Pagi itu Marinka bangun sebelum matahari terbit. Didekatinya Bujana dan diraihnya tangan hangat suaminya dalam dekapan sembari sesekali ditempelkan di pipinya. Sudah lebih dari sebulan, dia tak bisa menatap wajah Bujana. Perban wajahnya belum juga dibuka. Kata dokter, sebagian besar kulit wajahnya terbakar, jadi memerlukan operasi untuk memulihkannya. Dan operasi belum bisa dilakukan karena Bujana masih dalam keadaan koma. “Bujana, dengarkan aku,” bisik Marinka. Tidak ada reaksi dari Bujana. Hanya bunyi tit tit tit teratur di dalam ruangan yang hanya diisi mereka berdua. Marinka mendesah kecewa. “Ada seseorang atau roh yang hendak membunuhmu.” Marinka memulai kegiatannya hari ini dengan situasi berbeda. Setiap hari dia mengajak Bujana berbicara, sesuai saran dokter. Untuk merangsang sem

