Rose berjalan dengan angkuh mengitari kediaman Alexander. Pikirannya berkelana mengenai siapa itu Rugar. Kakinya sampai melangkah dikediaman penyihir bernama Sweden. Dia lalu mengetuk pintu kayu tersebut menunggu seseorang akan membukakan pintu untuknya. Rose berhenti menatap seorang pria yang membukakan pintu baru saja untuknya. “Tuan Sweden? Boleh kita berbicara sebentar?” Sweden mengetahui keberadaan Rose lalu menundukan tubuhnya membentuk sembilan puluh derajat sebagai tanda hormat. “Tentu saja, mari silahkan masuk kedalam Nona Rose.” Rose dipersilahkan masuk ke dalam dan duduk disebuah kursi kayu panjang. Dia menatap pria itu yang menuangkan minuman ke dalam cangkir. “Silahkan.” Rose mengangguk dan mengambil cangkir tersebut, kemudian menghembus terlebih dahulu sebelum menegukny

