamu.”
Keisha mengerutkan keningnya, tapi dia juga menurut apa yang Giffard katakan, jika dia harus membuka m banking miliknya, yang dimana disana ada sejumlah uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Wanita itu menatap Giffard dengan nanar. “Ini— Gif duit sebanyak ini dari mana?” pekiknya.
Giffard menjelaskan, kalau dia akan mengirim uang dengan jumlah yang sama setiap bulannya. Keisha tidak perlu khawatir dengan semua ini, yang dia lakukan hanya satu, berdiam diri dirumah dan menuruti apapun yang Giffard katakan. Bagaimanapun, Giffard tidak ingin calon istrinya menjadi pembangkang.
“Btw … itu luka banyak gak mau ke rumah sakit apa?” tanya Giffard yang mulai tertarik dengan banyak obat merah di tubuh Keisha.
Wanita itu langsung menggeleng, dia tidak akan pergi kemanapun. Tidak ke rumah sakit, tidak juga untuk pergi ke apartemen. Dia akan ikut kemanapun Giffard akan pergi. Menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lebih tepatnya ada jalan masuk dan mereka bisa menikmati sungai yang panjang ini.
“Cuma luka kecil, nanti juga hilang.”
Giffard turun lebih dulu dari mobilnya,melihat notif pesan dari Clarissa yang bertanya dimana posisi Giffard saat ini. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Keisha, akhirnya laki-laki itu menghapus pesan masuk dari Clarissa dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
Berbeda dengan Keisha, yang baru saja turun dari mobil Giffard dan menatapnya dengan serius, “KIta ngapain disini”
Bukannya menjawab pertanyaan Keisha, Giffard lebih dulu menarik tangan wanita itu dan langsung memeluk pinggangnya. “Kangen nggak?”
Keisha menggeleng. “Nggak tuh.”
“Masa iya?”
Tentu saja dia tidak merindukan Giffard sama sekali, dia hanya benci kalau disuruh tinggal sendiri di apartemen elit dan besar. Jadi disini, Keisha meminta Giffard untuk kembali. Dia itu bukan selir atau cadangan di hidup Giffard, bukannya mereka sedang berperan sebagai suami istri? Jika iya seharusnya mereka tinggal dalam satu rumah kembali kan?
Tapi masalahnya, GIffard harus pulang demi pekerjaan dan juga perjodohan yang dia alami. Sungguh dia tidak mau menikah dengan Clarissa, dia masih mencari cara untuk terlepas dari perjodohan ini. Begitu juga alasan apa yang harus Giffard katakan pada Keisha tentang semua ini.
To b continued