SB-07

1906 Kata
Mendengar alarm yang berbunyi begitu nyaring, Keisha membuka kedua bola matanya perlahan. Hari ini dia mengambil libur kerja, dan juga libur kuliah. Dia ingin sekali memanjakan diri di atas kasur yang empuk ini seharian. Ingin tidur tanpa gangguan dan memikirkan banyak hal. Sayangnya semua itu hanyalah sebuah mimpi, ketika Giffard yang tiba-tiba saja menelponnya dan meminta Keisha untuk menemuinya. Ah ya, semalam bocah itu mendadak marah-marah tidak jelas pada Keisha akibat kejadian itu. Dimana Keisha hampir saja tertabrak motor. Padahal Keisha juga sudah bilang, jika dia sedang lelah. Pagi dia harus mengambil mata kuliah, siang kerja, sore masih menyempatkan mengajari Giffard. Setelah itu Keisha kembali bekerja setelah satu jam bersama dengan Giffard. Semua itu demi uang, demi masa depan Keisha. Itu sebabnya dia terkenal dengan mata duitan. Tapi tidak masalah yang penting hidup Keisha tidak meminta. "Rapi banget Kei mau kemana?" tanya Kartika yang baru saja keluar dari kamar, dengan keadaan berantakan. "Mau ketemu Gif, tapi males banget." Kartika tertawa. "Demi lima juta Kei, jangan malas ya." Kalau bukan perkara itu Keisha juga tidak akan mau. Tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi tanggung jawab untuk mengurus bayi besar macam Giffard. Mengambil sneaker berwarna kuning Keisha pun segera keluar dari kosnya. Niat hati ingin memesan satu ojek online untuk mengantar dirinya. Yang ada Keisha malah dikejutkan, dengan sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir indah di depan kos. Tak lama pemilik mobil mewah itu turun pun, Keisha tahu jika itu adalah mobil Giffard. Tentu saja Keisha langsung masuk ke dalam mobil itu tanpa dipersilahkan. Peduli setan kalau pemiliknya marah, dia sudah janji ya, satu Minggu kedepan. Dimana Keisha meminta Giffard tidak marah-marah tidak jelas. "Kamu terlambat sepuluh menit. Kamu tau kan, kalau aku ini tidak suka menunggu!!" cetus Giffard. "Iya tau." "Terus kenapa terlambat?" Giffard melirik wanita di sampingnya, dan menjalankan mobil mewahnya untuk meninggalkan kos ini. Keisha tidak menjawab, dia sedang tidak ingin berdebat dengan Giffard. Jika Keisha meladeninya, dia sendiri yang akan darah tinggi. Selain ngeselin Giffard itu juga sok mengatur Keisha. Lebih baik dia menutup kembali matanya, dan memilih tidur. Lagian rasa kantuk itu menyerang Keisha begitu saja, ketika Giffard mulai menyalakan pendingin ruangan mobil ini. Menyadari tidak ada respon dari Keisha. Giffard pun menoleh cepat, dan mendapati Keisha yang malah tertidur pulas di sampingnya. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan, sambil menepuk pelan kepala Keisha. "Seberat apa sih hidup kamu!! Sampai hal sekecil ini saja bisa buat kamu tidur lelap." gumam Giffard. Padahal kalau diingat, hari ini dia ada latihan basket bersama dengan temannya. Dia sengaja mengajak Keisha, agar mereka tidak menganggap jika Giffard ini kelainan. Dia juga laki-laki normal, yang tertarik dengan perempuan. Sayangnya, tidak ada yang mampu menarik perhatian Giffard. Lebih tepatnya dia belum menemukan sosok yang cocok dalam hidupnya. Menyadari lampu merah berubah menjadi warna hijau, laki-laki itu langsung menjalankan mobilnya dengan pelan. Untuk mengulur waktu, dan membiarkan Keisha tidur lebih lama lagi. Mendadak Giffard tidak tega jika harus membangunkan Keisha di lokasi. Cukup lama di jalan raya, barulah Giffard menuju tempat latihan. Dia pun turun lebih dulu, dan menyalakan pendingin mobilnya, agar Keisha tidur dengan nyaman. Mengambil tas besarnya berwarna hitam, Giffard pun bergabung dengan yang lainnya. "Mana pacar lo? Katanya bawa pacar!!" kata salah satu diantara mereka bernama Aiden. "Di mobil!! Lagi tidur. Nggak tega bangunin." jawab Giffard santai. Aiden masih tidak yakin. Dia pun berlari menuju ke arah mobil Giffard, dan melihat kekasih Giffard dari kaca gelap mobil itu dan benar saja, disana Aiden bisa melihat satu wanita cantik yang tengah tertidur pulas. Bahkan wanita itu merasa tidak terganggu sama sekali, ketika Aiden mencoba mengetuk pintu mobil ini. Aiden pikir Giffard itu kelainan. Karena tidak pernah menggandeng seorang wanita cantik di sampingnya. Dan ini pertama kalinya Giffard membawa sosok wanita ke lingkup latihan. Dan entah kenapa hal itu malah membuat Aiden tersenyum … ragu. "Seenggaknya penyakit lo sembuh Gif." gumam Aiden tersenyum manis. Laki-laki itu langsung meninggalkan mobil Giffard, dah menuju ke tengah lapangan. Disana sudah ada banyak ajakan yang menunggunya. Jangan karena pacar Giffard, Aiden lupa tujuan utamanya datang ke lapangan ini untuk apa. -SugarBaby- Keisha menggeliat dalam tidurnya. Tersadar dengan posisi tidurnya, Keisha langsung mencari sosok Giffard yang seharusnya ada di sampingnya. Dan nyatanya Keisha sama sekali tidak menemukan Giffard sama sekali. Panik. Tentu saja iya. Wanita itu langsung keluar dari mobil dan mencari Giffard. Dan Keisha baru sadar, jika saat uji dia tengah berada di salah satu sekolah elit di Ibukota. Sekolah termahal yang pernah Keisha lihat di acara televisi dan juga internet. "Nggak boleh malu-maluin. Biar nggak di pecat." gumam Keisha mencoba untuk tenang. Padahal tangannya sudah gatal, ingin mengambil foto atau video sekolah ini. Bisa dijadikan status di akun sosialnya, atau mungkin pamer pada teman kosnya. Tapi apalah daya Keisha yang hanya bisa diam saja sambil menunduk malu. Disini banyak sekali orang yang menatap Keisha, dan hal itu malah membuat Keisha tidak nyaman. Kaki mungilnya terus saja melangkah mengikuti jalan setapak. Jalan yang menurutnya sangat sepi. Tapi, ketika mendengar sebuah teriakan membuat Keisha berpikir jika dia tengah menuju ke sebuah lapangan. Apalagi ada banyak yang meneriaki nama Giffard. Sepopuler itulah dia di sekolah ini? Menghentikan langkahnya di pinggiran lapangan. Keisha malah melihat Giffard yang menggunakan baju haram, tengah berlarian di tengah lapangan bersama dengan temannya. Tapi satu hal yang membuat Keisha menatapnya sedih. Bagas. Dia adalah mantan Keisha waktu sekolah dulu. Dimana Bagas yang meninggalkan dia demi kuliahnya. Dan ketika Bagas kembali, pria itu langsung menggandeng wanita lain. Bahkan Keishu masih ingat janji pria itu, yang tidak akan meninggalkan Keisha sedikitpun. Teriakan itu berhenti ketika sebuah peluit berbunyi. Keisha pun juga tersadar dari lamunannya. Dia pun menatap sekeliling tempat ini yang mulai sepi. Beberapa anak memilih pergi, dan beberapa anak juga kasih setia berada di pinggiran lapangan. Keisha ingin pergi, lagian dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Tapi sebuah tarikan dari arah belakang membuat langkah kaki Keisha terhenti. "Udah bangun sayang …" kata Giffard. Tak meninggalkan aksen tengilnya, apalagi senyum itu. Senyum yang entah kenapa membuat darah tinggi Keisha kambuh. "Apa sih nggak jelas banget!!" Keisha menepis tangan Giffard. Tapi lagi-lagi bocah itu langsung menarik tangan Keisha dan membawanya pergi. Padahal wanita itu berpikir jika Giffard akan membawanya pulang. Atau tidak membiarkan Keisha tidur seharian di rumah dengan tenang. Tapi yang ada Giffard malah mengenalkan Keisha pada temannya sebagai kekasihnya. Keisha ingin menolak, tapi tatapan tajam dari Giffard membuat Keisha tidak mampu menolaknya. Dia juga harus ingat, duit lima juta dari bapak Kenzo setiap bulannya. "Hai … " sapa Keisha akhirnya. Walaupun dia tidak minat, tapi demi duit apaan sih yang tidak. "Pacar Gif?" tanya seseorang yang langsung menunjuk Giffard, dengan senyum yang hampir sama dengan Giffard. Ah … ternyata tidak ada bedanya. "Iya. Aku pacar Gif." "Nggak pernah tahu." Keisha tersenyum canggung kali ini dia tidak tahu harus berbuat apa. Dan pada akhirnya Keisha pun berbohong pada mereka. Jika hubungan ini baru saja dimulai tiga bulan yang lalu. Dan selama ini Keisha yang meminta Giffard untuk menyembunyikan hubungan mereka. Itu sebabnya tidak ada yang tahu, hubungan mereka sampai saat ini. "Lama juga," komentar bocah itu, dan membuat Keisha mengangguk. "Oh ya kenalin. Aku Aiden teman kecilnya Giffard." ucapnya. "Aku Keisha. Salam kenal dari aku, dan semoga kita bisa menjadi teman." Merasa sudah basa basinya. Giffard langsung menarik tangan Keisha dan mengajaknya pulang. Hari semakin siang, Giffard juga lapar ingin makan di rumah. Latihannya hari ini cukup lama dari jam yang ditentukan mereka. Apalagi sudah mendekati lomba, Giffard tidak ingin menampilkan sesuatu yang buruk. Dia harus membuat sekolahnya bangga sebelum dia lulus sekolah. "Itu kenapa kamu bilang ke mereka kalau aku pacar kamu sih!! Kalau jomblo ya jomblo aja, jangan ngaku-ngaku punya pacar." omel Keisha kesal. "Kamu sendiri yang bilang bukan aku." ralat Giffard. Keisha cemberut dia tahu dia yang bilang. Tapi kan tetap saja, kalau Giffard tidak menatapnya tajam. Mana mungkin Keisha berkata seperti itu. Bahkan Keisha sudah mau hilang, jika Keisha adalah babysitter Giffard. Agar wanita itu bisa membuat malu Giffard di depan teman-temannya. "Mulai sekarang kamu pacar aku!!" Kata Giffard tanpa kau diganggu gugat. "Apa sih!! Nggak jelas!" Giffard merubah posisi duduknya menghadap Keisha, yang duduk di sampingnya. "Kamu dibayar berapa sama papa?" "Lima juta." balas Keisha dengan wajah polosnya. "Aku bayar kamu lima juta dua minggu sekali. Gimana? Mau nggak?" tawar Giffard dan membuat Keisha melongo. Dua minggu … lima juta … bukannya apa, bahkan Keisha juga berpikir jika dia bisa mandi uang jika dia mau. "Deal!!" -SugarBaby- Keisha pikir jika Giffard akan memulangkan Keisha ke kosnya, dan membiarkan wanita itu tidur enak. Tapi yang ada Giffard malah mengajak Keisha pulang ke apartemennya bocah itu. Interior apartemen ini bahkan cukup mewah, yang diyakini Keisha dengan harga fantasi. "Gila ya … bocah SMA punya apartemen sebagus ini. Dulu pas hamil emaknya ngidam apa sih!!" gerutu Keisha menatap kagum apartemen ini. Mendaratkan pantatnya di sofa empuk, Keisha masih saja geleng kepala. Bukannya apa dia masih tidak menyangka saja, jika Giffard memiliki fasilitas yang war. Sedangkan Keisha saja jangankan apartemen, tinggal di rumah petak saja sudah seperti surga. Apalagi jika tinggal di apartemen semewah ini. Benar-benar tidak terbayangkan oleh Keisha. Keisha ingin sekali mengabadikan momen dimana dia saat ini. Tapi melihat Giffard keluar dari ruangan, dengan handuk basah yang mengusap kepalanya membuat Keisha membatalkan niatnya. Ini sudah kedua kalinya dia gagal mengabadikan momen indahnya. Saat di sekolah ternama, dan sekarang di apartemen Giffard pun juga gagal. "Ngapain?" tanya Giffard aneh. Alis Keisha bertautan satu sama lain. "Kamu nggak lihat aku lagi apa? Masa iya perlu aku jelasin?" dengus Keisha. "Berani ya!!" "Cuma kamu doang apa sih yang nggak berani. Sama-sama makan nasi, nggak makan tanah!!" Bukannya marah, Giffard hanya menganggukkan kepalanya. Melempar handuk basah itu pada Keishq, dan meminta wanita itu untuk mengembalikan dan juga memasak untuk dirinya. Tentu saja Keisha langsung protes. Dia ini dibayar untuk mengajari Giffard tentang pelajaran sekolahnya. Bukan untuk mengembalikan handuk basah dan juga memasak untuk Giffard. "Lima juta dua Minggu, kamu pikir buat apa? Pajangan? Atau apa?" Mengingat hal itu tentu saja Keisha menggerutu kesal. Dia pun bangkit dari duduknya, dan memasuki ruangan yang sama. Dimana Giffard juga keluar dari ruangan ini tadi. Dan lagi!! Keisha benar-benar dibuat tercenggah dengan ruangan yang serba hitam. Ruangan dimana Keisha tidak menemukan warna apapun kecuali hitam. Mungkin karena dia laki-laki makanya semua serba hitam. Tapi kan … ada juga laki-laki yang suka warna lain selain hitam. Keisha ingin sekali pergi, tapi foto yang berada di meja belakang kamar ini mampu menyita perhatian Keisha. Melangkah mendekat dan mengambil foto itu, Keisha sedikit tersentak ada sesuatu yang menyentuh pinggangnya dan merebut foto itu. "Lancang!!" sinis Giffard. Kesiah kembali cemberut, menepis tangan Giffard yang tidak sopan berada di pinggangnya. "Nggak sopan!!" sinis balik Keisha. Enak aja dia itu berani menyentuh Keisha sesuai hatinya. Walaupun cuma pinggang, besok-besok kalau dibiarkan jangankan pinggang. Itu tangan bisa saja merambat kemana-mana. Keisha memasuki dapur dengan perasaan kesal. Mengambil bahan yang ada dan mulai memasaknya. Mengambil bengkoang dan juga beberapa cabe merah. Rasanya semuanya telah direncanakan sesuai apa yang Giffard inginkan. Jika tidak mana mungkin semuanya sudah siap di apartemen semewah ini. "Bocah SMA aja belagu pegang-pegang. Nggak tau apa umur dia jauh di bawah aku!!" gerutu Keisha kesal sambil mengiris bawang merah. Tanpa Keisha sadari, jika Giffard sejak tadi juga sempat memperhatikan wanita itu. Yang terus saja menggerutu tak jelas. Apa semua wanita seperti itu? Dengan sengaja Giffard memasuki dapur dan juga menyentuh kembali pinggang Keisha. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha, memukulkan pisau yang dia pegang di alas pemotong. "Giffard!!!" teriak Keisha kesal. -SugarBaby-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN