30. Uluran Tangan

1614 Kata
Coba sekarang apa lagi? Samesta sudah mencoba menghindar. Malah Lintang yang datang ke kedai. Maunya apa sih menganggu kehidupan orang lain terus? Samesta berharap Lintang tak memiliki niat jahat. Jika dulu dia berhasil membuat Raya merasa sangat tak pantas untuk Samesta dan memilih pergi. Hingga butuh usaha keras dan tentu tulus membawa Raya kembali, entah jika terjadi lagi Samesta belum bisa membayangkan bagaimana sulitnya. Mungkin lebih dari dulu. Samesta mengusak rambutnya frustrasi. Apa dosa dirinya hingga kesialan selalu datang di saat menyenangkan. Firasat mengatakan hidupnya yang tenang, tentram, dan nyaman akan terganggu. Sepertinya Samesta pernah melakukan kesalahan tanpa disadari di masa lalu. Sampai kini Samesta masih mencoba mengingat-ingat. Dosa apa! "Kamu kenapa deh dari tadi aku perhatikan gelisah terus." "Ha?" Samesta mendongak. Baru sadar dirinya duduk satu ruangan dengan Raya. "Enggak ..., cuma lagi mikirin konsep. Ada tender dari perusahaan besar.Kami belum ada ide bagus. Pikiranku malah rumit kayak benang kusut," dalihnya. Raya mengangguk. Soal pencarian ide sampai stres Raya juga sering mengalami. Ide suka datang tanpa diundang, lalu hilang tiba-tiba. Apalagi Samesta keinginannya perfeksionis. Membutuhkan waktu memilih terbaik dari yang terbaik. Ribet juga jadi perfeksionis. Mereka saling diam lagi. Lebih tepatnya, Raya membiarkan Samesta melanjutkan kegiatannya mencari ide. Lama-lama Raya menyerah juga. Giliran dirinya yang sulit mendapatkan ide. Beberapa menit terbuang dengan hanya menatap layar laptop tanpa melanjutkan paragraf-paragraf lanjutan. Raya nge-blank di hadapan layar putih dan kedipan kursor. Hal macam begini biasa bagi penulis, tapi ia masih belum bisa terbiasa. Caranya hanya mengalihkan perhatian sebentar. Membiarkan Dewi Ide datang sendiri. Namun, terkadang cara ini bikin kebablasan. Setelah puas mengalihkan perhatian, ide tidak datang, mengantuk iya. "Bu Guru Cantik tuh siapa sih?" tanya Raya memecah keheningan. Bu Guru Cantik lagi. Tidak bisa apa dunia rehat dari kata itu sejenak? Perasaan Samesta meradang tiap mendengar panggilan itu. Seperti ditakdirkan sebagai pria penuh dilema. "Kamu pernah ketemu sama orangnya, kan?" Raya bertanya lagi. Raya tak bisa diganggu kalau sedang merangkai cerita. Entah apa yang membuat Raya teringat Bu Guru Cantik saat sedang fokus mengetik. "Pernah," jawab Samesta singkat. Musik pengirim permainan di ponsel menjadi pengisi jeda. "Terus orangnya kayak gimana?" "Ngapain kamu tanya soal dia?" Kening Samesta mengernyit. Jangan bilang Raya sudah mengetahui siapa itu Bu Guru Cantik dan sekarang sedang mengujinya? Samesta pura-pura sibuk melanjutkan games. Dengan pikiran kemana-mana pasti kalah. Diam-diam Samesta menanti ucapan Raya selanjutnya. Berharap bukan seperti dalam dugaan bahwa Raya telah mengetahui segalanya. Bisa tamat riwayat Samesta. "Tadi Sansan susah tidur. Dia cerita terus. Katanya Bu Guru Cantik itu guru baru di sekolahnya. Gurunya baik banget kayaknya ya sampai dijadikan idola sama murid." "Pantesan kamu lama banget, tumben nidurin Sansan nggak balik-balik kamar sendiri. Aku kira bakal nginep di kamar Sansan." Raya menggeser posisi duduk mendekati Samesta. Begitu saja menyandarkan kepala di bahu suaminya. Dari sudut itu Raya dapat melihat permainan di layar ponsel Samesta terjeda oleh kata games over berwarna merah. Samesta berdecak, ini puncak dari pengaruh Raya. "Kamu ngiri ya sama gurunya Sansan?" Samesta kembali memulai permainan. "Dibilang ngiri iya. Aku nggak yakin Sansan suka ceritain ibunya ke teman-teman di sekolah seseneng gitu." "Ya ampun, Ray. Kamu jelas lebih segalanya lah. Nggak usah diceritain juga Sansan Santang banget sama kamu. Lagian ngapain kasih sayang ibu diumbar-umbar? Semua orang punya ibu. Dan kamu ibu kandungnya Sansan, jelas kamu segalanya bagi Sansan, bagi Saluna, bagi aku juga. Nggak ada yang lebih dari kamu, Ray. Percaya deh." "Iya, percaya .... Tetep aja--" Ucapan Raya terpotong. "Lagian dia nggak secantik kamu, kok. Dia nggak ada apa-apanya." "Bentar, kok malah ngomongin cantik? Oh ..., ketahuan nih kamu sering pertahatiin orang itu." Telunjuk Raya menuduh muka Samesta. Sontak Samesta kaget, menolak mentah-mentah tuduhan Raya. "Haha. Enggak lah. Kan tujuannya aku bilang gitu supaya kamu nggak iri, berhenti minder." "Oh ya? Hm, jadi penasaran gimana orangnya. Nanti aku ketemu orangnya deh sambil antar Sansan." Pasalnya mereka pernah menghadiri sebuah pesta pernikahan teman kantor Samesta dulu. Ada seorang wanita di antara teman kantor Samesta. Wanita itu cantik dan orang-orang seperti sengaja menggoda Samesta dan dia di hadapan Raya. Meski Samesta tampak mengelak dan lebih banyak melirik Raya, tetapi wanita itu bertindak malu-malu. Lalu Samesta berbisik, "Cantikan kamu kok." Lelaki dimana-mana sama. "Ngapain?" Ponsel Samesta hampir jatuh. Raya mendongak, heran mendapat reaksi berlebihan Samesta. "Mau ketemu dan kenalan sama guru baru anakku lah. Sekalian mau ngucapin terima kasih juga dia udah menyayangi Sansan, bantu Sansan tiap kesulitan. Gimana pun saat aku dan kamu kerja, dia loh yang ngurus anak kita." Samesta berdecak, "Nggak usah. Setiap antar Sansan, aku ngucapin terima kasih ke guru-gurunya kok. Aku juga sadar mereka yang ngasuh anakku waktu aku nggak bisa meluangkan waktu lebih banyak." "Atau aku kasih donat aja ya? Nanti kamu yang kasih. Em ... maksudnya aku nitip kasihin ke dia." "Dia nggak suka makanan manis." "Iya kah? Kok kamu tau?" Mampus! Kenangan masa lalu kebawa-bawa. Saat membicarakan Lintang, dalam pikiran Samesta adalah menahan omongan. Yang ini di luar kendalinya. Kenangan tentang apa saja kesukaan Lintang waktu mereka pacaran di bangku kuliah terbuka kembali. Samesta menepuk dahi. Lama-lama bisa terbongkar kalau Samesta masih kesulitan menyembunyikan rahasia. "Mu-mungkin itu juga," gugup Samesta. "Baru mungkin." Tangan Raya mengibas. "Kasih donat aja lah ya. Dia udah nikah belum sih?" "Kayaknya ...," jawab Samesta ragu. "Yang penting kasih dulu. Kalau dia nggak suka biarin kasih ke keluarganya aja. Soalnya kalau bukan donat, aku bingung harus ngasih apa lagi. Andalan keluarga kita kan donat Rames." "Ya udah yang ada aja." "Nah, kan. Itung-itung biar dia makin seneng jagain Sansan." Samesta malah berharap dia bosen menjaga Sansan. Ingin nangis rasanya. "Ke dia aja nih ngasih donatnya? Kalau mau ngasih satu, aku saranin agak banyakan biar guru lain juga nikmatin." Raya bergumam. "Oh, gitu ya?" "Iya lah, Ray. Itu tatakrama yang dasar banget. Kalau cuma ngasih ke satu guru, takutnya guru lain atau orang tua siswa lain pada menganggap kita ngasih karena ada maunya. Kalau ke semuanya kan jadi aman." "Iya juga ya .... Ya udah deh aku siapin agak banyak. Minta Zahra ke sini bawain yang di kedai aja." Samesta menghela napas. Usahanya menghindari Lintang akan kembali digagalkan. Dia harus mengantarkan Sansan sekaligus menyerahkan cinderamata pada seluruh guru Sansan. Kalau Lintang bukan salah satu guru di sekolah anaknya, Samesta tidak akan segelisah ini. *** "Serius kamu mau ngasih segini?" Samesta baru keluar kamar tersentak. Di atas meja makan terdapat banyak tumpukan kotak donat berlogo The Rames. Raya benar-benar mewujudkan perkataannya akan membagi-bagi kue pada guru di sekolah Sansan. "Ini mah berlebihan, Ray. Kamu mau niat ngasih atau mau bikin usaha kamu bangkrut?" celetuk Samesta ditertawakan Zahra. Yang disindir malah sibuk menghitung berapa kotak di atas meja. Sedangkan Zahra yang datang pagi-pagi sekali membawa satu tas kue dalam toples menggelengkan kepala. Pasangan ini lucu. Ributnya karena saling sayang. Zahra sering berandai suatu saat nanti pernikahannya bisa sesantai dan saling melengkapi seperti Raya dan Samesta. "Satu guru satu kotak, Sam." Raya menyengir. Menunjukkan deretan gigi putihnya. Ia mulai memasukan satu per satu kotak donat ke dalam satu kardus. "Bos kamu terlalu royal, Zah." Samesta menarik satu kursi. Zahra membenarkan perkataan Samesta. Raya itu terlalu royal. Terkadang seperti tidak takut rugi. Setiap menolong dilakukannya tanpa menerima balasan. "Mas Samesta mau donatnya? Ini masih hangat. Mukti langsung datang jam 3 pagi habis aku ditelepon Mbak Ray." "Jam 3 pagi Mukti udah ngulek adonan donat? Tuh, Ray. Kamu ngerepotin banyak orang." Dari arah dapur Raya muncul membawa air minum. "Aku juga nggak nyangka mereka segini waktu aku minta. Padahal kata aku ngerjainnya bisa siang aja. Eh, tadi pagi Zahra datang kayak habis merampok toko donat." Mereka tertawa. Raya tak berbohong, memang begitu keadaannya. "Mbak Raya tuh hampir nggak pernah minta bantuan kami. Sedangkan aku dan yang lain kerjaannya minta tolong. Cuma minta bantuan segini ya kami buru-buru kerjain. Nah, sudah selesai, Mbak." "Sudah? Wah ..., makasih banyak, Zah." "Hehe. Bukan apa-apa, Mbak." Jika dibandingkan dengan apa saja yang dilakukan Raya pada hidup Zahra tentu ini hanya hal kecil. Zahra menatap keluarga itu dengan haru. Samesta menyuapi Sansan. Raya yang segera menyiapkan sarapan tambahan saat Saluna datang menenteng tas sekolah bergabung di meja makan. "Kalau gitu Mbak, Mas, aku pamit pulang dulu ya? Bentar lagi kedai harus buka. Sepertinya kerjaan Mukti juga sudah hampir selesai." "Sarapan dulu, Zah. Telat buka kedai nggak apa-apa kok. Sini. Aku udah masak banyak." "Iya, Kak Zah. Sarapan bareng dulu. Udah bela-belain datang ke sini pagi banget juga." Saluna menimpali. "Ayo, Zah. Nasi goreng buatan ibunya anak-anak enak banget. Buru, sini!" ajak Samesta sambil menyuapi putranya. Zahra jadi tersentuh. Sudah lama ia tak merasakan kehangatan sarapan bersama keluarga. "Kalau boleh ..., aku mau bungkus nasi gorengnya aja, Mbak. Bisa sambil makan di kedai. Hehe." Raya menggelengkan kepala. "Kamu ini ya mikirin kedai terus ...," katanya dengan nada kesal dibuat-buat sambil memindahkan nasi goreng buatannya ke dal kotak. "Nih, makan yang banyak. Jangan telat makan lagi kayak waktu itu sampai maag kamu kambuh." Bagi Zahra, Raya adalah kakak perempuan dan seorang ibu. Di dunia ini Zahra tak lagi punya siapa-siapa. Kalau bukan karena uluran tangan wanita berhati malaikat ini, mungkin sekarang Zahra terlunta-lunta. Tak punya keluarga, tak punya rumah, semuanya habis disita bank setelah ibunya dimakamkan. "Makasih, Mbak." Zahra tergerak memeluk Raya. Walau terkejut, Raya mengusap punggung gadis berhati rapuh itu. Dari luar saja Zahra tampak kuat, tetapi Raya tahu segalanya. "Jangan merasa sendirian. Ada kami, keluarga kamu di sini. Jangan sungkan ya?" Zahra mengangguk paham. Memeluk Raya bisa melampiaskan kerinduannya terhadap pelukan ibu. Tak berapa lama Saluna berdiri menyusul pelukan itu. Sansan juga mengikuti kakaknya. Mereka berakhir berpelukan dan tertawa bersama. Di tempatnya, Samesta tersenyum mengagumi kebaikan hati Raya. Betapa beruntung ia memiliki seorang Raya dalam hidup. --Sweet Delusion-- Makasii tap love dan dukungannya ya Yuk bantu share cerita ini ke teman dan keluarga Hehe See you ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN