DUA

346 Kata
Tiba-tiba Nina mendengar Mbak Siti berkata di belakangnya. “Bu, saya bantu masaknya. Ibu mau masak apa buat non Lili?” Nina cepat-cepat menghapus air matanya. “Tolong buatkan nasi tim daging telur ya Mbak. Makasih.” Nina berkata dalam hati, untung saja dia masih ada Mbak Siti yang membantunya di rumah. Ia tidak bisa membayangkan jika harus mengerjakan pekerjaan rumah juga dan mengurus dua anak setiap harinya. Nina kemudian berusaha menenangkan bayinya yang masih menangis, “Ssh ssh it’s okay sayangku, tidur lagi ya..” Ia berjalan ke kamar tidur sembari menggandeng tangan Lili yang merengek, mengambil minyak telon, lalu mengoleskannya ke kaki Lili yang bentol-bentol kemerahan. Seketika, ia merasa menyesal sudah memarahi Lili yang memang digigit nyamuk dan tadi terbangun dari tidurnya terlalu pagi oleh suara pintu terbuka. Bagaimanapun, usia tiga tahun itu masih terlalu kecil untuknya menjadi seorang kakak dan belum dapat dituntut untuk mandiri. Nina berusaha tersenyum kepada Lili sambil mengusap kepalanya. “Lili, kamu lanjutkan baca bukumu dulu ya, nanti sebentar lagi Mama suapin kamu sambil kita bermain ya.” Lili berhenti menangis dan memandangnya dengan penuh harap. “Ayo main sekarang ma. Lili mau masak buat mama.” “Mama nidurin adikmu dulu sayang, baru kita main ya,” jawab Nina. Mendengar itu, Lili langsung merengek lagi dan menarik-narik tangan Nina. “Lili mau main sekarang maaa. Mama temeni Lili sekarang.” Nina berusaha menenangkan kedua anaknya yang menangis, lalu karena tidak berhasil, akhirnya ia menarik Lili keluar dari kamar dan membiarkannya menangis di luar. Ia menutup pintu kamar, menghela nafas panjang, lalu menimang-nimang Keira yang menangis semakin keras sekarang sambil bernyanyi perlahan. Setelah beberapa saat Keira tidak juga mau tenang, Nina mencoba memberi s**u lagi karena tidak tahan mendengar tangisan terus menerus. Untungnya, Keira mau minum dengan lahap dan setelah beberapa menit lalu tertidur kembali. Nina merasa lega dan menikmati sejenak ketenangan ini. Dengan berat hati, sambil membayangkan betapa inginnya ia untuk ikut tidur bersama bayinya, Nina menaruh bayinya di tempat tidur, memasang pagar pembatas di sekitar tempat tidur dan memastikan bayinya aman, lalu ia perlahan-lahan keluar dari kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN