3. Memacu Adrenalin

1205 Kata
Seorang Puteri tidak mengimpikan sebuah pernikahan yang mewah, gedung yang indah, hiasan yang tak pernah sebelumnya dilihat siapapun dan dihadiri oleh ribuan rakyatnya. Melimpah hidangan dan hadiah. Seorang Puteri hanya mendambakan pangeran berkuda yang akan menjemputnya, membawakan cinta sepenuh hati dan jiwa. Membawanya ke istana yang didambakan dan hidup bahagia selamanya. Tapi tentu saja kisah itu hanya ada dalam dongeng. Marinka memang kedatangan pangeran berkuda. Gagah, tampan dan menawan, kudanya adalah mobil balapnya di sirkuit, populer di dunia maya dan dunia nyata, pujaan dan impian para gadis. Perfect Gentleman. Tapi, dia tidak membawa cinta sepenuh hati dan jiwa. Dia membawa misi bisnis orang tuanya. Dan Marinka harus menerima semua itu, atau ayahnya akan membakar studio lukisnya dan mengubur semua hasil kerjanya sejak kecil. Meski Marinka yakin ayahnya tidak akan melakukan hal itu. Ayahnya sangat sayang padanya, dan selalu mendukung apapun yang dikerjakannya, bahkan membiayai semuanya. Tapi bila menolak keinginannya, maka rumah mereka akan seperti neraka. Marinka tidak bisa membayangkan bila dia harus mengalami nasib ibunya, pergi dari rumah dan hidup seorang diri di luar sana. Maka pernikahan bisnis ini pun terlaksana hari ini. Marinka mendengus. Bujana bisa mendengar dengusan itu begitu jelas. Sejak tamu-tamu berdatangan, senyum palsu Marinka merekah. Bujana menirunya. Cukup mudah, tinggal menarik ujung bibir satu centi ke kiri dan ke kanan. Maka semua tamu akan membalas dengan senyum yang sama. Sementara di pojok ruangan dekat pintu masuk utama, Bujana bisa melihat segerombolan gadis menatap mereka berdua dengan sengit. Mau tidak mau, mereka harus datang ke pesta pernikahan Bujana, melihat pesaing mereka seorang perempuan yang mewarisi wajah artis Yunani, ibunya. Dan, hal itu membuat mereka tak punya nyali untuk mendekat, seperti yang biasa mereka lakukan selama ini bila Bujana turun dari gelanggang sirkuit. Mengerubungi Bujana seperti kucing berebut ikan. “Kau sudah mendengus sepuluh kali, “ bisik Bujana di belakang telinga Marinka. “Hm, kau menghitungnya. Sungguh menyenangkan punya suami yang perhatian.” “Tentu saja aku harus perhatian. Kau tidak melihat gerombolan gadis di pojok sana,” ucap Bujana seraya mengarahkan dagunya untuk memberi petunjuk pada Marinka, betapa dia masih punya penggemar meski sudah menikah, “mereka semua gadis yang patah hati. Mereka bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkanmu.” “Coba saja.” Marinka menyambut uluran tangan seorang tamu. Seorang perempuan tua bermake up tebal, relasi bisnis pastinya. Entah tamu dari pihak keluarga Marinka atau Bujana. Marinka menerima cipika cipiki, lalu mendengus ketika tamu itu berlalu. “Kau tidak akan berani.” Lanjut Bujana kembali berbisik. “Aku tidak takut kehilangan kamu, Bujana. Kau bica mencobanya kapan saja. Dengan cepat aku akan melepaskanmu. Tapi tidak hari ini, aku harus menjaga nama baik ayahku.” Bujana mendengus. Marinka benar-benar tidak peduli padanya. Tapi bagaimanapun juga, mereka harus menjalani pernikahan ini. Tidak perlu ada kesepakatan, tidak perlu ada jaminan, tidak perlu ada cinta. “Hai Marinka, aku dengar kalian akan berbulan madu ke Babilonia? Ow… so sweet.” Seorang tamu datang lagi ke hadapan mereka. Bujana melingkarkan tangannya ke pinggang Marinka, dirasakannya wanita itu menjengit terkejut. “Tentu saja, tante. Kami sudah tidak sabar untuk segera meninggalkan pesta ini, “ ucap Bujana pada wanita di hadapan mereka. Wanita itu terkekeh dan mencubit Bujana. Dia pun berlalu. Hanya sekedar sapaan basa basi. Tapi, tidak membuat Marinka mendengus. “Hm, kau sudah tidak sabar? Aku juga. Malam ini, kita sudah harus terbang ke Irak,^ ucap Marinka, sembari melempar senyum ke sana kemari, pada para tamu undangan. “Kau gila? Aku masih harus menemui teman-temanku. Mereka yang di pojok sana, akan membunuhku bila aku tidak say good bye.” “Oh begitu, padahal aku sudah tidak sabar naik mobil balapmu, dan memacu adrenalin di jalan. Menuju bandara. Itu bila kamu masih punya nyali untuk bertaruh nyawa di jalan yang padat, bukan di sirkuit.” Bujana tersengat. Lima menit kemudian, mobil balap Bujana meninggalkan gedung mewah tempat pernikahan mereka berlangsung, diiringi teriakan histeris para gadis pemuja Bujana, dan lambaian tangan para tamu. Juga, tentu saja kilatan lampu blitz para wartawan. Berita pernikahan mewah ini akan memenuhi headline semua koran nasional besok pagi. Ayah Marinka sudah memastikan hal itu. “Sebaiknya, kau pasang sabuk pengamanmu, atau kau bisa terlempar ke luar,” ucap Bujana sembari melirik Marinka. Mereka sudah melaju di jalan yang padat di malam Minggu. Gadis itu sedang memainkan kalung di dadanya. Kalung liontin emas hadiah Bujana saat acara pernikahan mereka. “Hm, berapa kau beli kalung ini?” “Kau tidak perlu tahu, yang jelas tidak murah. Aku memesannya dari Babilonia.” Marinka terlihat biasa saja, meski kata Babilonia disebut. Bujana sedikit kesal, wanita di sampingnya tidak sedikitpun berterima kasih padanya. Termasuk menjadi pendamping di sebelahnya. Padahal, banyak wanita menginginkan untuk duduk di sebelahnya, memacu adrenalin di jalanan. Entah darimana Marinka menemukan kalimat itu, hingga membuat Bujana merasa terusik, dan meninggalkan rencanan besar dengan teman-temannya. Pesta terakhir di sirkuit sebelum masuk kamar pengantin. “Kau yakin tidak palsu?” Bujana mengambil belokan dengan tiba-tiba. Marinka mengaduh karena terkejut, dan kepalanya terbentur dinding mobil. Bujana tersenyum puas. “Kau mau menyingkirkanku lebih cepat?” sungut Marinka “Aku membeli itu dengan hasil keringatku sendiri, di sirkuit. Kau tidak perlu tahu, berapa sponsor yang kudapat.” “Kau benar. Itu tidak penting.” Bujana memaki dalam hati. Sejurus kemudian, dia menambah kecepatan, ketika mobilnya sudah memasuki area bandara. Berputar di area parker, lalu berhenti mendadak. Ditolehnya Marinka. Gadis itu tampak tegang, tangannya mencengkeram handle pintu. “Bagaimana adrenalinmu?” “Not bad.” Marinka membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar. Bujana baru menyadari, Marinka masih memakai baju pengantinnya. “Kau yakin mau naik pesawat dengan baju itu?” tanya Bujana dari sisi mobil satunya. Dia tidak habis pikir dengan Marinka. Wanita yang baru dinikahinya itu benar-benar tidak peduli pada dirinya sendiri. Apakah dia akan menjadi perbincangan di public atau tidak. “Kita baru menikah, ada yang salah dengan baju ini? Bukankah semua orang harus tahu kalau kita sudah menikah. Kau malu?” Bujana mendengus kesal. Dia berharap, perjalanan ke Irak kali ini tidak akan membuatnya mati kebosanan, karena perempuan seperti Marinka. Mereka berdua berjalan memasuki bandara sambil menyeret koper roda masing-masing. Tak berapa lama ada dua orang mendekat dan mengambil alih tas mereka. Anak buah ayah Marinka. Bujana mengulurkan tangannya yang tidak lagi menyeret koper. “Kau mau membawakan tasku?” tanya Marinka tanpa ekspresi. Dia menyodorkan tas tangan yang sejak tadi menyilang di dadanya. “Aku mau menggandeng tanganmu. “ “Oh …” “Marinka?” Bujana mengulurkan tangannya lagi. Marika menyambutnya. Bujana terkejut ketika menyentuhnya. Tangan itu begitu dingin. Rupanya wanita itu sangat tegang, tapi herannya dia bisa begitu pandai menyembunyikannya. Bujana yakin, adrenalin wanita di sisinya itu sudah terpacu sejak kepalanya terbentur di belokan tadi. “Aku harus memeriksa nadimu,” ucap Bujana sambil mengenggam tangan Marinka, “sepertinya adrenalinmu terlalu melonjak.” Marinka menarik tangannya, tapi Bujana menahannya. Dia menggandeng Marinka hingga mereka berada tepat di depan jet pribadi milik Marinka. Gadis itu menurut saja, bisa jadi karena beberapa orang di bandara mengambil gambar mereka di sepanjang jalan menuju pesawat jet. Sepertinya wartawan ada di mana-mana. Bahkan, bisa jadi di dalam pesawat juga akan ada wartawan yang akan mengambil gambar mereka, dan menjadikan headline di internet. Ayahnya sudah mempersiapkan semuanya, untuk bulan madu putri tercintanya. Terutama segala hal untuk mendulang popularitasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN