Bujana hanya melongo menatap Marinka mengelus-eluskan telapak tangan miliknya di pipi lembutnya. Wanita itu eh gadis itu, merindukannya! “Ahmed, aku tidak bermimpi kan?” ucap Bujana perlahan pada Ahmed yang berdiri di sebelahnya. Dia takut, bila bersuara keras akan membuat Marinka menghentikan kegiatannya. Meski semua itu tidak membekas rasa pada rohnya, tapi apa yang dilakukan istrinya itu membuatnya begitu tersanjung. Bahkan seorang lelaki bisa tersanjung. Ahmed melihat roh Bujana perlahan melayang, saking bahagianya dia. “Kau terlalu berlebihan,” ucap Ahmed. “Di rumah sakit ini, sudah puluhan perawat mengelusmu, setiap hari. Apa bedanya?” Bujana melirik sinis. “Bilang saja kau iri. Karena kau hanya bisa mengelus manusia sampai tembus ke bagian dalamnya.” Ahmed terkekeh. Meski semua

