Omongan - Omongan Mereka

584 Kata
Hari - hari ku pun berjalan dengan sendirinya. Walau saat aku melangkah keluar rumah untuk membeli sesuatu yang ku inginkan tak luput dari gunjingan - gunjingan orang terhadapku. Dan aku membiarkan saja omongan itu. Namun disaat aku berada di suatu warung ibu - ibu yang sedang berbelanja pun kemudian bertanya kepada ku yang awalnya hanya bertanya mengenai berapa bulan usia kandunganku. Sampai akhirnya mereka pun bertanya mengenai suami ku yang tak kunjung pulang sampai detik ini. Ya disana aku coba menahan rasa sakit atas omongan - omongan mereka yang setiap katanya seperti mengandung racun yang mematikan. Sampai melekat dan terbayang - bayang dalam hati dan pikiran ku ini. Tapi aku coba menahan air mata ini saat mereka melontarkan omongan pedas mereka itu sampai ke rumah. Tetapi ketika aku sampai di dalam kamar ku. Aku akhirnya tak bisa menahan air mataku lagi saat mereka membicarakan mengenai kondisiku saat ini. Walau apa yang mereka bicarakan itu mungkin ada sebagian yang benar tapi rasa sakit dan terbawa hanyut omongan itulah akhirnya aku tak bisa lagi menahan air mataku ini. Seperti tak habis - habisnya kekecewaan yang kurasakan ini. Dimana saat aku melihat orang - orang yang sedang hamil sepertiku selalu di utamakan oleh suami mereka. Namun berbeda denganku aku seperti tak memiliki suami tapi kenyataannya aku adalah seorang istri. Lalu sekarang statusku apa?Apa pantas statusku di panggil istri saat suamiku pun tak ada di sisiku dan tak mengkhawatirkan diriku. Tak pernah ada kabar atau bahkan hanya memberikan ku kejelasan kenapa ia tak kunjung pulang ke rumah. Itu seperti tak ada dalam kehidupanku ini. Selain itu, setidaknya ia bisa datang saat aku memeriksakan kondisi bayinya tiap bulan untuk sekedar menemaninya. Apa sesibuk dan tak pedulinya ia bahkan hanya sedikit saja apa itu tak ada untuk diriku ini yang mengharapkan di perhatikan oleh suamiku sendiri saat hamil seperti ini. Kenapa kenapa aku harus mengalami penderitaan ini. Apa tak ada satu kebahagian untuk ku walau hanya sebentar itu mungkin akan mengobati luka dalam hatiku ini. Setelah aku puas mengeluarkan isi hati yang kurasakan saat ini. Aku kemudian mencoba untuk menegarkan hati ini untuk tak selalu mengharapkan dia. Untuk peduli pada bayiku ini. "Biarkan dia pergi. Suatu saat nanti aku pasti akan mendapatkan kebahagiaan bersama putri ku" kata ku yang menegarkan hati untuk tak mengharapkan belas kasih dari laki - kaki itu untuk ku dan bayi ku. Dan aku selalu berpikir kalau setelah hujan pasti akan datang pelangi. Yang mana ku artikan kalau saat aku hari ini menderita dan selalu mengeluarkan air mata. Namun, aku berharap setelah aku tak ingin menangis lagi akan ada kebahagiaan mengiringinya untukku nanti. Hari demi hari setelah omongan pedas itu aku mulai melupakannya dan tak memikirkan omongan itu lagi. Dan mencoba untuk selalu tegar dalam menghadapi omongan yang akan muncul dari omongan ular berbisa yang selalu ku juluki untuk mereka selama ini. Karena omongan mereka bisa saja membuat orang yang ngga tahan dengan omongan nyeleneh mereka membuat orang itu akhirnya frustasi dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena tak tahan dengan omongan mereka itu. Maka dari itu pandai - pandai lah kita untuk selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita ucapkan kepada lawan bicara dimana pun dan kapan pun itu. Karena bisa jadi omongan kita itu akan membawa kita kesengsaraan di kehidupan berikutnya. Apa pun itu akan aku coba memaafkan omongan mereka terhadapku ini. Walau sakit tapi aku harus bisa memaafkannya. "Lupa kan semua omongan buruk mereka tentang dirimu. Kamu pasti bisa melupakannya." kata ku mencoba meyakinkan diri ku untuk melupakan omongan orang terhadapku. Next Episode...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN