14. Pendatang Baru

1130 Kata
Marinka semakin membaik. Dia sudah bisa turun dari tempat tidur, dan perawat mengijinkannya untuk keluar kamar mengenakan kursi roda. Adaire meminta pihak Rumah Sakit untuk merawat Marinka hingga sembuh total, baru mengijinkan gadis itu untuk pulang. Karran menyampaikan itikadnya untuk membawa Marinka pulang ke rumahnya. Namun Adaire tidak setuju. Meski mereka berdua saling mencintai, dan Marinka bersedia, tapi Adaire masih menjunjung tinggi budaya timur. Untuk tidak tinggal seatap sebelum menikah. Apalagi Bujana masih hidup. “Bagaimana bila Bujana mati dan belum sempat menceraikan Marinka?” tanya Karran antusias. Adaire sedikit terkejut dengan pertanyaan Karran. “Kau jangan bertindak bodoh, Karran. Kau tahu aku selalu mendukungmu dengan Marinka. Apapun demi kalian berdua. Tapi, semua tetap sesuai aturan. Aku tidak mau mencoreng mukaku sendiri. Anakku belum menjanda.” Karran duduk di tepi meja rias Adaire. Wanita artis panggung itu sedang merias wajahnya. Sebentar lagi dia manggung. Karran teringat, bagaimana dulu dia mendongkrak kepopuleran wanita separuh baya itu dengan hasil bidikan kameranya. Dan, Adaire memberi hadiah kepadanya, seorang gadis polos yang malu-malu ketika punggung tangannya dikecup. “Dia boleh menjadi milikmu, bahagiakan dia.” Itu janji Adaire padanya. Meski Marinka bukan tipe gadisnya. Dia terlalu polos dan sederhana, sedangkan Karran lebih tertantang dengan wanita yang tidak menyerahkan cinta begitu saja padanya. Namun nyatanya, memiliki Marinka yang bersedia menyerahkan seluruh cinta padanya--dalam situasi seperti ini, tidak mudah. Ada adat ketimuran yang harus dia perhatikan. Dan halangan itu, justru membuatnya b*******h dan tertantang. “Secara jiwa, dia sudah mati Adaire. Bila dia bangun pun, Marinka tidak akan bahagia bersamanya.” “Aku tahu,” sahut Adaire. “Dia tidak berdaya, demikian juga Marinka. Tapi aku tidak ingin, kita semua, karirku, karirmu, hidup Marinka, hancur bila kau punya pikiran bodoh seperti itu. Katakan padaku, kau tidak akan melakukan apapun pada Bujana. Karran?” Karran tidak menjawab. “Jawab aku!” bentak Adaire. Dia menjadi tidak yakin Karran akan menghapus pemikiran itu dari kepalanya. “Tentu tidak, mertuaku. Makanya, aku meminta Marinka tinggal bersamaku.” “Tidak!” Karran mendengus mendengar jawaban tegas Adaire. “Lalu, aku harus menunggu seribu tahun agar Marinka menjanda?” Adaire meraih lipstik di atas meja riasnya, lalu memerahkan bibirnya yang sudah merah. “Aku akan bicara pada pihak Rumah Sakit mengenai kemungkinannya. Berapa persen kemungkinan dia bisa membuka mata. Javier akan membantuku untuk mencari dasar hukumnya. Apakah kondisi Bujana masuk kategori hidup atau mati, sehingga Marinka bisa mengajukan gugatan cerai.” Karran tersenyum senang. Dia membuka tutup lensa kamera yang menggantung di lehernya, lalu membidik wajah cantik Adaire. Wanita itu tidak memprotes tindakan Karran, karena calon menantunya itu terbiasa melakukannya, demi popularitasnya. Ponsel Adaire bergetar. Sebuah pesan masuk. Adaire mengenyit kening membacanya. “Ya, Tuhan. Kenapa menjadi serumit ini?” “Siapa?” tanya Karran sembari melihat-lihat hasil bidikannya pada Adaire. Wanita itu selalu sempurna di setiap sudut pengambilan gambar manapun. “Ayah Bujana. Dia meminta Bujana dan Marinka dipulangkan ke Indonesia,” keluh Adaire. “Aku benar-benar tidak sempat mengurus ini semua. Sudah kubilang, tidak mungkin memindahkan Bujana dalam kondisi seperti ini, tapi dia memaksa. Dia dan Maloko akan membawa tim medis sendiri dari Indonesia, untuk menjemput mereka.” “Marinka?” tanya Karran kecewa. “Tentu saja dia harus ikut. Menurutmu bagaimana?” Karran mendengus. Menutup lensa kamera, lalu menjepit dagu dengan jemarinya. “Situasinya akan berbeda bila Bujana mati, kan?” “Hentikan pikiran bodohmu, Karran! Meski aku sangat ingin Marinka bersamamu, tapi pikiranku masih waras. Banyak jalan menuju Roma, bila kau mau bersabar.” *** Ahmed menghibur Bujana dengan mengajaknya berkeliling rumah sakit. Daripada roh lelaki itu selalu dibakar emosi bila Karran berada di dekat Marinka. Ahmed meyakinkan Bujana, bahwa Karran tidak akan macam-macam dengan Marinka di ruang perawatan, karena perawat berseliweran setiap saat. Marinka bukan perempuan bodoh yang mau menuruti isi hatinya tanpa mempertimbangkan logika. Meski Ahmed tahu, wanita itu lebih mencintai Karran daripada suaminya. Begitu dia sembuh, dan keluar dari rumah sakit ini, sudah pasti Karran akan memilikinya.  Bagi wanita normal seperti Marinka, apa yang bisa dia harapkan pada Bujana? Penantian? Kesetiaan? Cinta? “Aku ingin tahu di mana rumah Karran.” Ahmed meringis. “Kita tidak bisa pergi jauh dari rumah sakit?” “Kenapa? Bukankah kita roh yang bisa menembus apapun? Tidak ada lagi dimensi ruang dan waktu yang membatasi kita?” “Jangan naif, Bujana,” sahut Ahmed kesal. “Kita bukan roh berabad-abad yang gentayangan. Di alam kita ini, aku yakin ada roh yang lebih berkuasa dan punya kekuatan--yang aku tidak tahu siapa. Dan kita harus berhati-hati terhadap roh yang seperti ini.” “Kenapa?” Ahmed mengarahkan telunjuknya pada Lili yang sedang berayun di taman. Mereka berdua sedang berdiri di depan rumah sakit, sementara manusia berlalu-lalang di depan mereka. Saat ada manusia, dragbar atau benda medis lain menembus mereka, Bujana meringis. Masih merasakan ribuan jarum menusuk rohnya--meski semakin lama dia semakin terbiasa. Ahmed malah kelihatan tak peduli. “Kenapa dengan Lili?” “Dia adalah salah satu korban roh jahat.” Bujana menggeleng, tak mengerti.  “Kematiannya, karena rohnya diperebutkan oleh para penguasa roh jahat. Makanya, meski sebenarnya dia sudah mati, dia tak menemukan jalan pulang. Sebenarnya, bila ada yang menolongnya, dia akan pergi dari taman itu dan pulang ke alam sebenarnya. Kasihan, dia bisa berabad-abad bermain ayunan.” Itu waktu yang sangat membosankan untuk sekedar bermain ayunan. “Memangnya, kamu dan aku, berapa lama akan bertahan di alam ini? Marinka keburu tua.” “Jasadmu harus sembuh dulu, baru kau bisa kembali,” ucap Ahmed berlaga seperti seorang dokter. “Kudengar, seluruh tulangmu remuk. Kau bisa hidup hanya karena organ vitalmu masih utuh. Jantung, paru-paru dan ginjalmu selamat. Tapi hatimu ….” “Kenapa hatiku?” “Patah hati.” Ahmed terbahak senang. Terlebih ketika melihat wajah roh Bujana merah padam karena marah. Ahmed senang bila menggoda Bujana, terutama bila menyangkut Marinka. Karena hanya gadis itu tujuan penting Bujana. Beda dengan dirinya. Tujuan hidupnya hanyalah mati, karena kehidupan sudah membuatnya mati sejak lama. Namun, tujuan itu tak pernah terwujud, malah menahannya di alam yang tidak mati dan tidak hidup. Jadi, Ahmed memilih untuk bersenang-senang saja. “Ada pendatang baru,” bisik Ahmed. Sebuah ambulance menurunkan dragbar dengan seorang perempuan terikat di atasnya. Petugas medis mendorong dragbar itu tergesa masuk ruang Gawat Daruruat. Yang mengherankan bagi Bujana adalah ada perempuan yang sama duduk dia atasnya. “Rohnya sudah keluar?” tanya Bujana. “Dia bisa melihat kita?” “Tentu saja. Sapa dia, biasanya pendatang baru senang disapa.” Dragbar itu melewati Bujana dan Ahmed. Roh wanita di atas dragbar menoleh pada keduanya. Bujana mengembang senyum pada wanita berparas Timur Tengah itu. Rambutnya tergerai indah hingga ke d**a, hidungnya lancip dan bibirnya merekah manis. Dia tampak bingung. “Halo, cantik!” sapa Bujana sembari menghulurkan tangan. Tiba-tiba roh gadis itu meraih tangannya, dan dia langsung melompat ke pelukan Bujana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN