Adaire mencolek bahu petugas medis yang berusaha menuntun anaknya. Petugas itu menoleh dan Adaire memberi kode bahwa dia yang akan menuntun Marinka. Petugas medis itu mengangguk, memahami maksudnya. Dia mengenal Adaire. Sebagai artis juga sebagai keluarga pasien dari kelas VVIP. “Dia perlu bertemu suaminya. Biar aku antar.” “Lukanya perlu diobati, Nyonya,” ucap petugas medis itu, sembari menunjuk dahi Marinka yang melelehkan darah hingga ke pelipisnya. “Kalau begitu, bantu aku membawa dia segera ke suaminya, dan obati dia di sana.” Petugas medis mengangguk. Dia lalu mengambil kursi roda dari ruang gawat darurat dan mendudukkan Marinka di sana. Marinka semula menolak, tapi luka di kepalanya membuat dia berubah pikiran. Saat sudah duduk di kursi roda, darah dari keningnya menetes ke pang

