Pukul 7 pagi di hari yang sama, kira-kira lima belas kilometer jauhnya, Laura bangun dari tidurnya dengan hati berdegup kencang. Lalu ia teringat alasannya, hari ini adalah jadwal ia ke dokter kandungan untuk mengetahui apakah ia berhasil hamil atau tidak. Laura merasa bersemangat dan optimistis bahwa percobaan bayi tabung atau IVF yang kedua ini pasti berhasil dan ia akan hamil untuk pertama kali nya. Selama empat belas hari sejak penanaman embrio di rahimnya, ia tidak merasakan apapun dan tidak mengalami pendarahan sama sekali, yang menurut yang dia baca adalah pertanda baik.
Laura membangunkan suaminya sambil tersenyum. “Sayang, udah jam 7 ini, ayo bangun. Kita ada janji dengan dr. Robby jam 10 nanti, dan kamu harus ke kantor dulu untuk meeting pagi ini kan.” Suaminya, David, membuka mata dan membalas senyumannya. “Hai sayang, aku punya firasat bagus tentang ini. Semalam aku mimpi sedang bermain kejar-kejaran dengan anak laki-laki di taman. Kayaknya itu tanda kalau kita bakalan punya anak laki-laki.” “Amin”, kata Laura sambil memeluk erat suaminya. Mereka yakin bahwa mereka akan dikaruniai buah hati setelah lima tahun pernikahan mereka. Laura sendiri tidak punya preferensi antara anak perempuan atau laki-laki, yang penting anak mereka lahir dengan sehat sudah sangat cukup bagi Laura.
Setelah makan pagi bersama, David pergi ke kantor meninggalkan Laura sendirian di rumah, dan ia akan menjemputnya lagi untuk berangkat bersama ke dokter. Laura menghabiskan pagi itu dengan mandi, berberes-beres rumah, mengirim teks ke ibu nya untuk memberitahunya tentang jadwal ke dokter sambil bersantai menunggu suaminya. Ibunya juga turut bersemangat menunggu kabar baik darinya. Ia sangat memahami keinginan dan penantian panjang Laura untuk memiliki anak.
Laura sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai resepsionis di perusahaan lokal sejak bulan lalu karena ia ingin fokus dengan program IVF yang kedua ini. Program IVF yang pertama dijalaninya tidak berhasil karena tidak ada embrio yang dapat dihasilkan dari pembuahan sel telur Laura dan s****a suaminya. Laura berpikir bahwa pada saat itu ia masih bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore setiap hari, sehingga ada faktor kelelahan yang mengakibatkan kegagalan IVF nya. Memang dokternya tidak memberitahunya bahwa ia harus istirahat selama 2 minggu pertama suntik hormon, tetapi Laura tetap berpikir bahwa ia tidak sungguh-sungguh fokus pada saat itu dan mungkin juga kurang asupan nutrisi karena sering makan terlambat dan makan seadanya.
Oleh sebab itu, kali ini Laura benar-benar istirahat di rumah sejak hari pertama program hingga hari ini. Ia berolahraga ringan, makan makanan bergizi, dan banyak membaca buku parenting dan blog-blog online tentang IVF. Program yang kedua ini juga sudah menguras seluruh tabungan mereka, dan dengan dua kali program inseminasi buatan yang pernah dijalaninya sebelum IVF yang pertama, mereka sudah menghabiskan banyak uang untuk program hamil ini. Oleh karena itu, suaminya sangat berharap kali ini akan berhasil, apalagi suaminya menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam rumah tangga mereka sekarang.
Laura sangat tidak sabar untuk menjadi seorang ibu di usianya yang sudah menginjak 33 tahun ini. Selama beberapa tahun ini, ia melihat teman-teman nya dan kakaknya punya anak pertama, lalu kedua, bahkan ada yang ketiga, sementara ia tidak kunjung hamil hingga terpaksa menempuh jalur bayi tabung.