Pagi pagi sekali selepas sholat subuh, aku sudah memindahkan beberapa perabotan di dapur. Ku kerjakan apa saja yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu luang.
Sejak semalam mataku sulit sekali untuk terpejam. Mungkin akan berlanjut sampai pagi kalau saja tak ku paksa untuk istirahat. Bahkan tanganku ini tak hentinya meraba tiap kali teringat, apakah mas Yoga sudah kembali?
Sayangnya, nihil. Sampai aku terbangun pukul lima tadi, mas Yoga tetap tak ada di sisiku.
"Tumben sekali ini, anak gadis ibu sudah di dapur pagi-pagi."
Ibu datang menghampiri, disusul mbak Rara di belakangnya.
"Iya, deh. Yang udah punya gelar 'istri', pengen masakin sarapan dong, Bu buat suami tercintanya," ledek mbak Rara.
Ibu menyikut lengan mbak Rara, sementara aku hanya tersenyum sekilas. Sedang tidak dalam mood yang bagus untuk bercanda.
"Udah ah, Ra. Jangan ledekin adik kamu terus, mendingan kamu bantuin dia masak sekarang. Kamu mau masak apa, Na?"
Aku menggeleng.
"Belun tahu, Bu."
"Lah, gimana? Kok nggak tahu? Apa makanan favoritnya Yoga?"
Sekali lagi kepalaku bergerak ke kanan lalu ke kiri, berulang-ulang.
"Ya ampun, gimana sih? Gih sana tanya, dia mau sarapan apa?"
Perintah mbak Rara yang buat aku mematung.
Aku belum siap bertemu dengan mas Yoga setelah kejadian semalam.
"Ayo, sana."
Mbak Rara mendorong dengan sadisnya melihat aku yang masih mematung.
Untung saja aku sedang tidak dalam keadaan baik. Kalau tidak, aku bisa pastikan ruang dapur yang semula rapi ini, akan berakhir dengan keadaan mengenaskan, layaknya kapal pecah.
Demi memenuhi keinginan mbak Rara, juga menghindari pertikaian yang mungkin saja terjadi di antara kami, kuturuti saja apa maunya. Walaupun aku tidak bisa menjamin apakah aku masih bisa bersuara ketika sudah berhadapan dengan mas Yoga nanti.
Belum jauh aku berjalan, mas Yoga dengan gagah telah berdiri di depanku. Aroma segar dan wangi tubuhnya memenuhi indera penciumanku pada jarak kurang dari satu depa.
"Emm... Mas, sudah mandi?"
Meskipun sedikit gelagapan, aku harus menyapanya, kan?
"Iya, tadi ada telepon dari rekan kerja. Katanya hari ini aku harus masuk."
"Bukannya mas Yoga masih ambil cuti selama tiga hari ke depan?"
Aku sudah berusaha untuk berbicara se normal mungkin meskipun sulit. Semoga mas Yoga tidak merasakan nada kekecewaanku di dalamnya.
"Iya, memang. Mereka juga ngabarinnya mendadak banget. Ada yang urgent katanya."
Aku mengangguk, coba memahami.
"Mas Yoga mau sarapan apa? Seenggaknya mas harus makan dulu kalau mau pergi."
"Mm ... Nasi goreng aja, deh."
"Oke! Ditunggu, ya," kataku lantas segera balik badan. Setengah berlari aku menuju dapur.
Aku harus menyiapkan sarapan spesial untuk mas Yoga, hitung hitung sebagai ungkapan permintaan maafku padanya soal semalam.
Semoga mas Yoga suka.
***
"Ayo dicoba?"
Aku menunggu mas Yoga mencicipi makanan yang kubuat. Melihat ekspresi wajahnya dengan seksama.
Mas Yoga memasukkan satu sendok penuh nasi goreng buatanku ke dalam mulutnya.
Mengunyah secara perlahan, dengan mimik muka yang sulit kuartikan.
"Gimana?"
Tanyaku tak sabar. Aku sama sekali tak bisa menebak, apa yang ada di pikiran mas Yoga.
Mas Yoga mengambil satu suap lagi, kali ini tak sebanyak sebelumnya. Mengunyah dengan pelan, dengan mata terpejam.
"Enak?"
Cecarku lagi.
"Enak, kok," jawabnya dengan senyuman.
"Beneran?"
"Iya, beneran. Lihat kan nih, aku makannya aja sampai lahap begini."
Mas Yoga mengatakan itu dengan mulut penuh nasi goreng.
Membuat perasaan ku berbunga. Melihat makanan yang kita sajikan di depan suami, disantap dengan lahap. Merasa dihargai itu ternyata rasanya senyaman ini.
Mas Yoga menyelesaikan sarapan nya tak lebih dari sepuluh menit. Nasi goreng di piringnya sudah tandas tak bersisa.
"Terima kasih buat makanannya ya, Nia. Aku harus berangkat kerja sekarang."
Baiklah, memang kami baru saja menikah dan mas Yoga juga sebenarnya sudah melayangkan surat cuti. Tapi, apa boleh buat.
Pekerjaannya sebagai salah satu yang menjabat posisi penting di kantor urusan agama memang sering kali membuatnya tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Kucium punggung tangan mas Yoga yang terulur ke arahku dengan khidmat. Mencari setitik pahala di sana.
"Hati-hati di jalan, mas."
"Iya, Assalamualaikum," ucapnya setelah mencium keningku, lalu beranjak pergi menuju motor matic miliknya yang sudah bertengger di halaman.
Kupandangi mas Yoga yang mulai menjauh.
Ada perasaan haru tiap kali kupandangi wajah suamiku. Tak pernah kusangak, terikat pada hubungan halal bisa seindah ini.
Setiap hari seperti musim semi. Bunga bunga bermekaran. Angin berembus pelan, menerbangkan helai rambut yang tak terikat rapi. Meniupkan kesejukan.
Aku terpesona pada hubungan kami yang baru berusia dua hari.
Lucu, kan?
Memang hal hal baru akan diawali dengan yang indah indah.
Tapi sama sekali masih belum menyangka, bahkan kami yang menikah saat perasaan cinta belum menyapa, rasanya bisa se melegakan ini. Bagaimana mereka yang menikah karena rasa cinta yang mengikat satu sama lain? Pasti sangat indah.
"Nia?"
Aku menoleh.
Mendapati mbak Rara yang berdiri di ambang pintu. Menatapku dengan tangan bersedekap.
"Iya, yang pengantin baru. Sampai rasanya ngelepas buat pergi kerja aja rasanya susah," ledeknya padaku.
"Kayak nggak pernah aja."
Kubalas ledekannya dengan menjulurkan lidah.
"Haha... Sudah lupa."
"Makanya, bulan madu lagi gih, Sono. Terus pulangnya bawa adek buat Naira."
"Tunggu kamu dulu, baru bikin adek lagi."
"Yee... Dikira lagi lomba apa, yah."
Aku dan mbak Rara lalu tertawa bersama.
Ia merangkulku dengan penuh cinta.
"Nggak nyangka, adek mbak yang super manja sekarang sudah nikah," katanya sambil menepuk pundak ku.
"Hehe. Iya, mbak. Do'ain ya."
"Iya, sayang. Pasti mbak do'akan yang terbaik buat kamu dan Yoga. Kalau kamu butuh wejangan atau nasihat apapun soal pernikahan, jangan ragu buat datengin mbak, ya. Gini gini, mbak udah lebih dulu makan asam garam dalam hidup berumah tangga."
"Iya, iya, mbakku yang udah tua."
"Enak aja, tua! Usia matang." Mbak Rara memukul bahuku pelan. Tak terima saat aku menyebutnya tua.
Kemudian mengoreksi panggilannya.
Aku tertawa puas melihat ekspresi yang ditunjukkan mbak Rara.
Namun tiba-tiba, entah kenapa pikiran ku tertuju pada kejadian semalam. Saat mas Yoga lebih memilih untuk tidur di luar daripada menemaniku di kamar.
Dan pikiran itu, sukses merampas raut bahagia di wajahku.
"Hey, ada apa?"
Mbak Rara seakan melihat gelagat ku yang berbeda dari sebelumnya.
Aku hanya menggeleng.
Malu rasanya menceritakan momen malam pertama ku yang gagal bersama mas Yoga pada mbak Rara.
"Ayolah, cerita. Ada apa? Ada sesuatu terjadi semalam?" Desak mbak Rara penuh rasa ingin tahu.
"Nggak ada apa-apa aku sama mas Yoga. Nggak terjadi apa-apa." Aku mencoba tersenyum.
"Nggak terjadi apa-apa. Jangan bilang, kalian?"
Aduh!
Padahal maksud nggak terjadi apa-apa itu, bukan soal yang anu. Tapi, kenapa mbak Rara nangkapnya jadi yang itu, sih!.