Melabrak Alaska

678 Kata
Dengan nafas memburu, Mia melangkah kedalam apartemen itu. Bahkan kemarahan nya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi, Ini sudah keterlaluan menurut Mia! Semua menunduk hormat, Mia mengacuhkan mereka. Apartemen ini adalah warisan dari nenek moyang nya dulu, jadi tidak salah semua menunduk hormat kepada Mia. Kemarahan nya bertambah saat melihat pintu apartemen itu, disana ada wanita dengan tubuh yang lumayan telanjang tengah berbaring di ranjang. Sedangkan Alaska? Lelaki itu duduk disamping w***********g itu! Brakkk "Ga tau diri lo ya, maksud Lo apa si? Ga punya otak banget setan. Lo pikir kelakuan Lo bagus? Lo ga pernah mikir perasaan orang lain, jangan kan perasaan orang lain keluarga lo aja... Anjr b*****t banget kelakuan Lo!" Ucap Mia menggebu-gebu, bahkan mengunci pintu saja Alaska sampai lupa. "Dan lo? Berapa sih dibayar sama dia? Anjr muka pas-pas an, kelakuan minus.. jadi ini penerus keluarga Aditama? Astagaaaaa kalau aja mama Naumi tau, ga tau lagi gue." Alaska masi diam, ia memandang Mia dengan raut wajah datar. Sedangkan wanita itu diam takut menyahuti Mia. Ia menarik selimut lalu berjalan memunguti pakaian nya, wanita itu pergi ke toilet untuk memakai pakaian. "ga ush urusin hidup gue kalau hidup lu aja abu-abu!" Jawab Alaska. Lelaki itu memaki kaos hitam dan celana joger, jadi yang telanjang hanya w***********g tadi. Alaska tidak. "Dan lo pikir gue mau ngurusin hidup Lo? Engga! Gue kesini cuma kasihan sama anak lo Rafa, dia bela-belain bawa anak gue kesini.. jalan kaki, dan gue simpulin anak Lo tau kelakuan b*****t Daddy nya ini. Lo ga ngerti perasaan Raka! Lo misahin anak dari ibunya, setelah itu lo lepas tangan.. Lo pernah mikir gimana rasanya dipisahin sama ibu disaat masih umur segitu? Lo jangan egois, anak itu masih kecil. Kalau lo emang niat misahin ibu sama anak itu seharusnya Lo ada waktu buat Raka, jangan mentingin s*x sama nafsu Lo doang." Mia menghela nafas, ia berdecih melihat Alaska yang diam. "gue putusin untuk ngembaliin Rafa sama mommy nya, disini bukan cuma Lika yang sakit. Gue juga sakit sebagai ibu, lo cuma orang terbrengsek yang pernah gue temuin. Kalau malam ini Lo ga dateng ke mansion, jangan harap gue bakal bertahan di mansion lucnut itu. Lo tau? Gue mending keluar dari keluarga Aditama dibanding hidup dengan keluarga yang selalu mementingkan ego nya. Dan lo? Gue harap lo liat anak lo, dia nangis setiap malam. Dia ga pernah mau nangis dihadapan banyak orang. Dia ga pernah ngelu, ngadu ga pernah. Bahkan setiap hari Raka itu kayak patung. Berbicara seadanya, dan pergi begitu saja." Ucap Mia, wanita itu menghapus air matanya. Ia sangat menyayangi Rafa, tapi melihat anak itu menangis setiap malam.. ia jadi tak tega, ia merasakan sakit hati jika Raka seperti itu. "Gue ga pernah ada niat buat misahin mereka," jawab Alaska, lelaki itu melangkah ke dalam balkon kamar. "Mommy yang nyuruh gue untuk ambil Raka dari Lika, Rafa cerdas, anak itu bahkan selalu bersifat dewasa. Jujur gue ngerasa bersalah, rasa bersalah itu ngebuat gue kayak gini.. gue malu, gue malu sama Rafa. Gue ga pantes buat dipanggil Daddy sama dia. Gue udah coba bujuk mommy untuk ngembaliin Rafa, tapi mommy selalu ngancem gue untuk bawa Rafa keluar negri. Dan gue ga bisa.. selama ini gue selalu mantau Lika, Lika gadis yang kuat. Setelah saham-saham dicabut sama mommy Lika kerja di cafe, gue juga ga tau sebenernya mommy itu punya dendam apa sama Lika." Alaska membalikan badan nya, ia tersenyum tipis. "Gue ga pernah b********h selain sama Lika. w***********g tadi cuma pemanasan doang," jawab laka, lelaki itu terkekeh. "Ga minat gue sama bekasan." Jawab laka lagi, oh my good ingin sekali Mia hajar muka tengil itu. "Bacod lu, sekarang seterah lu. Kalau sampai lu ga balik ke mansion, gue bawa anak Lo pergi jauh-jauh dari kalian. Seenggaknya Lo minta maaf, kasihan gue sama Rafa." Ucap Mia, matanya menatap sinis w***********g itu. Sedangkan sang empu hanya menunduk, ia melangkah keluar dari apartemen laka. "Ck, siapa sih Lika! Cuma gara-gara wanita itu gue ga bisa tidur bareng sama Alaska!" Gumam sosok wanita itu sebelum pergi dari apartemen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN