Bab 3

2066 Kata
Sudah ada Pras di ruangan mereka ketika Zeline tiba, padahal ini masih bisa dikategorikan pagi karena masih pukul tujuh lewat sekian. Namun, Pras sudah berada di kantor saja. Apa jangan-jangan pria itu tidur di kantor tadi malam? Apakah Pras lembur, atau ada pekerjaan lain yang mengharuskannya menginap? Lalu, kenapa dia tidak tahu, kenapa Pras tidak memberi tahunya? Bukankah mereka satu tim? Zeline mengerucutkan bibir kesal. Dia merasa tidak dianggap di dalam tim. Beginilah nasib anak baru. Zeline melangkahkan kaki dengan kepala tertunduk, memasuki kantor. "Zeline, selamat pagi!" sapa Pras bersemangat. "Tumben kamu pagi-pagi gini udah nyampe." Zeline memutar bola mata jengah. Apa maksud Pras bertanya seperti itu? Apakah pria itu mengejeknya karena dia terlambat kemarin? Ah, sialan! Dengan kesal Zeline mendudukkan bokongnya di kursinya, meletakkan tas di atas meja sebelum merapikan mejanya yang sedikit berantakan. Ada beberapa serpihan kertas di atas mejanya, sepertinya udara yang kuat dari penyejuk ruangan menerbangkan kertas-kertas kecil ini. Meskipun rasanya tak mungkin, dia hanya mencoba untuk berpikir positif. "Aku nggak mau telat kayak kemaren, Pak!" sahut Zeline dengan sedikit keras setelah mengembuskan napas melalui mulutnya. "Kapok!" Dia meletakkan kepala di atas meja, di atas kedua tangannya yang dilipat sebagai bantalan. Tak ada tawa atau tanggapan apa pun dari Pras, Zeline juga tidak mengharapkannya. Rasanya tak mungkin mendengar tawa dari Pras si wajah datar tanpa ekspresi. Seandainya saja ada Buana di sini, mungkin keadaan yang tiba-tiba kaku ini bisa sedikit mencair. Dia tak suka hanya berduaan saja dengan Pras, bukan karena ada apa-apa, Pras sudah menikah, dan dia tidak tertarik pada pria yang sudah memiliki istri. Hanya saja Pras tidak bisa diajak bercanda. Tak terbayang bagaimana istrinya, mungkin saja wanita itu sangat bosan karena ekspresi suaminya yang selalu memasang wajah datar dan serius. "Maka dari itu kamu harus datang lebih awal!" Zeline nyaris tersedak air liurnya sendiri mendengar kata-kata penuh semangat itu. Datang lebih awal katanya, lalu ini apa? Hari kedua, dia sudah datang lebih awal. Terlalu awal malah sampai-sampai bertemu mahluk halus penunggu ruangan mereka yang bernama Prasetyo Riyadi. Seperti di setiap kantor dan instansi, jam kerja dimulai jam delapan pagi, dan itu berarti lima menit lagi. Mereka akan apel, setelah itu baru mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menumpuk. Kemungkian besar dia akan keluar ruangan karena memang itu keahliannya. Lima menit terasa seperti lima abad bagi Zeline yang tidak menyukai kesunyian. Buana malah tiba bertepatan dengan bel tanda apel dimulai berbunyi. Tidak ada yang salah, pria itu tidak terlambat. Hanya saja, membuat Zeline ingin mencekiknya. Kemarin sore mereka pulang berbarengan dan sudah berjanji akan datang awal hari ini, di tempat parkir sebelum mereka berpisah. Kenyataannya, Buana malah nyaris terlambat pagi ini. "Enak banget, ya, Bu, datangnya pas barengan bel," sindir Zeline setelah upacara selesai. Mereka berada di ruangan mereka, tanpa Prasetyo yang masih mengobrol dengan atasan mereka. Entah apa yang dibicarakan kedua pria itu, dia tak berniat untuk mencari tahu. Tak berminat untuk ikut campur urusan Pras. Sudah cukup tadi pagi dia bersama Pras, menunggu bel tanda apel dimulai. Lima belas menit yang sangat menyiksa. "Bu?" Buana menatap Zeline dengan sepasang alis berkerut. "Siapa maksud kamu Ibu?" tanyanya sambil duduk di belakang mejanya. Ia mengembuskan napas melalui mulut, lega karena sudah bisa beristirahat Meskipun hanya beberapa saat karena berkas yang menumpuk di atas meja sudah meminta untuk segera diperiksa. "Kamu lagi ngomong sama siapa, Ze?" tanyanya bingung. Tak ada perempuan lain bersama mereka, hanya ada dirinya dan Zeline di ruangan ini. Zeline adalah satu-satunya perempuan di sini. Lalu, pada siapa Zeline berbicara tadi? Tak mungkin dia berbicara sendiri, 'kan? Apa jangan-jangan di ruangan ini ada penunggunya? Buana bergidik tanpa sadar "Ya, sama lo lah, Buana!" ketus Zeline. Dia sudah duduk di kursinya, bersamaan dengan Buana tadi. "Bu Ana." Zeline mengulangi kata-kata itu beberapa kali dengan lirih, lantas mengikik geli. Dia baru menyadari, nama Buana bila dipisah menjadi nama perempuan. Sementara Buana kembali bergidik menatapnya. Ia menganggap jika rekan barunya yang cantik itu kesurupan. Berarti ruangan mereka memang benar ada penunggunya. Astaga, menakutkan sekali! "Lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Zeline dengan alis berkerut. Buana yang tengah bergidik tertangkap oleh indra penglihatannya. "Jijik lo, ya, sama gue?" "Nggak!" Buana menggeleng cepat. Ia tidak ingin mencari masalah dengan Zeline yang pagi ini terlihat seperti macam betina. Mungkin Zeline sedang pms, ia memakluminya. Ia mencoba berpikir positif, bahwa Zeline tidak mungkin seperti dugaannya. Meskipun perempuan yang berpangkat lebih tinggi darinya itu berbicara tidak seperti kemarin yang tampak sopan, sekarang lebih sangar dan terkesan bar-bar. "Aku nggak kayak gitu. Aku cuman lagi mikir kalo kamu kesurupan." "Hah???" Mata Zeline melebar sempurna. Astaga, apa-apaan itu? Apa yang ada dalam pikiran Buana sehingga mengira dia kesurupan? Dasar anak aneh! Zeline menggeram gemas, tangan kanannya yang memegang bolpen mengentak kuat di meja. Buana berjengit. Ia nyaris melompat saking kagetnya. "Maaf," cicitnya menundukkan kepala. Ternyata Zeline cantik-cantik galak juga. "Kami datang lebih pagi, jadi wajar kalo aku mikir kayak gitu, Ze. Terus kamu juga marah-marah nggak jelas lagi." Zeline mendengkus kasar mendengar pengakuan Buana. "Jadi, lo pikir ruangan ini ada penunggunya, gitu?" tanyanya dengan mata menyipit. Buana mengangguk cepat. "Dengar, ya, Buana!" Zeline memijit pelipisnya "Di ruangan ini nggak ada apa-apanya. Satu-satunya penunggunya itu cowok bernama Prasetyo Riyadi." "Pak Pras?" tanya Buana penasaran. Matanya mengerjap polos. Ia percaya saja apa yang dikatakan Zeline. "Iya!" Zeline mengangguk. "Tadi pagi pas aku datang, tu es batu udah nongol aja, duduk di kursinya terus bilang aku tumben datang awal. Dia nggak sadar kali, ya, kalo aku baru dua hari di sini." Buana memutar bola mata. Ia merasa dibodohi Zeline karena sudah percaya dengan apa yang dikatakan perempuan itu. Astaga, apa yang dipikirkannya? Kenapa ia masih saja percaya pada hal-hal konyol seperti itu? Sangat memalukan. Zeline tersenyum geli melihat wajah Buana yang memerah. Dia berhasil mengerjai pemuda itu. "Sekarang kita kerja!" Zeline menepuk pipinya, mulai memeriksa map berwarna kuning yang dibawanya dari rumah. Berkas kasus penculikan yang kembali dibuka dan diserahkan kepada tim mereka. Buana juga melakukan hal yang sama. Ia membuka map berwarna cokelat gelap yang kemarin sore dibawanya pulang untuk dipelajari. Dari sana ia mengetahui kenapa penyelidikan terhadap kasus itu dihentikan. Bukti yang mereka dapat terlalu minim, bahkan nyaris tidak ada yang bisa digunakan sebagai petunjuk. Semua jadi terlihat abu-abu. Diperlukan warna lain untuk membuatnya terlihat terang, dan warna itu sedang berada di depannya, berjarak beberapa meter dari mejanya. Warna lain yang bernama Zeline Zakeisha. "Bagus, kalian udah siap!" Zeline dan Buana mengangkat wajah mereka bersamaan, menatap ke arah sumber suara. Pras sedang memasuki ruangan mereka. Senyum aneh menghiasi bibirnya. Zeline menatap Buana dengan tatapan bertanya. Tak biasanya Pras memamerkan senyumannya, seolah pria itu baru saja mendapatkan jackpot. Sepertinya suasana hatinya sedang bagus setelah berbicara dengan Pak Hartono tadi. "Siap buat apa, Pak?" tanya Buana dengan sepasang alis berkerut. Ia benar-benar tidak paham dengan perkataan Pras yang terdengar ambigu. Pras tidak segera menjawab, ia duduk di kursinya terlebih dahulu, menyesap air putih yang sudah disediakan oleh office boy, kemudian baru menjawab pertanyaan Buana. Diawali dengan tatapan tajamnya yang mampu membuat pria muda itu menelan ludah susah payah. "Kalian sudah siap untuk bekerja tanpa menunggu perintah dari saya!" jawabnya. Zeline meringis mendengarnya. Gaya bahasa Pras dinilainya terlalu kaku dan formal. Sebenarnya dia ingin tertawa, tapi ditahannya mati-matian. "Hari ini kita harus mulai menyelidiki kasus yang diberikan pada kita kemaren. Apa kalian sudah mempelajarinya?" Buana mengangguk beberapa kali. Gerakannya cepat, saking cepatnya ia sampai merasakan sedikit nyeri di tengkuknya. "Ke mana kita akan pergi untuk menyelidiki, Pak?" tanyanya penuh semangat empat lima. "Kalian sudah mempelajari berkas yang aku kasih kemaren, 'kan?" Bukannya menjawab, Pras justru balas bertanya. Tak hanya pada Buana, pertanyaannya juga ditujukan pada Zeline. "Kalo udah, pasti kalian tau penyelidikan bakalan dimulai dari mana." Zeline memutar bola mata jengah. Seandainya saja Pras bukan petugas senior di sini, pasti sudah dicekiknya sejak tadi pagi. Sungguh, Pras sangat menyebalkan baginya. Dia memang sudah mempelajari berkas-berkas penculikan itu, tapi jujur saja dia masih belum terlalu mengenal ibu kota, masih belum tahu seluk-beluknya. Jika dia pergi sendiri, dapat dipastikan dia akan tersesat. Jika menyimak apa yang dikatakan Pras tadi, sepertinya pria itu meminta mereka untuk berpencar karena lokasi penculikan tak hanya satu. Ada beberapa titik, dan mereka tidak mungkin mendatanginya dalam satu kesempatan. Apalagi jarak dari satu lokasi ke lokasi lainnya berjauhan, akan memakan banyak waktu jika mereka menyelidikinya bergantian. Kecuali mereka diberi waktu tak berbatas sampai berhasil memecahkan kasus ini "Ada tiga lokasi penculikan di ibu kota, Pak. Kita harus memulai dari mana?" Zeline bertanya Dia merasa perlu melakukannya karena tak ada penjelasan lebih lanjut. Baik dari Pras maupun dari keterangan kasus yang tercetak di berkas-berkas yang dibacanya tadi malam. "Ataukah kita perlu berpencar? Jujur, saya tidak menyetujuinya karena saya tidak ingin tersesat. Ini hari kedua saya bertugas di sini jika Bapak lupa." Buana mendengarkan dengan mata mengerjap. Sepanjang Zeline berbicara, matanya terus mengerjap dalam jeda satu detik sekali. Ia tidak menyangka jika Zeline akan berbicara dengan Pras dengan bahasa formal. Ia berpikir Zeline akan menggunakan gue-lu seperti saat mereka mengobrol tadi. Meskipun heran, tapi ia setuju dengan pendapat Zeline karena ia juga orang baru di ibu kota, dan memiliki kemungkian tersesat lebih dari lima puluh persen. Pras ingin menjawab, tapi diurungkannya. Mulutnya yang sudah terbuka, kembali tertutup dengan cepat. Ia tengah memikirkan apa yang dikatakan Zeline. Menang benar jika Zeline dan Buana baru dua hati bertugas di sini, tak mungkin mereka sudah menghapal jalan karena mereka bukan berasal dari sini, keduanya berasal dari luar kota. Namun, bukankah Zeline tinggal di tempat yang jauh dari sini, dan dia menggunakan motor untuk tiba di sini, begitu juga dengan Buana, dan mereka dapat tiba dengan selamat di sini tanpa tersesat. Pras menyipitkan mata menatap kedua rekannya bergantian. "Kita pergi bersama!" Pras tidak tahu apakah ia sudah mengambil keputusan yang tepat atau belum, tapi ia berharap tidak salah mengambil langkah. Meskipun akan memakan waktu lebih lambat, setidaknya mereka mendapatkan bukti-bukti yang mereka butuhkan. Lagipula, tadi Pak Hartono sudah menjelaskan sedikit padanya bahwa atasan mereka memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menyelesaikan kasus ini. "Kita pergi barengan, Pak?" tanya Buana mengulang apa yang dikatakan Pras tadi. Ia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah. Pras mengangguk. "Kita pergi barengan," jawabnya mengulangi perkataan Buana, seperti yang tadi dilakukan pria itu. "Beneran, Pak?" Zeline memberanikan diri bertanya dengan bahasa yang lebih santai. Pras kembali mengangguk. "Aku pikir emang baiknya kita bersama-sama. Meskipun akan memakan waktu lebih lama, tapi itu lebih aman." Ia mengibaskan tangan kacau. "Saya tidak bisa membiarkan kalian tersesat." Tawa kecil terdengar dari mulut Zeline. Kepalanya menggeleng pelan beberapa kali. Gaya bicara campuran Pras terdengar sangat lucu di telinganya. "Oke, Pak!" katanya setelah tawanya reda. "Maaf, nggak bermaksud buat ketawa, saya cuma ...." Dia mengedikkan bahu, kemudian tanpa berbicara apa-apa lagi kembali menekuni berkas-berkas di atas mejanya. *** Diamond Cafe terletak di tempat yang biasa disebut sebagai segitiga emas karena lokasinya yang strategis. Di sebelahnya terdapat beberapa gedung perkantoran pencakar langit. Tak heran jika Diamond Cafe selalu dipadati pengunjung terutama saat jam-jam istirahat seperti sekarang. Tak ada meja yang kosong, semuanya terisi. Sepuluh orang pelayan yang bertugas saat ini sibuk mondar-mandir mengantarkan pesanan ke setiap meja. Keramaian itu berbanding terbalik dengan situasi di dalam ruangan pemilik kafe. Ruangan itu sepi bukan karena tak ada penghuni, melainkan Alby yang memang tidak menyukai keramaian. Kehadirannya setiap hari di kafenya hanya sebagai formalitas saja. Ia berlagak sibuk agar tidak selalu memikirkan nasib Jovanka yang sampai sekarang masih belum diketahui keberadaannya Di dalam ruangannya, Alby menatap foto Sang Tunangan yang berada di dalam pigura berbingkai emas, warna kesukaan Jo. Kegiatan yang menjadi kebiasaannya setahun belakangan, mengobrol dengan foto itu Bertanya bagaimana kabarnya, dan berharap dia baik-baik saja adalah topik perbincangan utama. Alby tidak peduli jika ada yang melihatnya dan mengatakan dirinya gila katena pada kenyataannya itu tidaklah benar. Ia masih dapat menjaga kewarasannya sampai sekarang dengan harapan Jo pasti akan ditemukan. "Aku kangen banget sama kamu, Jo." Alby mengusap wajah dalam pigura itu. "Aku selalu nunggu kamu, aku yakin kamu pasti bisa ditemukan." Dua bulir bening kembali menuruni pipi Alby, ia kembali menangis tanpa disadari. Akhir-akhir ini ia memang lebih cengeng dari biasanya. Ia akan meneteskan air mata setiap kali memikirkan Jo. Sebuah nada pesan masuk ke ponselnya mengalihkan perhatian Alby. Meskipun malas, ia tetap membuka pesan dan membacanya. Matanya melebar, harapannya kembali terbit seperti senyumnya yang mengembang sempurna Pesan itu dari anak buahnya yang memberi tahu jika pihak kepolisian kembali membuka kasus penculikan beruntun yang dulu sudah dibekukan. Harapannya untuk kembali bertemu dengan tunangannya membesar. "Jo, kita pasti akan ketemu lagi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN