9. Koma

1014 Kata
Langit sangat terang dan menyilaukan mata Bujana. Dari jendela ruangan, cahaya itu seolah menyerang masuk dan membuat matanya perih. Bujana bersembunyi di balik pintu dan tirai-tirai, sembari berpindah dari kamar ke kamar. Dia masih belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya, juga pada Marinka. Bukankah seharusnya dia berada di pesawat, berangkat untuk berbulan madu? Usahanya nyaris membuahkan hasil. Gadis itu sepertinya sudah mulai takluk padanya, karena dia berhasil mencium keningnya. Dan sepasang mata indah itu menatapnya khawatir. Seolah mereka hendak dipisahkan dalam waktu yang lama.  Setelah itu, ingatannya kosong. Dan untuk mengembalikannya, kepalanya serasa dipukul oleh puluhan palu. Ada yang hilang setelah itu dia mencium kening Marinka, dan dia tidak tahu apa. Yang jelas, ingatan itu berganti menjadi seorang gadis kecil di ayunan. Entahlah, melihat gadis itu membuatnya bergidik, meremang bulu kuduknya. Beberapa orang berseliweran di ruangan berdinding putih. Wajah-wajah Timur Tengah. Tak satupun yang dikenalnya. Langkahnya, seolah terseret menuju sebuah ruangan yang tampak sepi. Sebuah pintu dengan daun pintu kanan dan kiri yang bisa dibuka sekali dorong saja. Bujana berdiri di depan pintu itu. Suara batinnya memaksanya untuk memasuki pintu itu. Tiba-tiba pintu terbuka, dua orang tenaga medis sedang mendorong dragbar. Salah satunya menahan pintu agar dragbar bisa melewatinya. Bujana menyelipkan badan di antara dragbar, dan dia pun berhasil masuk. Kini dia memasuki sebuah lorong dengan sebelah dinding terbuat dari kaca. Di dalam ruangan berdinding kaca itu, tampak pasien-pasien terbaring dengan berbagai alat bantu medis. Sembari menyusuri lorong itu, dan mengamati setiap pasien di dalam kaca, Bujana berusaha mengingat satu penggal peristiwa yang hilang dari memorinya. Antara dia mengecup kening Marinka dan gadis di ayunan. Bila penggalan yang hilang itu adalah saat dia melalui malam pertamanya dengan Marinka, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya. Meski banyak gadis cantik menggelayutinya selama ini, namun dia masih memegang prinsip untuk tidak menjamah siapapun yang bukan istrinya. Dan pada Marinka dia berharap bisa mendapatkan kebahagiaan malam pertama, meski memerlukan usaha yang luar biasa untuk menundukkannya. Dia sudah terbiasa di sirkuit. Sangat memahami bahwa segala bentuk usaha akan menjadi manis bila sudah dilalui dan mendapat hadiah atas kerja keras. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Ada yang membuatnya menghentikan langkah. Bujana menoleh dan mendapati seseorang di dalam ruang kaca, membelakanginya. Rambutnya diikat dan dia mengenakan pakaian seperti pasien lagin. Sepertinya dia mengenal rambut yang diikat itu. Marinka. “Marinka!” panggil Bujana dari balik kaca. Sosok itu menoleh dan dia terkejut mendapati raut wajah Bujana. “Bujana!” teriaknya dari balik kaca. Wajah Marinka seperti seorang gadis yang menemukan barang hilang yang berjam-jam dicarinya dan membuatnya putus asa. Mereka saling mendekat ke kaca, saling manautkan pandangan. Bujana merasa lega melihat wajah istrinya masih cantik dan sempurna seperti saat dia mengucap janji suci menikahinya. Tiba-tiba, dia begitu merindukan Marinka, seolah bertahun-tahun tidak bertemu. Jangan-jangan, ingatan yang hilang itu adalah ingatan bertahun-tahun hidup bersama dengan Marinka! Oh, tidak, teriak Bujana dalam hati.  “Marinka, keluarlah dari situ?” ucap Bujana. “Kemarilah.” Marinka menggeleng. “Aku tidak bisa.” “Kenapa? Carilah pintu keluar, dan kita segera pergi dari sini. Apa yang telah terjadi?” Marinka menggeleng tak mengerti. Dia kelihatan bingung, dan panik. Wajahnya terlihat sangat cemas. “Marinka, kau tidak apa-apa, kan?” Tiba-tiba pintu di ujung lorong terbuka, dan Bujana mengenali siapa yang masuk dengan tergesa. Tuan Maloko, mertuanya. Dia datang bersama seorang wanita cantik dengan penampilan layaknya artis. Meski belum pernah bertemu langsung, Bujana langsung mengelinya sebagai ibu kandung Marinka. Seorang artis panggung. Entah terkenal atau tidak, dia tak pernah ingin mencari tahu. Yang jelas, meski sudah berumur, dia masih terlihat sangat cantik. Seperti Marinka. “Marinka, keluarlah. Ada orang tuamu datang.” Ucapan Bujana seperti tidak diindahkan Marina. Sejurus kemudian, Maloko dan Adaire berdiri di depan pintu kaca. Marinka menggeser badannya, dan Bujana membeliak tak percaya. Bahwa apa yang dilihatnya kini di balik kaca adalah badan Marina yang terbaring seperti pasien lain dengan aneka selang di aas tubuhnya. “Marinka!” teriak Bujana. Panik sekaligus tak mengerti. Marinka yang sejak tadi berbicara padanya, hanya menoleh dan menatap Bujana dengan wajah sedih. Kedua orang tua Marinka, mulai saling berbicara berbisik, Bujana tidak bisa mendengarnya. “Hei, Tuan Maloko!” teriak Bujana pada mertunya. Namun lelaki dengan uban di pelipis kiri dan kananya itu seolah tuli tak mendengar teriakannya. “Hei, cepat tolong Marinka. Dia sedang kritis. Tapi ….” Bujana kebingungan. Dilihatnya Marinka mendekati Marinka lain yang sedang berbaring dan beberapa tenaga medis mulai mengelilinginya. Kenapa Marinka bisa ada dua, dan kenapa tak seorangpun mendengar ucapannya. Kenaap hanya Marinka yang mendengar? Marinka tiba-tiba menoleh. “Bujana, cepatlah kembali. Aku menunggumu.” Tahu-tahu Marinka lenyap. Menyisakan Marinka lain yang terbaring di atas tempat tidur, dan para dokter tampak sedang melakukan tindakan medis padanya.  “Hei, kalian … tolonglah Marinka!” teriak Bujana. Dilihatnya, ibu Marinka membekap mulutnya, tak percaya dengan apa yang terjadi di dalam ruagnan kaca. Tubuh anaknya terhentak beberapa kali, karena jantungnya dikejut. Dipaksa untuk berdetak. Sementara Maloko berusaha menenangkannya dengan merebahkan kepala Adaire di bahunya, dan mengelus-elus lengannya. “Ya, Tuhan, selamatkan anakku,” desis Adaire di sela-sela isak tangisnya. Bujana tak bisa melakukan apa-apa. Dia tahu, apa yang dilakukan tim dokter pada istrinya. Mereka berusaha menyelamatkan nyawa Marinka. “Hei!” Bujana menoleh. Tidak jauh darinya, ada seorang lelaki dengan baju pasien juga. Bujana tak habis pikir, bagaimana lelaki berwajah Timur Tengah itu bisa mengenalinya, sedangkan semua orang tak peduli padanya. “Hei, kamu, orang Asia. Sini!” Bujana mendekat, dan mendapati lelaki itu jauh lebih jangkung darinya. Kepalanya lurus dengan bahu lelaki dengan lengan berbulu kasar. “Itu istrimu?” tanya lelaki itu sembari mengarahkan dagu ke arah Marinka yang sedang dikerubungi dokter. “Iy-iya,” sahut Bujana. “Bagaimana kau bisa tahu?” “Kalian masuk berdua di sini. Dan memakai cincin yang sama. Orang Asia yang sama. Siapa lagi kalau bukan pengantin baru yang akan bulan madu di Babilonia?” Bujana berusaha untuk tidak percaya begitu saja pada orang asing. “Istrimu sampai lebih dulu, dan dia bercerita banyak hal padaku,” lanjut lelaki itu lagi. “Dia menitip pesan untukmu, untuk segera kembali.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN