Bujana terheran-heran dengan dirinya sendiri. Dia bisa membaca huruf-huruf yang dia tak pernah mengenalnya, dari selembar kertas yang disodorkan bapak barunya. Kertas itu tebal dan dikaitkan ke dua batang kayu di kedua ujungnya. Kertas yang hanya dilihatnya di museum, tempat surat-surat Raja jaman dahulu kala menuliskan perintahnya. “Lihat, ini adalah surat pengumuman penjaringan calon pengawal kerajaan. Surat ini ada dua. Satu untuk kusimpan, dan satu untuk kau bawa saat ke istana. Surat ini diantar oleh pengawal kerajaan ke depan rumah kita, Nebuz. Itu bukan hal yang sepele. Kamu sudah diminta oleh Yang Mulia Raja Kadnazer untuk menjadi pengawal terbaiknya. Kamu akan menjalani latihan di istananya dan bertemu dengan orang-orang hebat di sana. Dan kamu malah menolak.” Agga, lelaki yang

