Memantaskan Diri

1061 Kata
"Setiap lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Seorang istri, berkewajiban untuk patuh dan taat pada perintah suami, karena ia adalah surga bagimu."  Aku masih sibuk memutar mutar sedotan dalam gelas, hingga tak sadar batu es di dalamnya berubah kecil karena mencair terlalu lama didiamkan.  Masih mendengarkan celotehan mbak Rara.  Setelah lelah hampir seharian berputar menyebar undangan pada kerabat dan sahabat, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah warung makan sederhana.  "Kalaupun nantinya kamu harus tinggal dengan mertua, ya nggak apa-apa. Ibu mertua nggak se horor yang kamu kira."  Aku terkekeh mendengarnya.  "Mbak Rara pikir, aku mau nikah sama bangsa lelembut, apa?"  "Ya bukan gitu. Tahu sendiri rumor di luaran, banyak juga meme-meme yang menggambarkan seolah-oleh ibu mertua itu kejam dan sinis sama menantu perempuan. Rebutan perhatian katanya."  Aku mengibaskan tangan. Tidak setuju dengan pendapat itu.  "Kalau menurut aku sih ya, semua itu bergantung dari si menantunya sendiri. Mertua juga seorang ibu yang melahirkan anak baik perempuan maupun laki-laki, dan anak-anaknya suatu saat juga kelak akan menikah. Dia pasti akan berpikir ulang kalau harus menyakiti hati si menantu, karena sadar anaknya akan berada di posisi yang sama seperti menantunya."  Mbak Rara mengangguk, setuju.  "Paling cuma ujian-ujian dan tes yang di kasih ibu mertua ke menantunya. Bisa masak nggak? Bisa ngurus rumah, nggak? Jangan sampai giliran udah nikah anaknya berubah jadi kurus nggak keurus karena istrinya sibuk dandan, nggak tahu cara pegang panci dan wajan."  Aku jadi ingat ketika kemarin singgah sebentar ke rumah mas Yoga, waktu bu Idah tiba-tiba tanya do'a ketika mendengar suara guntur. Asli aku penasaran, apa motif di belakangnya.  Apakah ini kode, agar aku harus memperdalam ilmu agamaku? "Heh! Kok ngelamun?"  Seru mbak Rara membuyarkan pikiranku.  "Eh, hehee... Enggak, mbak. Cuma lagi mikir aja," sahutku.  "Emang punya?" katanya dan langsung ku balas dengan melempar bulatan d tisu bekas ke arahnya.  "Huh, dasar! Adek sendiri juga, kualat lho!"  Kemudian kami tertawa.  Rasanya menyenangkan bisa kembali akrab dengan mbak Rara, saudara kandungku satu-satunya. Semenjak merantau, hubunganku dengan mbak Rara merenggang, akibat jarang sekali bertukar kabar. Mbak Rara yang disibukkan dengan aktivitas sebagai istri sekaligus ibu bagi satu anaknya, dan aku yang sudah terlalu lelah bekerja, sampai lupa kalau aku juga butuh cerita.  Kehidupanku selama berada di perantauan benar benar monoton dan membosankan. Teman yang aku miliki hanya sebatas teman di dunia maya, tanpa sekalipun bertatap muka dengan mereka.  Cuma Hasan, yang menjadi tempat kukeluhkan segala masalah.  Ah, kenapa denganku ini?  Setiap memori yang kukenang, selalu berujung pada namanya.  *** Suasana rumah pagi ini terasa amat berbeda dari biasanya. Pagi pagi sekali, ibu sudah membangunkan seluruh penghuni rumah dengan suara gaduh berasal dari dapur.  Dan saat keluar kamar, betapa terkejutnya aku begitu kulihat ramai lalu lalang orang dengan segala aktivitasnya masing-masing.  "Pagi, mbak. Baru bangun?"  Seorang lelaki asing dengan segenggam bunga artifisial menyapaku.  Sambil menahan kantuk, aku mengangguk saja. Nyawaku belum sepenuhnya kembali dari dunia mimpi.  "Mbak, ada apa sih?"  Aku menghentikan langkah mbak Rara yang melintas di depanku.  Ibu satu anak itu justru menautkan alis, membuatku bingung. "Jangan bilang kamu lupa, kalau besok adalah hari seserahan kamu?"  Seketika aku meringis, lalu menepuk jidat.  "Ya ampun, aku beneran lupa, mbak. Ini tanggal berapa, sih?" tanyaku, menampilkan wajah polos.  "Tanggal dua, lah. Udah mendingan sekarang kamu mandi, mbak mau ajak kamu pergi ke salon." Aku memerhatikan keadaan sekitar. Pantas banyak orang asing di rumah. Mereka pasti orang orang yang disewa ibu buat dekor rumah.  Lima belas menit cukup buat aku mandi dan bersiap, untuk pergi ke salon. Memenuhi ajakan mbak Rara.  Malas sebenarnya kalau harus menghabiskan waktu di tempat 'permak'nya ciwi-ciwi itu. Tapi mau bagaimana, kata mbak Rara aku harus ke sana biar besok saat acara aku terlihat lebih fresh dan makin cantik.  Sudah hampir setengah jam aku menunggu di dipan depan rumah, menunggu mbak Rara yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.  "Maaf, Nia. Kayaknya mbak nggak bisa anter kamu ke salon, deh. Itu, bapaknya Tiara tiba-tiba ngajak mbak pergi ke rumah saudara. Ada yang sakit katanya."  Mbak Rara datang membawa kabar itu. Wajahnya terlihat muram mungkin merasa tidak enak karena sudah membatalkan janji yang dia buat sendiri.  "Ya udah, mbak. Nggak usah ke salon, ya?" tawarku.  "Eh, jangan, dong! Kamu harus ke sana. Nanti biar mas Dio yang antar kamu ke sana, sebelum kami pergi, ya?"  "Tapi, mbak..."  "Nggak pake tapi, Nia. Kamu harus ke salon sekarang."  Akhirnya aku nurut saja, daripada makin panjang urusan. Entah kenapa hari ini aku lagi malas berdebat.  Menggunakan sepeda motor keluaran lama milik suami mbak Rara, aku dan mas Dio sampai di salon, sepuluh menit kemudian.  Papa muda itu menurunkan aku di parkiran depan bangunan dengan nuansa pink. "Mas Dio tinggal, ya. Nanti kamu bisa kan pulang sendiri?"  "Iya, mas. Tenang aja, banyak ojek online juga sekarang." "Iya, hati-hati ya, di jalan pulang nanti. Harus tetap waspada," pesannya sebelum menyalakan mesin motor.  "Iya, mas Dio. Makasih, udah mau anterin Tania."  Setelah melambaikan tangan, aku lantas berbalik hendak memasuki salon. Namun entah bagaimana, tiba-tiba saja seseorang melintas di depanku, membuat kami bertabrakan kemudian terjatuh.  "Aduh... maaf, mbak," kataku sambil memunguti lembaran kertas miliknya yang terjatuh dan berserak di tanah.  "Iya, mbak. Nggak apa-apa, aku juga yang salah."  Perempuan itu turut memunguti barang bawaannya.  Sekilas aku melihat perempuan di depanku. Betapa sempurnanya dia sebagai seorang wanita. Pakaian yang menutupi aurat, hijab lebar menjuntai, juga senyum yang mengembang di wajahnya.  Seketika perasan iri itu muncul di hati. Iri melihat seseorang yang begitu taat mematuhi perintah-Nya.  Berbeda jauh dengan aku yang masih saja nyaman berpakaian ketat, memperlihatkan lekuk tubuh. Rambut hitam panjang kebanggaan yang kubiarkan tergerai.  Ah, aku jadi merasa bersalah pada calon suamiku.  Aku biarkan lelaki lain melihat yang seharusnya hanya dia yang menatap. Aku merasa malu pada diriku sendiri, yang bertemu dengannya di saat diri ini belum bisa menjaga aurat.  Aku malu, karena Tuhan mempertemukan aku dengan jodohku di saat diri ini masih jauh dari kata sempurna.  "Makasih ya, mbak. Udah bantuin aku kumpulin kertas-kertas ini." Suara lembut perempuan itu membuyarkan lamunanku.  "Iya, mbak. Sama-sama. Sekali lagi, aku minta maaf ya mbak, udah nabrak mbak tadi."  Dia lantas pamit pergi setelah kami saling bertukar senyum.  Sekilas aku memandang nama salon yang bertengger indah di atas pintu kaca. Langkahku terhenti, sejenak berpikir.  Untuk apa aku sibuk mempercantik fisik tapi, dalam hatiku masih banyak noda di dalamnya.  Seharusnya aku memantaskan diri bukan hanya penampilan tapi juga kelakuan.  Sekali lagi aku memilih langkah mundur. Mungkin bukan salon ini yang aku butuhkan.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN