BAB3

1121 Kata
Suara dentuman musik yang memekikan telinga di tambah gemerlapnya lampu kerlap-kerlip, membuat manusia di dalamnya hanyut terbawa suasana, kebanyakan dari mereka hanya ingin bersenang-senang untuk melepaskan permasalahan yang tengah mereka hadapi. Tetapi berbeda untuk Je dan kedua temannya, mereka memang terkenal sombong dan suka membully, tetapi club malam bukanlah kebiasaan mereka. Tidak dipungkiri, memang mereka pernah datang untuk berpesta di Sebuah club, itupun karena ajakan seorang teman yang tengah mengadakan acara ulang tahun. Namun kali ini, mereka bertiga datang karena ajakan konyol dari Queen. Bukan, mereka datang bukan untuk bersenang-senang tentunya, melainkan Queen yang seorang playgirl entah mendapatkan informasi dari mana, bahwa pacarnya akan datang ke club ini bersama seorang perempuan. Dengan mata yang sudah mengantuk, Je hanya menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil memejamkan matanya, tubuhnya sudah benar-benar lelah hari ini, namun karena paksaan dari seorang Queen mau tak mau ia mengikuti saja. Tak jauh berbeda dengan Bebi, gadis itu pun memejamkan matanya sambil bersandar pada tubuh Je. “Queen, lo yakin, cowok lo bakalan datang?” ujar Bebi menahan kantuknya, Queen mengangguk mantap. “Lagian gue heran, tumben banget lo ngurusin kelakuan pacar lo kali ini, biasanya mau di duain tigain lo bodo amat,” tutur Bebi dengan mata terpejam. “Kali ini beda. Demi menjalankan misi mendapatkan Alian, gue harus elegan dalam putusin tuh cowok,” ucap Queen dengan semangatnya. Je yang merasa ingin membuang air kecil, dengan santainya langsung berdiri membuat Bebi yang bersandar pada bahunya langsung terhempas keatas sofa yang tadi sempat Je duduki. “Je, kebangetan banget sih,” keluhnya memposisikan dirinya untuk duduk kembali. Je tidak menghiraukan ucapan Bebi, dirinya meninggalkan ruangan bising itu untuk mencari kamar mandi. Dirinya beberapa kali menghela nafas bagaimana tidak dirinya harus melihat banyak pasangan yang membuatnya sangat jijik. “Cih.. dasar nggak modal, berbuat m***m di tempat terbuka seperti ini,” desisnya melihat pasangan di depannya. Tidak ingin ambil pusing, Je berbelok kearah tujuannya semula. Setelah selesai, saat dirinya keluar ia dihadapkan dengan lelaki yang tidak ia kenal. “Bisa minggir? Gue mau lewat, lo menghalangi jalan gue,” ketus Je tidak suka dengan pemuda itu. “Cantik dan galak. Gue suka yang beginian, mau cari kamar?” ujarnya dengan senyuman yang menurut Je kurang ajar. “Jangan kurang ajar!” sambil mendorong tubuh lelaki itu. Saat melewati lelaki itu, tangan Je ditarik paksa membuat tubuh Je tidak seimbang. Dengan santainya lelaki itu mendorong tubuhnya kearah dinding lalu menghimpitnya. “Lo, butuh duit berapa? Gue kasih ke lo berapa pun. Jadi lo nggak perlu sok jual mahal, gue nggak suka cewek sok jual mahal,” Bau rokok dan alkohol tercium dari mulut lelaki ini, membuat Je yakin lelaki ini sedang mabuk. Ini yang Je tidak suka saat ketempat seperti ini, banyak lelaki mabuk yang kurang ajar. “Gue nggak butuh duit lo! Lo bisa cari cewek lain yang mau terima duit lo itu, bukan gue!” ucap Je dengan tatapan tajamnya, dirinya berusaha tetap tenang dan mencoba mengintimidasi lelaki ini dengan tatapannya. Namun, bukannya takut lelaki ini malah tersenyum yang membuat Je ingin muntah. Mencoba menepis tangan lelaki itu yang mencoba menyentuh wajahnya. “b******k!! Jangan coba-coba menyentuh gue dengan tangan kotor lo!” murka Je mendorong lelaki itu yang tentu saja saat ini begitu kuat untuk dirinya. “Lo, semakin marah kenapa semakin cantik sih?” Lelaki itu semakin berusaha menyentuh dirinya. Ketakutan semakin menguasai diri Je, membuat ia berteriak meminta tolong. “Tolong.. siapapun tolong gue!!” Naasnya, siapa yang akan menolong dirinya saat ia tahu bahwa disini tidak mungkin akan ada yang mendengarkan dirinya. Dirinya terus berontak, mencoba melindungi dirinya yang ingin dilecehkan oleh lelaki mabuk ini. Dirinya terus berteriak, berharap siapapun akan menolongnya atau bahkan teman-temannya yang menyadari dirinya yang terlalu lama pergi akan mencarinya. Namun, harapan tetaplah harapan dirinya sudah pasrah ketika usahanya sia-sia. Tenaganya sudah habis terkurang mencoba melindungi dirinya dari lelaki ini. “To..lo..ng...” dengan sisa tenang yang ia punya dirinya masih berharap ada seseorang yang menolongnya. Dirinya pasrah, saat lelaki itu ingin menciumnya, dirinya hanya memejamkan matanya dengan harapan yang sudah musnah bahwa akan ada yang menolongnya. Namun, untuk kesekian detiknya tidak ada yang terjadi pada dirinya. Merasa aneh dirinya membuka mata, pandangan pertama yang ia lihat hanya tangan yang bersedekap. Merasa aneh, ia ingat lelaki mabuk itu menggunakan baju merah bunga-bunga yang menurutnya norak, tetapi mengapa sekarang lelaki itu bisa dengan cepat berganti warna menjadi navy? “Selain suka membully orang, ternyata kebiasaan lo yang lain pergi dan bersenang-senang ketempat seperti ini, gak heran sih,” Mendengar suara yang berbeda, Je mendongakkan kepalanya melihat lelaki itu yang sedang mengangguk-anggukan kepalanya menatap remeh dirinya “Lo!” tunjuknya kearah wajah lelaki itu. “Tapi, kenapa lo harus berteriak meminta tolong? Dari yang gua lihat, lo seperti menikmati banget. Lagian orang yang suka ketempat seperti ini harusnya nggak masalah dong kalo terjadi seperti ini,” Ucapnya menatap Je dari bawah hingga keatas. Je ingat, lelaki yang kemarin menabrak dirinya, yang menjadi bahan pertaruhan antara Bebi dan Queen. Seorang Alian. Menghembuskan nafas, tidak ingin terpancing ucapan cowok didepannya ini, Je mengangkat wajahnya menatap wajah Alian, lalu tersenyum menggoda. Mengalungkan kedua tangannya pada leher lelaki itu, sengaja menggodanya. “Minta tolong ya? Gue sengaja, karena gue tahu lo bakalan datang lalu menyelamatkan gua,” ucap Je mengelus rahang Alian. “Lagian, tuh cowok kurang hot, mending gue sama lo,” ucap Je sangat dekat dengan wajah Alian, saat Alian ingin mencium dirinya, Je langsung mendorong tubuh lelaki itu hingga memberikan mereka jarak kembali. “Tapi sekarang gue berubah pikiran, lo terlalu mudah,” setelah mengatakan Je melangkah meninggalkan Alian yang nenatap tajam pada dirinya. Je menghentikkan langkahnya sebelum berbelok, “By the way, thanks untuk pertolongannya.” Alian yang melihat Je menghilang dari pandangannya hanya tersenyum simpul, dengan segala rencana dikepalanya. *** Je yang mencari keberadaan kedua temannya, mengernyitkan dahi saat mereka tidak lagi berada di tempat sebelumnya. Kepanikan menyerangnya, jika di tempat yang tidak berisik saja hanya ada satu yang menolognya, lalu bagaimana jika lelaki mabuk yang tadi datang lagi di tempat yang sangat berisik dan orang-orang yang tidak perduli keadaan sekitar seperti ini. Memikirkannya saja sudah membuat Je merinding. Terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya, dengan spontan Je mendorong orang itu. “Lo kenapa, Je?” Ujar Bebi kaget saat dirinya di dorong begitu kuat oleh Je. “Sorry.. gue pikir cowok yang nggak dikenal, lagian lo main asal peluk-peluk gue aja,” gerutu Je pada Bebi. “Udahlah, yok balik. Ngantuk gue besok kita ada jam siang,” ucap Queen. “Memangnya lo udah putusin pacar lo?” Queen menganggukkan kepalanya. “Lo sih nggak lihat betapa dramatisnya teman lo itu, seolah-olah tersakiti banget,” Jelas Bebi dengan gelinya. Je hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum membayangkan perkataan Bebi barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN