Rose menemui putra sulung dari Alexander karena menerima jamuan dari pria itu. Dia hanya berdua duduk saling berhadapan, pelayan berdiri dan menyajikan teh untuk mereka. Rose hanya diam, karena saat ini juga belum ada yang membuka percakapan satu sama lain. Baeho yang paham, dia mengambil segelas teh dihadapannya dan memajukan diudara memberi kode dengan Rose untuk bersulang.
Rose dengan anggunnya mengambil teh yang telah terisi oleh air, dan menyatukan dengan gelas milik pria itu dan bersulang sebelum meminumnya. Sebelum meneguk minuman yang dijamukan oleh pelayan Baeho, Rose terlebih dahulu mencium aroma teh tesebut. Dia harus waspada dengan jamuan tiba – tiba dari pria itu.
Baeho terkikih melihat Rose yang begitu cerdasnya, dia menurunkan gelasnya dan tertawa, “Aku tidak meletakan sesuatu diminumanmu Nona Rose, kau bisa lihat teh yang disuguhkan pelayanku satu tempat dengan yang berada digelasku.”
Rose meneguknya, lalu menurunkan cadarnya kembali. Dia meletakan gelasnya dimeja, dan menatap ke arah Baeho, “Jika ada sebuah lubang, tidak salah jika kita untuk melompatinya. Meski kita tau, bahwa lubang itu tak terlalu dalam. Bukan begitu Tuan Baeho?”
“Tentu Nona Rose, sama dengan seekor serigala. Dia bisa menerkam dengan satu bidikannya saja. Terkadang, kita harus lebih jeli mengenai sasaran agar mencapai suatu pencapaian yang kita harapkan.”
“Tentu, terkadang manusia bisa memanipulasi segalanya untuk mencapai target kepuasannya.”
“Termaksud kau Nona Rosa?”
“Bukan hanya aku saja Tuan Baeho, tetapi semua orang. Jika dia bisa mengamati dan memperhitungkan semuanya secara satu persatu dan tidak gegabah. Dia bisa mendapatkan pencapaiannya, bukan satu, tapi semuanya,” kata Rose dengan mata yang tajam.
“Baru kali ini aku menemui wanita cerdas di desa Landem sekecil ini. Aku begitu terperangah melihat apa yang kau lakukan, dan aku semakin penasaran. Dengan membuktikan sendiri, tadi, dengan bertanding denganmu membuatku tau sesuatu yang unik.”
“Hahaha, kau terlalu bertele – tele saja Tuan Baeho. Dan aku rasa ini sudah cukup malam untuk sebuah jamuan teh hangatnya. Aku pamit undur diri jika begitu.”
Rose berdiri dan memberikan hormat kepada pria itu, lalu dia akan berbalik menuju dalam, tetapi tangannya dicekal oleh seseorang. Rose menajamkan matanya melihat tangannya yang dicekal oleh seseorang, dia adalah tangan milik Baeho yang mencekalnya.
Dia menatap tak suka ke arah Baeho, tapi pria itu malah menampilkan seringainya dan mengatakan, “Siapa kamu sebenarnya?”
Rose mengangkat sebelah alisnya, dan menaikan sebelah senyumannya keatas dibalik cadarnya. Dia menarik tangannya dari cekalan pria itu dan menatap tajam ke arah Baeho, “Seharusnya anda lebih tau siapa saya Tuan Baeho, saya rasa, saya akan akan pamit undur diri sekarang. Selamat malam.”
Rose dengan anggunnya pergi menjauh dari Baeho, dia tersenyum melihat kebodohan pria itu. “Aku tak menyangka, pria itu bertanya siapa aku? Aku adalah malaikat maut untuk keluarganya sendiri haha,” gumam Rose.
****
Pagi harinya, Rose memutuskan untuk berjalan – jalan disekitar kediaman milik Alexander ini. Dia menemukan hal menarik, yaitu gudang gandum dari keluarga Alexander. Dia pergi untuk melihatnya, ternyata disana ada Philip yang sedang memerintah para pegawainya. Rose, wanita itu memilih diam tanpa menyapa sekedar omong kosong.
Philip, tanpa sengaja melihat keberadaan Rose. Dia lalu menyudahi pembicaraan dengan para pegawainya, “Hasil penjualan gandum kamu kirim saja keruanganku, ada hal yang harus aku urus saat ini.”
“Siap Tuan.”
Philip pergi mendekati Rose, dia berdiri sejejar dengan wanita itu dan berdeham, “Ehem.”
Rose tau, tapi wanita itu pura – pura tak mempedulikannya, dia malah pergi menuju taman dan duduk dikursi kayu pinggir taman. Sementara Philip tercengang dengan kepergian wanita itu, lalu berdecih, “Dia sulit ditebak, beberapa waktu dia terlalu agresif seperti wanita bordir, sekarang dia berubah menjadi jual mahal. Aku rasa, otaknya penuh dengan tekanan judi ck ck.”
Pluk!
Sesuatu mengenai dahi Philip membuat pria itu mengeram dan memegang dahinya yang dia rasa memar. Dia mencari tau siapa yang berani melemparinya dengan batu. Diujung sana, Rose sudah berdiri dengan bersedekap dan menatap tajam Philip. Philip tau, ini pasti ulah wanita itu.
Dia lalu dengan langkah yang lebar, dia menuju ke arah Rose dan meneriakinnya dengan kesal, “Ini pasti ulahmu bukan? Kau sengaja menimpuk dahiku dengan batu itu?”
Rose memutar bola matanya, “Jika itu ulahku lalu ada masalah apa denganmu Tuan James Philip Alexander?”
“Tentu saja ada! Kau menimpuk dahiku, lihatlah pasti ini akan memar, bahkan sudah memar aku rasa. Argh, menyebalkan sekali.”
“Aku beri satu nasihat untukmu Tuan Philip.”
“Nasihat? Kau sudah menimpukku, lalu mencoba memberikan nasihat untukku? Wow, luar biasa sekali Bloody Rose ini. Sungguh diluar nalar seorang manusia,” kata Philip dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku memang tidak bisa dipikirkan dengan nalar yang biasa saja, karena aku ini berbeda hehe. Dan aku berikan satu nasihat untukmu Tuan Philip, jika kau tidak bisa menyukai seorang wanita maka jangan berperilaku seperti wanita. Orang akan mengetahui jika kau penyuka sejenis nantinya hehe.”
“Apa maksudmu? Kau mengejekku?”
Rose menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan kekiri, dia tertawa dari balik cadarnya, lalu dia mendekat. Dia menatap manik Philip dengan lekat, lalu berkata, “Mulutmu, jangan jadikan mulutmu seperti seorang wanita yang suka bergosip. Tidak ada bedanya sekali pria sepertimu dengan wanita bordir ck ck.”
“Hya! Maksudmu apa??”
“Kau membicarakanku dibelakang, dan aku mendengarnya. Untung saja aku hanya melemparmu dengan batu yang ada didekatku, jika aku membawa pisau, aku bisa lepas kendali haha. Kau selamat.”
“Aku memiliki mulutku sendiri, dan aku bebas bergosip dengan membicarakan siapapun! Kau sungguh sangat tidak asik!”
“Aku juga bebas melempar siapapun sesukaku, see, kau yang tidak mengasikan disini Tuan Philip.”
“Sudahlah, bicara denganmu membuat darahku menjadi mendidih.”
Philip pergi meninggalkan Rose dengan perasaan yang kesal. Dia sangat kesal harus berbicara keras dengan wanita seperti Rose.
“Dia itu wanita yang gila. Baru ketemukan wanita yang seperti ini, aku bisa gila jika benar – benar menikah dengan monster sepertinya,” gerutu Philip.
Pluk!
“Arghh!!!”
Sesuatu menimpuk kepala bagian belakangnya, membuat Philip kesal dan berbalik menghadap belakang. Dia mengepalkan tangannya, “Hya!! Dasar nenek sihir, sudah kukatakan jangan melempariku dengan batu!!”
“Sudah aku katakan aku melempar siapapun yang aku mau, lalu salahnya dimana?” kata Rose dengan mengejek.
“Kauuu..” geram Philip.
Rose bersedekap dan lalu menirukan gaya Philip saat marah, “Kauu..”
“Jangan mengikutiku nenek sihir!”
“Jangan mengikutiku nenek sihir..” kata Rose dengan mengikuti gaya marah pria itu.
“Dasar menjengkelkan! Jangan mengikuti gaya bicaraku!!” teriak Philip kesal.
Dipinggir pendopo, Alexander tersenyum menatap kedua insan yang saling berdebat. Dia menoleh ke samping ke arah seorang pemuda tampan gagah disebelah kirinya, “Mungkin wanita itu bisa merubah adikmu Baeho, aku yakin dia bisa membuat Philip jatuh cinta dan menyukai seorang wanita kembali.”
Baeho menatap Rose dengan tatapan penuh arti dan tersenyum menyeringai, “Tentu saja Ayah..”