SEMBILAN

765 Kata
Nina menantikan kedatangan Laura sambil memasak makan malam. Karena ia tidak sempat pergi berbelanja, ia tidak bisa memasak ayam untuk suaminya, dan akhirnya ia memasak dengan bahan seadanya di rumah, tetapi ia menambahkan dua porsi untuk Laura dan suaminya. Ia tidak tahu apakah suami Laura akan bergabung dengan mereka, tetapi lebih baik ia menyiapkan saja untuk berjaga-jaga. Ia melihat Lili sedang menggambar dengan penuh konsentrasi, sementara Keira ia taruh di tempat duduk bayi di ruang tamu dimana Nina dapat tetap mengawasinya. Nina melihat sudah pukul enam sore ketika ia selesai memasak. Sudah satu jam sejak ia menutup telepon dengan Laura dan adiknya itu belum juga datang, padahal perjalanan dari rumah Laura ke rumahnya biasanya hanya memakan waktu tiga puluh menit paling lama. Nina menyuapi Lili sambil mengobrol tentang gambarnya yang masih berantakan dan menyusui Keira di saat yang bersamaan. Suami Nina, Budi, pulang tidak lama kemudian, dan Nina memberitahunya bahwa Laura akan datang bertamu. Budi terkejut karena Laura hampir tidak pernah berkunjung ke rumah mereka, tetapi ia melihat bahwa istrinya terlihat lebih bahagia daripada biasanya yang selalu menunjukkan raut wajah tertekan, dan ia pun tersenyum kepada istrinya. Lalu ia mandi dahulu sembari menunggu kedatangan Laura. Nina dan Budi terpaksa makan malam terlebih dahulu karena sudah pukul tujuh dan mereka sudah kelaparan dan Laura belum juga tiba. Panggilan telepon dan teks Nina tidak ada jawaban. Nina juga sudah menelepon suami Laura namun hanya masuk ke Voice Mail. “Mungkin mereka ada urusan mendadak dan tidak jadi datang,” kata Budi. “Yah mungkin aja.” Nina mulai merasa hatinya gelisah, namun ia tidak menyuarakan kekuatirannya. Setelah makan malam, ia memulai proses menidurkan anak-anaknya. Saat ia sedang membacakan cerita sebelum tidur kepada Lili, ponselnya berdering. Nina melihat nama David, suami Laura, di layar, lalu ia memanggil suaminya untuk melanjutkan cerita, barulah ia mengangkat teleponnya. “Nina, ini David. Ada sesuatu terjadi kepada Laura. Aku saat ini sedang berada di rumah sakit.” Suara David terdengar serak. “Apa yang terjadi?” tanya Nina dengan hati berdebar. “Laura mengalami kecelakaan di jalan. Ada sebuah truk besar yang menerobos lampu merah dan menabrak motor Laura dari samping.” Lalu suaranya terhenti dan terdengar isak tangis sebelum ia melanjutkan dengan suara bergetar. “Laura meninggal di tempat, Nina.” Nina merasakan pandangannya kabur. Lututnya goyah dan ia jatuh terduduk di lantai, tapi tangannya masih menggenggam erat ponselnya di telinga. Ia tidak bisa mendengar suara David yang masih berbicara di telepon, dan juga tidak mendengar suaminya sendiri bertanya ada apa. Nina merasakan suaminya di sebelahnya memegang badannya sambil meraih ponsel di tangannya. Lalu ia melanjutkan pembicaraan di telepon dengan David. Nina melihat itu tetapi seakan otaknya tidak dapat memproses apapun. Perlahan ia mulai tersadar dan pikirannya mulai kembali. “Itu tidak mungkin terjadi. Laura tidak mungkin meninggal,” kata Nina dalam hati berulang-ulang. Ia melihat ekspresi kaget suaminya dan mendengar lanjutan pembicaraan mereka, dan tersadar bahwa itu benar terjadi. Sekujur tubuhnya bergetar dan matanya mulai basah. Nina tidak tahu berapa lama ia terduduk di lantai seperti itu. Yang ia tahu berikutnya, ia sedang diangkat suaminya ke tempat tidur. Budi berkata perlahan sambil memegang tangannya. “Ada dua sepeda motor termasuk Laura yang menjadi korban. Pengendara satunya juga meninggal di tempat. Saat ini Laura sudah dibawa ke rumah sakit terdekat dan David sudah di sana untuk identifikasi dan menjawab pertanyaan polisi. Pengemudi truk tersebut sudah diamankan polisi. Aku sangat minta maaf Nina.” Nina memandang mata suaminya yang berlinang air mata, dan air matanya sendiri semakin deras mengalir. Ia menerima pelukan suaminya dengan erat. “Tapi Laura nggak bisa pergi sekarang. Dia masih muda, dia masih mau jadi ibu. Aku masih sangat membutuhkan dia. Dia adikku satu-satunya.” “Aku tahu, sayang,” jawab suaminya sambil membelai rambutnya. “Kamu harus kuat sayang, karena Lili dan Keira sangat membutuhkan kamu. Aku membutuhkan kamu. Kamu istirahat aja dulu, aku yang menidurkan Lili ya.” Nina merasa kehilangan separuh dari dirinya. Ia merasa tidak akan pernah utuh lagi. Tidak ada apapun dan siapapun yang dapat menggantikan Laura di hidupnya. Malam itu Nina tidak tidur. Ia menangis putus sambung sepanjang malam sambil tetap menyusui Keira beberapa kali dan menenangkan Lili yang terbangun tengah malam. Ia meratapi kepergian Laura yang sangat terlalu cepat sebelum mereka bisa membangun hubungan mereka kembali yang sempat menjauh. Ia menangis kepada Tuhan mengapa mengijinkan hal ini terjadi. Ia juga takut sekali membayangkan jika ia dipanggil Tuhan tiba-tiba, apakah yang akan terjadi dengan anak-anaknya yang masih sangat kecil. Nina mengingat kesedihannya tentang hal-hal sepele dari pagi hingga sore hari tadi, dan itu tidak sebanding dengan kesedihan yang ia rasakan saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN